Register

Log in

StatPress

Visits today: 24
Total: 19922 since June 12, 2008
Es Ito's Facebook profile

ES ITO Twitter

Atas Petunjuk

by e.s. ito ~ November 1st, 2009

getty_finger_pointingSepuluh tahun setelah transisi orde yang berjalan dengan cepat, tentara berwajah galak menyerbu kampus. Anak-anak muda dipaksa untuk berhenti berbicara. Mereka diberi kuliah yang besaran kreditnya melebihi mata kuliah apapun, kuliah tentang cara melihat dan menerima begitu saja. Biarkan orang-orang tua yang mengurus negara, mahasiswa cukup menyaksikan tanpa perlu berkomentar. Pers boleh menulis berita, tetapi berita baik senantiasa harus keluar dari mulut penguasa dan yang buruk-buruk tentu kealpaan rakyat yang tidak mengerti apa-apa. Pada tahun 1978, tepat sepuluh tahun setelah orde yang lama benar-benar terhapus, orang-orang mulai takut berbicara, bayonet terhunus di gerbang kampus, sensor dan bredel jadi cap pos media-media dan tentu saja subversif menjadi menu wajib polisi dan tentara.

Siapakah yang membayangkan sepuluh tahun sebelumnya, keadaan akan menjadi seperti ini. Pada tahun 1968, mereka percaya, seorang anak desa sederhana bisa dipermanenkan kedudukannya menggantikan Pemimpin Besar Revolusi yang penuh ambisi. Seorang putera desa berbaju tentara, bayangkanlah, tiada amarah yang dibawanya tidak pula besar ambisi kuasa. Pada masa itu orang-orang demam dengan tentara berwajah kalem (dan diam-diam melakukan pembunuhan) sembari di muka umum tersenyum dan berkata, kita perlu stabilitas untuk pembangunan. Dia melangkah maju. Pada awalnya suara-suara bebas berkelana, kritik belum menjadi suatu hal yang tercela serta orang-orang tua masih didengarkan. Dia paham akan demokrasi, pemilu diselenggarakan dan pada saat pemenang diumumkan, bukan partai tetapi golongan yang memenangkannya. Ah, betapa rakyat jatuh hati padanya, mereka sudah alergi dengan partai-partai yang berkelahi sepanjang masa demokrasi parlementer. Dan sekarang sebuah golongan pekerja yang memenangkannya, alangkah ajaibnya anak desa yang satu ini. Pembangunan mesti DILANJUTKAN, kita tidak boleh membiarkan anak desa ini pergi begitu saja. Dia terpilih kembali, tentu dia tidak ingin jadi presiden seumur hidup (kecuali rakyat menginginkan dengan sedikit atas petunjuk). Continue reading »

  • Share/Bookmark

Abu

by e.s. ito ~ October 25th, 2009

ashBohong tidak lagi menjadi syakwasangka. Lihatlah, dia telah menjelma menjadi sesuatu yang nyata. Hal-hal benar yang keluar dari mulut, pahit berduri dan tidak mendapat tempat dalam realita. Inilah yang aneh tetapi tidak baru dalam dunia yang semakin sempit. Pada saat kau berbohong, orang-orang menerimanya karena jelas mereka menyukainya. Dan kau terus berbohong, hingga batas dimana orang-orang bosan dan berkata, “enyah sudah, kami tidak lagi bisa tertawa dengan alasan yang sama”. Lalu kebenaran itu datang tanpa diundang, menusuk perih. Membawa kesadaran yang selama ini hilang dibekap angan, kau sebenarnya hidup sendirian. Tidak ada yang membutuhkan, tiada yang menunggu dan tiada pula yang menanti kau di ujung sana. Lihatlah abu yang diterbangkan angin, tiada tempat yang mau menerima kecuali sementara.

Ada perhentian tanpa tempat menunggu. Kau tetap percaya seseorang akan singgah dari jauh sana. Ada keyakinan fiktif yang terus kau pelihara. Dia akan berhenti walaupun sendiri. Kau akan mendengarkan suaranya walaupun satu kata. Dia akan menatapmu sebagaimana kau mengimpikan tentang orang-orang yang membutuhkanmu. Berbatang-batang rokok memenuhi jalanan membentuk bukit kecil kemalangan. Bertumpuk-tumpuk harapan tetapi punah oleh kehampaan. Inilah hal nyata yang selama ini tidak pernah kau perhatikan, pada kenyataannya tidak seorang pun yang pernah berjanji padamu. Tidak satu yang fana pun menitipkan harapan padamu, kecuali kau menciptakannya dalam imajinasi. Janji dan harapan adalah pengikat kehidupan. Masihkah ada artinya kehidupanmu bila tidak seorang pun menitipkan sesuatu padamu. Abu-abu terbang mencari tempat, tanpa ada yang menanti. Continue reading »

  • Share/Bookmark

Sepi

by e.s. ito ~ October 20th, 2009

lonelyInilah cerita tentang orang-orang yang kesepian. Duduk di ranting paling tinggi, tanpa dahan penyangga dan pohon yang menjadi tiangnya. Dia menatap jauh ke depan, tiada pemandangan tidak pula ada pengharapan. Dia memandang ke bawah tiada dasar tanpa jurang yang menganga. Di atas ranting paling tinggi dia bergelayutan penuh kekhawatiran tetapi tanpa rasa takut. Beginilah bila hidup tanpa ketakutan, yang ada hanya tawa. Sebab sebagaimana ucap Jorge yang buta, “tawa membunuh ketakutan. Tanpa rasa takut tidak akan ada Tuhan”. Dan inilah ucapku, tanpa Tuhan, ranting-ranting akan terus meninggi tanpa dahan penyangga dan pohon yang menjadi tiangnya. Continue reading »

  • Share/Bookmark

Cicak di mulut Buaya

by e.s. ito ~ October 12th, 2009

cicak-vs-buayaCicak bersendawa di mulut Buaya,

maka terbongkarlah semuanya……

Rimba raya dilanda gelisah, maka bertitahlah sang raja,

“karena angkara mulai merajelela di rimba raya. Tenaga-tenaga baru diperlukan untuk memulihkan keadaan. Tenaga-tenaga yang bebas dari kepentingan mangsa dan pemangsa, bebas dari keinginan kecuali memusnahkan sumber malapetaka. Maka aku titahkan kepada cicak untuk membereskan sumber malapetaka”

“Loh, kok cicak?”, tanya para binatang.

“Bukankah hanya cicak yang lihai menangkap nyamuk”, jawab sang raja dengan puasnya.

Tidak ada jawaban kecuali ingatan. Memang benar, nyamuklah sumber malapetaka di rimba raya selama ini. Pada awalnya para binatang membiarkan nyamuk menghisap darah mereka, dengan harapan toh nyamuk-nyamuk itu hidupnya tidak akan bertahan lama. Lagipula, bukankah sudah hukum alam memang demikian cara nyamuk menghidupi dirinya. Tetapi lama kelamaan nyamuk berkembang dengan dahsyat, bangsa drakula itu pun semakin rakus. Kekacauan mulai terjadi. Nyamuk tidak mampu menembus kulit gajah, mereka masuk ke dalam kuping hingga merusak otaknya. Gajah menjadi gila, melanda apa saja. Berlari menghancurkan tiap pohon yang ditemui. Nyamuk tidak berani memandang seringai sang macan, maka diam-diam mereka masuk lewat lubang anus. Merusak pencernaan. Macan loreng yang menjadi balatentara penjaga rimba dibikin mandul dan lemas. Tidak kuat lagi berlari menjaga batas dan kedaulatan. Nyamuk menggerogoti tubuh kijang dan rusa, menghisapnya berjamaah sehingga hancurlah rantai bisnis rimba raya. Rumput semakin meninggi, binatang-binatang mencari tempat yang tinggi menghindari nyamuk tetapi di atas sana mereka kesulitan menyambung hidup karena yang tersedia hanya lumut nan lembab. Continue reading »

  • Share/Bookmark

Konok

by e.s. ito ~ October 9th, 2009

gempaSuatu waktu, Konok kecil pernah bercita-cita menjadi tentara. Di kampung halamannya, Pariaman, tentara adalah orang terpandang. Tentu saja dia ingin menjadi CPM, sebab bukankah CPM itu polisinya tentara.  Di kampungnya, semenjak tentara pusat pergi, hanya satu orang yang menjadi tentara, Tuan Paroloh. Perawakannya tiada beda dengan orang kebanyakan. Tetapi karena menurut desas desus dia pernah membunuh orang di Timor Timur, maka dia layak untuk ditakuti. Pangkatnya Prajurit Kepala dan itu tidak pernah berubah hingga dia pensiun. Kata orang, Tuan Paroloh suka melawan atasan, itu sebabnya sepanjang 30 tahun karir ketentaraannya, ia hanya naik pangkat dua kali. Tetapi siapa peduli, yang penting dia tentara. Kalau dia bicara di lapau, tiada yang berani memotong. Kalau ada perselisihan, Tuan Paroloh ringan tangan menampar. Kalau anak kemenakannya dan orang sapasukuannya ada yang mengganggu, Tuan Paroloh tinggal datang menodongkan senjata. Menjadi tentara akan membuat Konok terpandang. Kerabatnya di rantau yang berdagang nasi tentu akan memajang foto-fotonya dengan pakaian dinas CPM di rumah makan mereka. Dia akan memelihara kumis, membuatnya terpilin biar dia makin disegani.  Tentara bisa mengakhiri kehidupan seseorang dan beberapa orang. Tetapi bisakah tentara menjaga kehidupan, mencegah tanah bergoyang dan menghentikan longsoroan tebing yang mengubur kampungnya? Konok diam sebatang kara. Continue reading »

  • Share/Bookmark

Kata dan Angka

by e.s. ito ~ October 5th, 2009

Disampaikan dalam Temu Mahasiswa Nasional, Makassar 4 Oktober 2009

numbersSaya berasal dari negeri Kata-Kata. Kami menyambut kehidupan dengan kata-kata, sama panjangnya dengan ucapan perpisahan yang kami sampaikan pada saat melepas mayat di liang lahat. Orang-orang tua kami menyampaikan maksud lewat pasambahan, merundingkan keinginan lewat kata-kata indah penuh dengan rima. Alam terkembang menjadi guru, penitahan kata harus ditimbang dari hulu. Bermula dari sarasah pegunungan Bukit Barisan, bermuara di pantai barat Samudera Indonesia; kata mengalir membentuk riam, tebing dan delta peradaban Minangkabau. Kami tidak memandang sastra begitu istimewa sebab sastra bagi kami adalah parade kata yang telah mengakar jauh dari zaman leluhur dulu semenjak mereka sadar, sebuah muslihat kata lebih berharga dari tombak dan panah. Itu sebabnya di negeri kami, sebuah kata bisa membunuh tanpa menumpahkan darah, sebagaimana ia bisa mendatangkan pengharapan dan kehidupan.

Saya tidak sedang berkata-kata dengan bangga, tetapi inilah ratapan saya untuk kampung halaman yang tengah ditimpa bencana. Gempa telah memporak-porandakan semua yang telah dibangun, setiap kehendak dan karya. Di kampung halaman saya, dalam hari-hari yang terus mengikis harapan ini, kata-kata telah berganti dengan angka. Pada setiap puing dan reruntuhan angka terus mencacah tiap raga yang tidak lagi mampu berkata-kata. Inilah hadiah yang kita tidak pernah inginkan, justru pada saat kemenangan lahir bathin didapatkan pada bulan yang suci. Dalam perasaan kehilangan mendalam dan kegetiran menunggu kabar dari mereka yang hilang, saya tetap hadir di Makassar ini dengan satu keyakinan bahwa; kita bisa mulai membangun harapan dengan kata, mengerjakannya penuh cinta dan menyelesaikannya tanpa jumawa. Continue reading »

  • Share/Bookmark

Indonesia Yang Sama

by e.s. ito ~ August 20th, 2009

garuda02untuk Bernardia Vitri

Kita hidup sebangsa dan senegara, Indonesia, tetapi semakin sedikit alasan untuk terus berjuang demi bangsa dan negara. Kita lebih banyak menghadapi tanda tanya dibandingkan tanda-tanda yang nyata. Atas nama bangsa, kekuasaan bisa merampas apa saja. Demi kepentingan negara, manusianya justru terpinggirkan. Urusan-urusan sederhana orang kaya bisa merampas hidup kaum tidak berpunya. Permasalahan bangsa adalah sesuatu yang tidak perlu dipecahkan negara. Sebab bila bangsa tidak bermasalah, apa gunanya negara? Demikianlah titah dari istana. Jadi bila sekarang kau ingin berjuang? Tunjukkan satu alasan yang masuk akal. Apa yang hendak kau bebaskan, siapa yang hendak kau selamatkan dan Indonesia macam apa yang kau impikan. Inilah pertanyaan sederhana yang diwariskan sebagai kutukan generasi. Bila kau mampu menjawabnya, bersiaplah menjadi tawanan kegelisahan.

Continue reading »

  • Share/Bookmark

TEMARAM

by e.s. ito ~ August 14th, 2009

writeUntuk I.Y.M-koe di MCT

Tuliskanlah sesuatu untukku, demikianlah pintamu padaku. Setelah hampir dua tahun, kau mungkin berpikir bahwa inilah tulisan pertamaku untukmu. Walaupun sebenarnya cerita tentangmu dan tentang kita telah lama sekali aku tuliskan lewat huruf yang tidak mengenal rupa dan kata yang tidak berujung lafal. Bila sekarang aku menulis untukmu, bukan saja karena engkau memintanya tetapi karena huruf dan kata tidak mampu lagi membendung rindu. Ada jarak yang membuatmu gelisah; tetapi bukankah karena jarak rindu itu datang. Ada waktu yang tidak berdamai; tetapi aku percaya, perang melawan waktu adalah isyarat kemajuan. Pada jarak yang memisahkan dan waktu yang beririsan, aku menulis untukmu.

Continue reading »

  • Share/Bookmark

107 Tahun Bung Hatta ; Begini Inilah Kami, Bung!

by e.s. ito ~ August 10th, 2009

bunghattawebTugas sejati para pecundang adalah mengenang. Itulah bakti terbaik yang bisa kami berikan pada penyuluh zaman. Lainnya, kami hanya menghabiskan waktu untuk cita-cita pendek dalam rentang usia yang terus memanjang. Kami yang hidup sekarang, tidak mau mempersulit diri untuk hal-hal yang berada di luar kepentingan pribadi. Yang kami butuhkan hanyalah kehidupan yang normal; rumah, mobil, tabungan lebih dari cukup, anak-anak yang bersekolah internasional dimana pelajaran sejarah dihapuskan, istri dan kalau bisa dua atau tiga orang simpenan mahasiswi. Itulah kehidupan yang sebenarnya Bung, bukan jenis impian muluk-muluk yang kau miliki. Dan coba bayangkan; mana mungkin kami mau membujang sebagaimana kau hingga usia 43 tahun hanya demi cita-cita Indonesia merdeka? Hahaha Bung, di zaman sekarang ini, kami akan mencurigaimu menyukai sesama jenis.

Continue reading »

  • Share/Bookmark

Sebatang Lisong Untuk Mas Willy

by e.s. ito ~ August 7th, 2009

Menghisap sebatang lisong, tetapi kita tidak lagi bisa melihat Indonesia Raya dan tiada mampu lagi mendengar suara dari 250 juta rakyat; sementara para cukong, dan bukan 2-3 orang lagi, terus mengangkang berak di atas kepala mereka. Mas Willy, ini Lisong yang berbeda tetapi dalam kemuraman yang sama. Anak-anak SLA masih terus mengobel klentit ibu gurunya. Lulusan SLA semakin banyak yang tidak sanggup melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Sementara ilmu yang mereka dapatkan tidak kunjung mampu memecahkan persoalan kehidupan. Kita masih terus membeli rumus-rumus asing tanpa pernah bisa merumuskan keadaan dengan cara kita sendiri. Inilah gambaran nyata dari persoalan serupa. Atas nama demokrasi, hak azasi bisa dikurangi. Yang penting sekarang bukanlah, apatah pembangunan berjalan sebagaimana rencananya tetapi apatah demokrasi sudah bisa meniru tingkah polah Paman Sam sana.  Maksud baik semakin dicurigai, Mas Willy. Dan bila maksud baik itu terlaksana, orang akan bertanya; saudara bekerja untuk siapa dan keuntungan macam apa yang saudara terima. Inilah yang lama dan baru di jagad kehidupan Indonesia Raya, sama, serupa; hanya saja kita menghisap lisong yang berbeda.
Continue reading »

  • Share/Bookmark
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes