<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>E.S. Ito</title>
	<atom:link href="http://esito.web.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://esito.web.id</link>
	<description>Discover Nation Through History</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Mar 2010 13:45:30 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Teroris Memahami Rezim ; Catatan Tidak Lazim</title>
		<link>http://esito.web.id/2010/03/teroris-memahami-rezim-catatan-tidak-lazim/</link>
		<comments>http://esito.web.id/2010/03/teroris-memahami-rezim-catatan-tidak-lazim/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 13:45:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>e.s. ito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Guru Uban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esito.web.id/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[Mati, tertangkap, dieksekusi sudah seringkali terjadi. Itu tidak akan pernah membuat kita berhenti, sebab bukankah itu yang selama ini kita cari? Kebebasan kita tidak ditentukan oleh udara segar yang dihirup tetapi oleh wangi kesturi. Barangkali dalam hal-hal seperti itu kita tidak perlu berdebat lagi. Kita adalah hantu bagi kehidupan, tamu suci bagi yang telah mati. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mati, tertangkap, dieksekusi sudah seringkali terjadi. Itu tidak akan pernah membuat kita berhenti, sebab bukankah itu yang selama ini kita cari? Kebebasan kita tidak ditentukan oleh udara segar yang dihirup tetapi oleh wangi kesturi. Barangkali dalam hal-hal seperti itu kita tidak perlu berdebat lagi. Kita adalah hantu bagi kehidupan, tamu suci bagi yang telah mati. Semua kebencian yang terarah pada kita adalah kemuliaan yang tidak pernah berusaha mereka baca. Masalah itu juga, jauh-jauh hari kita sudah sepakati. Tetapi kita mesti berhenti sejenak, ada perhitungan yang terlewatkan. Terkadang dalam ukuran duniawi, beberapa nyawa telah terenggut dengan sia-sia. Itu sebabnya saya menuliskan catatan tidak lazim ini dalam rangka membaca sebuah rezim.</p>
<p>Kita telah bertahan di tengah gelombang kematian. Bukan saja karena kita terlatih dan bersiap diri. Tetapi mungkin karena mereka tidak sungguh-sungguh mencari. Ada ruang yang senantiasa tersisa untuk kita lari dan bersembunyi. Mungkin saya salah, tetapi rasa-rasanya keberadaan kita juga penting bagi mereka. Kita terpelihara oleh kepentingan. Kita mendayung di antara dua karang, antara idealisme kita dan pragmatisme mereka. Bila kita tiada, kerja mereka tidak akan menuai jasa. Bila kita habis, maka mereka akan mudah terkikis. Ini adalah permainan kematian yang menimbulkan candu tersendiri. Kita harus berhitung dengan hati-hati, bukan karena kita takut mati. Tetapi karena seringkali kita terlalu nyaman dalam persembunyian dan cenderung merasa aman dalam berhubungan. Tiba-tiba kita dikejutkan dengan berita penyerbuan layaknya panen dari kebun yang mereka lupakan. Mereka tidak hendak memburu kita pada saat yang kita takutkan, tetapi mereka memburu pada saat dibutuhkan. Siapa yang membutuhkan? Tentu mereka yang senantiasa lari dan menghindar menunggangi isu.<span id="more-308"></span></p>
<p>Saatnya kita memasang rambu, karena kita sudah bisa membaca isu. Bila suhu politik memanas, seseorang akan tersudutkan. Dia tidak akan menyelesaikan masalah tetapi mencari masalah baru yang akan meniadakan tudingan. Kenyamanan kita dalam bergerak ternyata tidak semata-mata tercipta dari ramuan kita yang canggih tetapi juga dari suhu politik yang menentukan kematangan. Bila suhunya dingin, bahkan kita tidak perlu bersembunyi untuk bergerak. Bila suhu politik memanas, kita sudah bersembunyi di ujung bumi pun akan mereka cari. Mereka akan datangkan pasukan lengkap dengan senjata dan pena. Senjata untuk mengakhiri kita, pena untuk mengabarkannya. Sehingga masalah-masalah menghimpit yang menyudutkan bisa diatasi tanpa perlu diselesaikan. Karena kita mengancam kita bisa dijual. Karena kita menakutkan, maka masalah lain terasa ringan dan pantas dilupakan. Kita telah mengalaminya berulangkali, seharusnya kita belajar membaca situasi.</p>
<p>Bisnis kematian memang menggiurkan. Teror sebagaimana tindakan yang dialamatkan kepada kita, penting untuk memelihara ketergantungan manusia terhadap penguasa. Kita harus sadar diri, gerak dan tindakan kita mungkin sering ditunggangi. Bila sudah begini, semakin panjang jalan bagi kita untuk mencium wangi kesturi. Kita bisa memutuskan untuk berhenti sama sekali atau pindah ke lain negeri. Sebab disini ternyata mereka lebih canggih menghadapi. Ketimbang memadamkan kita dengan senjata, mereka memelihara kita di dalam kesempatan-kesempatan yang mereka ciptakan sendiri. Kita merencanakan peledakan, mereka bebas menentukan penyerbuan. Bila sudah begini, bukannya lebih baik bila kita berhenti sama sekali. Negeri ini bukan lagi tempat yang nyaman untuk mengembangkan karier dan reputasi. Setiap ketakutan yang kita munculkan hanya dijadikan alasan untuk menimba keuntungan. Keberadaan kita terpelihara sebab sewaktu-waktu berguna bagi mereka untuk menciptakan suasana.</p>
<p>Setelah saya membaca rezim, saya mendapatkan kesimpulan yang tidak lazim. Bahwa ternyata kita tidak lagi berkuasa dalam tindakan dan cita-cita. Sebab pada saat mereka bebas menentukan maka ketakutan tidak akan pernah lagi menjadi teror. Daripada menjadi teroris banci lebih baik kita tinggalkan negeri ini.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fesito.web.id%2F2010%2F03%2Fteroris-memahami-rezim-catatan-tidak-lazim%2F&amp;linkname=Teroris%20Memahami%20Rezim%20%3B%20Catatan%20Tidak%20Lazim"><img src="http://esito.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esito.web.id/2010/03/teroris-memahami-rezim-catatan-tidak-lazim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Untuk Umar Bakrie di Istana</title>
		<link>http://esito.web.id/2010/03/surat-untuk-umar-bakrie-di-istana/</link>
		<comments>http://esito.web.id/2010/03/surat-untuk-umar-bakrie-di-istana/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 11:57:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>e.s. ito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Guru Uban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esito.web.id/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[Dulu, mereka memperkenalkanmu sebagai seorang guru. Tampil dalam iklan televisi penuh malu-malu. Lantas dengan perasaan penuh haru biru, rakyat memilihmu dalam Pemilu. Inilah berkah dari demokrasi dimana iklan tidak melayani masyarakat tetapi penguasa. Kita boleh bertanya tetapi tidak boleh menentukan. Lalu tiba-tiba kau mendapati dirimu duduk di atas singgasana tanpa mampu bergerak dan berkehendak. Sekarang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu, mereka memperkenalkanmu sebagai seorang guru. Tampil dalam iklan televisi penuh malu-malu. Lantas dengan perasaan penuh haru biru, rakyat memilihmu dalam Pemilu. Inilah berkah dari demokrasi dimana iklan tidak melayani masyarakat tetapi penguasa. Kita boleh bertanya tetapi tidak boleh menentukan. Lalu tiba-tiba kau mendapati dirimu duduk di atas singgasana tanpa mampu bergerak dan berkehendak. Sekarang kau tentu baru menyadari, ternyata di istana dan desa, nasib Umar Bakrie sama saja ; tidak berdaya di hadapan atasan dan hilang rasa hormat dari murid-muridnya yang sok jagoan.</p>
<p>Pak Guru, sudahlah, kau telah kehilangan muka. Di hadapan murid-murid TK kau tidak mampu menjawab tanya, diam seribu bahasa. Menjawab tidak tahu menghindar tanggung jawab. Menebar senyum lembut mengharap empati. Ini dunia yang berbeda Pak Guru, bukan ruang kelas yang sesak oleh murid dan mahasiswa. Di dunia yang luas ini, keteladanan tidak cukup disampaikan lewat kata-kata tanpa perlu diperiksa kebenarannya. Percuma kau berbicara tentang menghabiskan sisa usia demi republik ini. Atau betapa air matamu menetes kala Indonesia Raya berkumandang. Sudahlah Pak Guru, ini dunia yang berbeda dimana kami lebih banyak tidak percaya daripada bertaklid buta. Kata-kata pengbdian, demi rakyat, Indonesia Jaya biasanya kami masukkan ke dalam tong sampah bila itu keluar dari mulut penguasa. Pak Guru sudahlah, baiknya kau pikirkan usia pensiun.</p>
<p>Aku berbicara padamu, Pak Guru, bukan karena cinta atau simpati. Aku hanya ingin berbicara, itu saja. Baiknya kau pikirkan saja ini, empat puluh tahun mengabdi nasibmu sungguh berbeda dengan Umar Bakrie. Segala fasilitas pernah kau nikmati, bukan sekedar sepeda kumbang layaknya Umar Bakrie. Gajimu pun tidak pernah dikebiri, malah kau mendapatkan tunjangan akhir jabatan yang melambungkan kekayaanmu hingga 28 milyar lebih. Empat puluh tahun mengabdi menjadi pegawai negeri, kau telah mengubah tragedi Umar Bakrie menjadi sebuah fantasi. Pak Guru, sebenarnya apalagi yang kau cari. Bila kau tidak begini, maka tiada pernah kau akan menerima caci maki. Coba pikirkan baik-baik, ini saat yang tepat untuk pensiun. Rasa-rasanya mengundurkan diri jauh lebih mulia ketimbang bertahan di tengah kekeringan penghormatan.</p>
<p>Pak Guru, sebaiknya kau berhenti hingga disini. Bukan karena kau tidak cakap, kau hanya tidak tanggap. Bukan karena kau tidak pandai, kau hanya tidak bijak. Bukan karena kau tidak berdaya, kau hanya tidak bertanggung jawab. Bukan karena kau sudah tua, kau hanya mudah lupa. Bukan karena kau tidak berani, kau hanya terlalu sering menghindari. Bukan karena kau plin plan, kau hanya salah memilih pasangan. Bukan karena kami tidak suka, kau hanya tidak mempesona. Bukan karena kami tidak segan, kau hanya membosankan. Dan tentu bukan karena kami menuntut pengorbanan, hanya saja kami sudah bosan dengan kekuasaan yang penuh dengan kepalsuan. Kami menghormatimu sebagai seorang guru, tetapi sayang, ruang kelas ini terlalu luas untuk kau kendalikan. Sebagaimana kami menghormati seorang tentara, sayangnya tidak layak dijadikan komandan karena senantiasa gemetaran mengambil keputusan.</p>
<p>Pak Guru Umar Bakrie di dalam istana Fantasi, berhentilah. Banyak cara menghabiskan usia pensiun dan itu bisa jadi lebih membahagiakan. Banyak jalan pengabdian, apa kau tidak bosan 40 tahun mengabdi dengan cara yang sama. Dunia baru terbentang untukmu, jauh lebih baik dan jauh lebih berharga. Tetapi bila surat ini tidak kau tanggapi, jangan salahkan bila murid-murid sekolah dasar belajar mengeja dengan cara berbeda :</p>
<p>Ini Budi</p>
<p>Ini Wati</p>
<p>Budi dan Wati pergi ke Century</p>
<p>………………………………</p>
<p>Kemanakah Budi dan Wati pergi setelah dari Century?</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fesito.web.id%2F2010%2F03%2Fsurat-untuk-umar-bakrie-di-istana%2F&amp;linkname=Surat%20Untuk%20Umar%20Bakrie%20di%20Istana"><img src="http://esito.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esito.web.id/2010/03/surat-untuk-umar-bakrie-di-istana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demarkasi</title>
		<link>http://esito.web.id/2010/02/demarkasi/</link>
		<comments>http://esito.web.id/2010/02/demarkasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 06:52:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>e.s. ito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Guru Uban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esito.web.id/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Mereka terhenti di garis demarkasi. Gerilya menahan sabar dalam terpa hujan ketidakpastian. Di depan mereka gelap kubu lawan tanpa kilau senapan. Perundingan terhenti di tengah jalan, mereka sudah maju terlalu jauh. Tidak ada kata kembali, itu sebabnya mereka disebut prajurit sejati. Bila esok mentari masih mereka dapati seharusnya mereka tidak lagi disini. Mereka sudah harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mereka terhenti di garis demarkasi. Gerilya menahan sabar dalam terpa hujan ketidakpastian. Di depan mereka gelap kubu lawan tanpa kilau senapan. Perundingan terhenti di tengah jalan, mereka sudah maju terlalu jauh. Tidak ada kata kembali, itu sebabnya mereka disebut prajurit sejati. Bila esok mentari masih mereka dapati seharusnya mereka tidak lagi disini. Mereka sudah harus menembus garis demarkasi. Pemisah yang sempat terucap dalam kata damai. Tetapi sekarang tiada garis kan mengatasi, tiada badai peluru kan menghalangi, mereka harus maju. Gerilya menyatu dengan dedaunan, hijau mewarna tanpa suara.</p>
<p>Perwira muda belia bersisian dengan perwira tua penuh lencana. Dengan pasukannya, perwira muda telah membuka jalan sejauh ini. Mereka sudah bertempur sebagaimana mereka diajarkan cara berperang. Terkadang mereka maju dengan cara mereka sendiri, gaya anak muda. Seringkali pula langkah mereka tertahan, menyesuaikan dengan yang tua. Laju yang muda tidak boleh terlalu menderu, sebab pengalaman yang tua mengatakan, kita harus menjaga kehormatan dari lencana-lencana yang bertahta di dada ini. Perwira muda patuh pada perintah, walaupun terkadang pengalaman seringkali tidak berdaya menghadapi zaman yang terlalu cepat berubah ini. Bagi perwira muda, bertempur sisi menyisi dengan perwira tua penuh lencana sudah menjadi suatu kebanggaan. Dia belajar sambil berperang. Dia melindungi yang tua sembari meregup nikmatnya ilmu pengetahuan.<span id="more-302"></span></p>
<p>Tepat di depan garis demarkasi laju mereka terhenti. Mereka tiada kekurangan amunisi, moril juga masih sangat tinggi. Di bawah beringin tua, perwira tua memanggil yang muda. Sebagaimana kebiasaan orang tua yang lebih sering ditimpa kekhawatiran ketimbang menaruh harapan, dia bercerita tentang masa lalu bukan masa depan. Dia menganggap bahwa ini adalah zaman yang sama dimana keberhasilan semuanya ditentukan oleh pengalaman. Bahwa kecakapan saja tidak cukup, kemauan saja apalagi. Bahwa semangat yang muda haruslah menyesuaikan dengan kenyataan mereka belum pernah berbuat apa-apa. Kesempatan untuk yang muda selalu terbuka, tetapi nanti dulu, usia kalian masih terlalu muda tidak pantas untuk mendapatkan semuanya begitu saja. Panjang dia bercerita hingga jangkrik lelah mengiringinya.</p>
<p>Perwira muda perlahan mulai menangkap maksud perwira tua penuh lencana. Ya, dia telah berbuat sebisanya. Memimpin pasukan membuka jalan untuk capaian lebih besar. Mengorbankan sesuatu yang bahkan tidak pernah dia bayangkan. Dia telah melayani perwira tua layaknya rasa cinta dan hormat seorang anak kepada bapak. Tetapi beginilah kenyataannya, bahkan di hutan rimba gerilya dimana keputusan mesti cepat dilakukan, orang-orang tua masih bersenandung tentang masa lalu. Sesuatu yang pantas untuk dipelajari tetapi belum tentu sesuai dengan kehendak zaman. Pada saat jangkrik sudah menyerah kalah, perwira tua berujar, “di depan sama terbentang zona gelap. Kau belum berpengalaman memasukinya, sebagaimana aku juga belum pernah memasukinya. Tetapi tanggung jawab pertempuran ini ada di kepalaku. Aku harus memutuskan, kau tidak bisa bisa memimpin pasukan mu maju. Aku harus mencari seorang perwira berpengalaman yang pernah berada di zona gelap itu”</p>
<p>Hormat dan cinta ternyata tidak sebanding dengan kepercayaan. Anak-anak muda dituntut untuk maju dan terus belajar. Pada mereka dititipkan segudang harapan, bahwa kelak pada masa damai, keadaan akan jauh lebih baik. Tetapi perwira muda ini bertanya-tanya, bagaimana pertempuran bisa dimenangkan apabila kepercayaan tidak diberikan. Kenapa anak muda harus dituntut pada saat kesempatan itu menjadi sangat langka. Orang-orang tua lebih percaya kepada mereka yang tidak dikenal tetapi memiliki reputasi yang sebenarnya mesti dipertanyakan. Mereka percaya bahwa bahkan seorang mantan musuh yang mengenal zona gelap jauh lebih berharga dibandingkan seorang perwira muda yang tidak pernah takut akan gelap. Inilah harga yang mesti dibayar oleh setiap harapan di negeri ini. Anak muda harus maju, tetapi soal tanggung jawab tunggu dulu.</p>
<p>Dunia prajurit tidak mengenal argumentasi, kecuali hierarki. Perwira muda mundur teratur, tentu dengan sikap siap melaksanakan perintah. Tugas mereka sekarang menunggu seseorang dari zona gelap, entah musuh entah pengkhianat, yang akan memimpin mereka memasuki daerah yang belum pernah dimasuki oleh siapapun. Di tepi garis demarkasi, anak muda terombang-ambing oleh sikap tidak pasti. Apakah orang tua mesti selalu mengorbankan kobar semangat yang muda demi kilau lencana di dada?</p>
<p>Di tengah diam gerilya perwira muda tadi menyenandungkan “Waving Flag”</p>
<p><em>When I get older I will be stronger</em></p>
<p><em>They’ll call me freedom</em></p>
<p><em> Just like a wavin’ flag</em></p>
<p><em>And then it goes back</em></p>
<p><em>And then it goes back</em></p>
<p><em>And then it goes back</em></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fesito.web.id%2F2010%2F02%2Fdemarkasi%2F&amp;linkname=Demarkasi"><img src="http://esito.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esito.web.id/2010/02/demarkasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anarki di RI</title>
		<link>http://esito.web.id/2010/01/anarki-di-ri/</link>
		<comments>http://esito.web.id/2010/01/anarki-di-ri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 12:46:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>e.s. ito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Guru Uban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esito.web.id/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Inilah kisah tentang anak-anak yang bukan untuk dibaca oleh anak-anak. Bayangkan kanak-kanak dengan seragam merah putih di sekolah negeri yang sering tidak terjamah subsidi. Murid-murid belia yang sering melihat kawan mereka bergelimang fasilitas di sekolah swasta. Tetapi mereka tetaplah kanak-kanak, tanpa iri dengki mereka terus belajar tanpa perlu memaki. Selama puluhan tahun di sekolah dasar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-300" title="anarchist" src="http://esito.web.id/wp-content/uploads/2010/01/anarchist.jpg" alt="anarchist" width="250" height="237" />Inilah kisah tentang anak-anak yang bukan untuk dibaca oleh anak-anak. Bayangkan kanak-kanak dengan seragam merah putih di sekolah negeri yang sering tidak terjamah subsidi. Murid-murid belia yang sering melihat kawan mereka bergelimang fasilitas di sekolah swasta. Tetapi mereka tetaplah kanak-kanak, tanpa iri dengki mereka terus belajar tanpa perlu memaki. Selama puluhan tahun di sekolah dasar negeri yang sering tidak tersentuh subsidi itu segala sesuatunya berjalan dengan normal terkendali. Normal artinya, murid ikhlas belajar dengan fasilitas seadanya, tidak terganggu dengan profesi paruh waktu para guru, penuh gembira pada saat upacara bendera dan yang terpenting, mereka sadar diri untuk tidak menggantungkan cita-cita terlalu tinggi. Yang penting mereka tidak buta huruf dan angka, kecuali beberapa terjebak dalam buta warna yang tiada obatnya. Inilah sekolah dasar yang ideal yang kemajuannya tidak perlu menyesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi.</p>
<p>Tetapi semenjak televisi menggantikan alunan ayat suci, pelan-pelan berubah pula peradaban adiluhung anak-anak. Ayat suci menceritakan teladan kebaikan, mereka perlu berpikir untuk membayangkannya. Di televisi, mimpi-mimpi mereka hadir sebagai realita yang langsung ditangkap indera mata. Waktu berganti dengan cepat, pahlawan kartun berganti sinetron, sinetron berganti band-band yang tidak pernah menelurkan album kecuali single yang lebih mirip jingle. Mereka sekarang berbangga hati, dalam usia dini mereka telah mengerti arti partisipasi. Bila kau rajin mengikuti berita televisi nilainya melebihi partisipasi politik pemilihan ketua kelas. Begitulah, pelan tetapi pasti, televisi membimbing mereka untuk menentukan cita-cita, kelak bila mereka besar nanti. Menimbulkan kegaduhan itu pasti, tetapi mereka masih kanak-kanak, harap dimaklumi. Toh, orang dewasa juga terus menerus minta dimaklumi.<span id="more-297"></span></p>
<p>Sebagian anak berkeliaran di jalan raya. Berkejaran, bernyanyi dan tertawa terbahak-bahak. Nasihat guru tentang tertib di jalan raya mereka tertawakan. Kata mereka, “kami ingin jadi polisi, tidak mau jadi orang biasa. Sebab hanya polisi yang berani melanggar aturan tanpa perlu khawatir ada yang akan menangkapnya”. Guru hanya geleng-geleng kepala. Akibatnya mereka sering terlambat tiba di sekolah. Pada saat disetrap di ruang guru mereka nyengir, “kami tidak terlambat, hanya telat mengabarkan. Kami sudah kirim pesan pendek kepada wakil kepala sekolah”. Guru bertanya, “mau jadi apa kalian ini?”, serempak mereka menjawab, “Menteri Keuangan, pastinya!”. Anak-anak ini jadinya jarang mengikuti upacara bendera sehingga guru kesal bukan kepalang lantas kembali menyidang mereka. Guru menasihati mereka, “upacara ini penting untuk menanamkan semangat kebangsaan dan kecintaan kalian kepada Negara. Kalau kalian tidak pernah ikut upacara bendera, jangan harap kalian bisa memimpin negara ini nanti!”. Dengan kalemnya seorang murid menjawab, “kami tengah berlatih untuk jadi pejabat negara. Membiasakan diri kami sibuk sehingga pada saat sidang lupa untuk menyanyikan Indonesia Raya”. Begitulah, kanak-kanak ini semakin pintar menjawab. Lagaknya pun dibikin-bikin sebagaimana cita-cita yang mereka inginkan. Beberapa murid mulai malas belajar membaca, saat guru menuliskan sebuah kalimat di papan tulis, gugup mereka mengejanya. Guru marah-marah, “mau jadi apa kalian, membaca saja tidak lancar??”. Tenang mereka menjawab, “Jadi ketua MPR, Guru”. Kemarahan guru semakin menjadi-jadi, suaranya meninggi, hening tetapi tidak lama satu orang murid balas memakinya, murid lain mengikutinya hingga kelas penuh suara makian. Guru menangis sambil berseru, “Saya bersumpah, kalian pasti tidak akan menjadi apa-apa”. Murid semakin tenang menjawab, “Sumpah Bu Guru, Kami pasti jadi anggota DPR kelak”.</p>
<p>Guru matematika berusaha mengatasi keadaan. Dia senang bercerita untuk menyampaikan persoalan perhitungan. Dia menunjuk seorang murid bernama Robi. Robi, cerita pak guru, sedang bersusah hati sebabnya dia tidak punya uang untuk membayar uang sekolah 300 ribu rupiah, buku-buku pelajaran 200 ribu rupiah dan seragam sekolah 100 ribu rupiah. Budi, murid lainnya adalah seorang pramuka sejati yang selalu berpedoman pada Dasa Dharma Pramuka. Kebetulan orang tuanya sangat berada sehingga uang tidak pernah jadi masalah. Karena Budi rajin menabung dan suka menolong sesama maka dia berniat membantu Robi. Pertanyaannya berapa duit yang harus dikeluarkan oleh Budi agar Robi bisa membayar uang sekolah, melengkapi buku dan membeli seragam sekolah? Kelas hening sementara, tidak lama serempak murid menjawab, “6 JUTA Rupiah, Pak Guru”. Guru tidak percaya mendengar jawaban muridnya, “kalian yakin?”. Tentu saja, jawab murid-murid dengan wajah riang tidak berdosa. Guru menuliskan perhitungan di papan tulis, lalu menunjukkan hasilnya, “kalian lihat sendiri, hasilnya 600 ribu rupiah. Kenapa hitungan mudah begini saja kalian bisa salah?”. Murid-murid saling berpandangan, tersenyum kecil, lantas menjawab, “karena kami ingin menjadi Gubernur Bank Indonesia, Pak Guru!”. Guru tidak bisa menerima jawaban murid-muridnya, “coba pikirkan lagi, berapa kali lipat kerugian yang harus kalian alami akibat salah hitung ini”. Bukannya takzim mendengarkan, murid-murid malah nyengir, “karena salah hitung itu mungkin kami bisa jadi wakil presiden Pak Guru”.</p>
<p>Guru-guru mengadakan rapat darurat. Keganjilan ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Solusi harus didapatkan, anarki ini mesti diakhiri. Ada upaya menyibukkan murid-murid dengan sepakbola. Tetapi mereka yang gemar bermain bola ini bukannya giat berlatih malah sibuk membikin koperasi. Pada saat guru olahraga memarahi mereka, enak saja mereka menjawab, “tenang Pak Guru. Kami ini tidak ingin jadi pemain bola, kami ingin jadi Ketua PSSI. Tidak perlu pintar bermain bola, cukup pintar berniaga lewat koperasi”. Karena guru-guru kebingungan murid-murid semakin menjadi-jadi. Mereka tidak mau belajar, menolak guru masuk kelas dan mengenal kata mogok. Guru mengumpulkan mereka di lapangan, di tengah terik mentari siang mereka berteriak garang, “kami jadi korban politik”.</p>
<p>Guru mendesak kepala sekolah untuk mengambil keputusan. Tetapi kepala sekolah tidak ingin namanya tercela di depan orang tua siswa. Guru terus mendesak, kepala sekolah hilang kesabaran. Lantang dia berteriak di ruang rapat, “jangan memaksa saya untuk melakukan tindakan di luar kewenangan saya”. Hening seketika, tetapi murid-murid yang mengintip rapat guru sibuk berbisik, “mungkin kepala sekolah ingin jadi presiden”</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fesito.web.id%2F2010%2F01%2Fanarki-di-ri%2F&amp;linkname=Anarki%20di%20RI"><img src="http://esito.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esito.web.id/2010/01/anarki-di-ri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berakhirnya Hindia Belanda dan (Sekarang) Indonesia?</title>
		<link>http://esito.web.id/2009/12/290/</link>
		<comments>http://esito.web.id/2009/12/290/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 17:53:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>e.s. ito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Guru Uban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esito.web.id/2009/12/290/</guid>
		<description><![CDATA[Saya membaca Runtuhnya Hindia Belanda-nya Onghokham, lalu tertawa;
Pada saat baru diangkat menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda pada tahun 1931, De Jonge mengatakan, “Belanda akan berada di Hindia Timur selama 300 tahun lagi, kalau perlu dengan menggunakan pedang dan pentungan”. Pernyataan De Jonge yang berasal dari kubu konservatif itu keluar di tengah-tengah gairah nasionalisme Indonesia tengah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya membaca Runtuhnya Hindia Belanda-nya Onghokham, lalu tertawa;</p>
<p>Pada saat baru diangkat menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda pada tahun 1931, De Jonge mengatakan, “Belanda akan berada di Hindia Timur selama 300 tahun lagi, kalau perlu dengan menggunakan pedang dan pentungan”. Pernyataan De Jonge yang berasal dari kubu konservatif itu keluar di tengah-tengah gairah nasionalisme Indonesia tengah memuncak. Berbeda dengan gubernur jenderal sebelumnya De Graff yang cenderung liberal dan bersikap agak lunak terhadap pergerakan nasionalisme Indonesia, De Jonge merasa perlu melakukan koreksi terhadap politik kolonial. Polietike Inlichtingen Dienst atau PID, dinas polisi yang melakukan pengawasan terhadap aktifitas politik kaum nasionalis mendapatkan energi baru. PID langsung bertanggung jawab kepada Jaksa Agung yang mana kemudian kajian laporan mereka akan sampai di meja Gubernur Jenderal. Dalam tempo waktu yang tidak lama, De Jonge berhasil menegakkan sebuah rezim polisi di Hindia Belanda. Dimana setiap kata terlarang dicatat oleh dinas mata-mata itu. Setiap langkah orang-orang yang dicurigai diikuti hingga kemudian dipastikan mereka mengancam keberlangsungan kolonialisme. Pada masa De Jonge lah, gairah aktifitas politik nasional Indonesia nyaris padam. Para pemimpin ditangkap, dibui dan dibuang. Soekarno dibuang ke Ende, Flores sedangkan Hatta-Sjahrir dibuang hingga Boven Digoel. De Jonge berhasil menegakkan rust en orde lewat rezim polisi yang memenjarakan bumiputera dalam kerangkeng besar Hindia Belanda.<span id="more-290"></span></p>
<p>De Jonge yang kurus ceking dengan kumis tebal itu digantikan oleh Tjarda van Starkenborgh-Stachower pada tahun 1936. Berbeda dengan De Jonge, dari segi penampilan fisik Tjarda jauh lebih menarik. Tinggi proporsional, wajahnya tidak memancing permusuhan dan tentu saja tanpa kumis tebal menakutkan. Tjarda terbilang muda ditunjuk sebagai gubernur jenderal. Sebelumnya berkarir sebagai diplomat dan kemudian dipuji karena keberhasilannya sebagai gubernur di provinsi Friesland. Banyak harapan muncul seiring pergantian De Jonge. Sebagai orang muda yang telah melihat dunia jauh lebih luas, Tjarda diharapkan jauh akan lebih bijaksana dibanding De Jonge. Dengan wajahnya agak ramah, anggota Volksraad berharap suara mereka akan lebih didengarkan oleh gubernur Jenderal. Tetapi kenyataannya tidak demikian, Tjarda terasing di singgasana negeri yang tidak begitu dikenalnya. Tjarda lebih sering menyembunyikan diri di istana gubernur jenderal, peragu tidak memiliki kemampuan memutuskan. Dalam bahasa sekarang, dalam banyak hal Tjarda sering tidak mau mengambil keputusan yang akan merugikan popularitasnya baik di Hindia Timur maupun di negeri induk Belanda sana. bagi Tjarda yang sangat memuja ratu Wilhelmina ini, menjaga citra diri jauh lebih penting dibandingkan dengan mengambil keputusan yang akan berisiko terhadap citra dirinya.</p>
<p>Sebagai Ambtenaar karir, yang sama sekali belum pernah bersentuhan dengan medan kolonial, Tjarda memang tidak terbiasa mengambil keputusan. Tidak banyak yang berubah pada masa Tjarda, rezim polisi masih bertahan sehingga menimbulkan sikap antipati Belanda yang tinggi di kalangan masyarakat Hindia Belanda. Para tahanan politik tidak kunjung dibebaskan hanya dipindahkan tempat pembuangan. Berbagai petisi dari sayap nasionalis Volksraad tidak kunjung diperhatikan. Bahkan anggota Volksraad seperti Hoesni Thamrin terus dibuntuti oleh PID.  Tetapi untunglah Tjarda memiliki wakil, seorang Letnan Gubernur yang sarat pengalaman di Hindia Belanda, HJ Van Mook. Sebagai bekas kepala departemen perdagangan Van Mook lah sebenarnya yang mengendalikan pemerintahan Hindia Belanda. Dia memiliki jaringan yang luas, otaknya yang encer dan kemampuan diplomasi tingkat tinggi. Van Mook pula lah yang bisa terus menjaga negosiasi dengan Jepang sebelum perang Pasifik pecah lewat misi perdangangan. Setelah Jepang menyerang Pearl Harbour, perang pasifik tidak terelakkan lagi. Van Mook diminta untuk menyusun pemerintah sipil di pengungsian, Australia; Nederland Indies Civil Administration (NICA). Komando sekutu di Asia Timur terutama Asia Tenggara pasca tenggelamnya kapal perang Inggris Prince of Wales dan Repulse diserahkan kepada gubernur jenderal Hindia Belanda. Tetapi tanpa Van Mook, Tjarda tidak bisa berbuat apa-apa. Alih-alih memperkuat pertahanan, dia malah memindahkan administrasi pemerintahan dari Batavia ke Bandung. Dalam masa genting itu, Tjarda masih sempat ingin memoles citra di dunia internasional dengan meminta Ratu Belanda yang mengungsi ke Inggris untuk bisa pindah ke Hindia Belanda.</p>
<p>Sejarah dengan murah hati memberi tahu kita, Jepang tidak mengeluarkan keringat untuk meruntuhkan 350 tahun kekuasaan Belanda atas Indonesia. Kecuali pertempuran di laut Jawa yang menghancurkan armada Karel Doorman, tidak ada pertempuran lain yang pantas dikenang. Ribuan tentara sekutu dari Inggris, Amerika dan Australia yang diperbantukan untuk mempertahakan Jawa kecewa pada saat Tjarda memutuskan untuk melakukan perundingan untuk penyerahan kekuasaan dengan Jepang. Pada tanggal 5 Maret 1942, di Kalijati Panglima balatentara Jepang di Jawa Jenderal Hitoshi Imamura melakukan perundingan dengan Tjarda dan panglima KNIL Jenderal Ter Poorten. Lucunya pada saat Jenderal Imamura bertanya kepada Tjarda, apakah dia sebagai gubernur Jenderal dan Panglima Tertinggi menyerah tanpa syarat. Tjarda dengan konyolnya masih berusaha mempertahankan citra dirinya, “Tidak. Sebab itu berada di luar kewenangan saya” (penulis sudah meng-aransemen ulang kata-kata itu biar mirip dengan sosok yang mirip dengan Tjarda pada masa sekarang tetapi intinya Tjarda merasa tidak memiliki kewenangan militer kecuali sipil terhadap Hindia Belanda). Imamura bingung dengan sikap Tjarda, untunglah setelah Imamura mengancam akan menghancurkan Bandung, Ter Poorten mengambil keputusan berani untuk menyatakan penyerahan tanpa syarat.</p>
<p>Historia est  Magistra Vitae</p>
<p>Sejarah pasti berulang; dengan penderitaan yang sama dan cara menikmati kesenangan yang berupa warna.  Tahun-tahun belakangan di Republik ini kita mulai didera kekhawatiran terhadap arah rezim demokratis ini. Pemimpin tidak menyandarkan kebijakannya kepada realitas masyarakat tetapi kepada tindakan-tindakan polisi. Setelah lama menjadi anak tiri ABRI, tiba-tiba saja pada masa reformasi, polisi mendapatkan lebih dari yang mereka seharusnya dapatkan. Sebagaimana jaman De Jonge, polisi menjadi andalan rezim berkuasa. Dinas yang satu ini bisa diperintahkan untuk melakukan hal apa saja yang menimbulkan keganjilan di tengah masyarakat. Polisi bebas menangkap atas nama Undang-Undang yang terkadang memenjarakan hati nurani. Kita berhadapan dengan rezim yang sibuk memoles diri di dunia internasional. Tergila-gila akan pengakuan internasional layaknya gubernur jenderal yang butuh pujian dari Staaten General di seberang samudera. Tentara diciutkan perannya sehingga dianggap berhasil dalam masalah penegakan hak azasi manusia. Sedangkan polisi diberikan kewenangan nyaris tidak terbatas sehingga bila dunia internasional memberi perhatian mereka hanya akan bilang masalah domestik, kriminal dan terorisme. Sangat jauh dari isu-isu penegakan HAM. Hari-hari belakangan, di tengah-tengah masyarakat polisi berganti rupa menjadi PID, alat kolonial paling dibenci pada masa pergerakan nasional. Orang-orang baik ditangkapi sehingga pelaku kriminal bebas bernyanyi. Bukti bisa diolah sehingga mata dewi keadilan benar-benar buta tanpa nurani.</p>
<p>Tanpa sosok seperti Van Mook yang menjadi wakil, pemimpin yang peragu menjadi bengis dan pemarah. Senyumnya dipaksakan, paranoid terhadap ancaman dan benci terhadap keadaan. Semua yang disusun menjadi berantakan sebab bila semua sudah tersedia di meja, tiada lagi yang berani mengambil keputusan terhadap tumpukan kertas itu. Bila keputusan menanti akan mengganggu citra diri, enteng sekali mengatakan, di luar kewenangan. Sejarah mesti berulang dan siapa tahu kita sekarang berada di tubir jurang kehancuran. Lagipula sebagaimana pernah dikatakan oleh Onghokham dalam Wahyu Yang Hilang, Negeri Yang Guncang; usia negara-kerajaan di Indonesia menurut sejarah paling lama 100-150 tahun dan sebagian besar kurang dari itu. Mungkin bila analisis sejarah itu benar, usia republik ini sudah lebih dari cukup untuk menuai takdir itu. Sekarang tinggal masalahnya ada kepada para pemimpin kita, apakah mereka akan terus menularkan kepanikan massal hanya untuk menyelamatkan diri sendiri. Ataukah mereka cukup punya harga diri untuk mengorbankan diri mereka demi tetap tegaknya republik ini.</p>
<p>68 tahun yang silam, Tjarda van Starkenborgh-Stachouwer masih cukup punya harga diri dengan mengorbankan dirinya diinternir oleh Jepang, terbuang jauh hingga Manchuria.  Saya ragu, pada masa sekarang di negeri ini, masih tersisa sikap ksatria seperti itu.</p>
<p>Tiba-tiba saya sedih membayangkan pulau yang terpisah-pisah.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fesito.web.id%2F2009%2F12%2F290%2F&amp;linkname=Berakhirnya%20Hindia%20Belanda%20dan%20%28Sekarang%29%20Indonesia%3F"><img src="http://esito.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esito.web.id/2009/12/290/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>De Maccasare Zee Rovers;  Selamat Tinggal Jakarta</title>
		<link>http://esito.web.id/2009/12/de-maccasare-zee-rovers-selamat-tinggal-jakarta/</link>
		<comments>http://esito.web.id/2009/12/de-maccasare-zee-rovers-selamat-tinggal-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 08:28:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>e.s. ito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esito.web.id/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[Di Makassar anak muda tidak pernah menjadi tua. Dengan kesadaran penuh mereka mengerti bahwa orde ketertiban hanyalah kerangkeng kelas yang memenjarakan anak-anak muda. Mereka senantiasa bergemuruh, penuh semangat dan tiada henti memaki kekuasaan. Di Makassar, kampus-kampus masih milik anak muda berlapis kelas, beragam latar belakang dan berjenis-jenis manusianya. Itu sebabnya energi mereka terpelihara dengan baik. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di Makassar anak muda tidak pernah menjadi tua. Dengan kesadaran penuh mereka mengerti bahwa orde ketertiban hanyalah kerangkeng kelas yang memenjarakan anak-anak muda. Mereka senantiasa bergemuruh, penuh semangat dan tiada henti memaki kekuasaan. Di Makassar, kampus-kampus masih milik anak muda berlapis kelas, beragam latar belakang dan berjenis-jenis manusianya. Itu sebabnya energi mereka terpelihara dengan baik. Terkadang mereka melakukan latihan layaknya pasukan terlatih, dengan batu dan parang saling baku hantam sesamanya. Tidak usah panik, inilah anak muda. Tanpa kelahi, mana mungkin palu mereka terlatih merobohkan pintu kekuasaan. Dengan kelahi, anak-anak muda itu telah menjadi generasi bunga dengan cara mereka sendiri. Sebab mereka percaya, kesantunan, senyuman, adat istiadat jongkok kemayu adalah feodalisme terselubung ala seberang pulau sana. Di kaki Dewi Celebes sana, mereka menolak untuk tertib. Sebab ketertiban hanyalah senda gurau penguasa mengatasi kepanikan.<span id="more-287"></span></p>
<p>Di Jakarta, jalanan bukan lagi milik anak muda apalagi mahasiswa. Kampus-kampus beraneka warna jaket mereka telah terhubung baik dengan industri televisi. Organisasi mahasiswa masih mengumpulkan massa, tetapi mereka tidak perlu lagi menyewa bus kota. Mereka masih mengenakan jaket almamater tetapi tidak lagi menantang teriknya mentari. Mahasiswa-mahasiswa Jakarta magang di televisi, menjadi massa bodoh yang senantiasa bergantian menjadi audiens talkshow televisi. Di kampus UI, yang jumlah mobil mahasiswanya lebih banyak dibanding total mahasiswa miskin yang kuliah, keseragaman menguntungkan penguasa. Bagi anak-anak mami itu, gerakan sosial adalan ancaman untuk kemapanan rutinitas mereka. Bocah-bocah yang tidak pernah beranjak dewasa itu itu dimanja oleh kampus. Mereka tidak perlu berdiskusi macam-macam, cukup main futsal saja di waktu senggang. Sebab di setiap fakultas tersedia lapangan futsal yang mungkin jadi mimpi bagi mahasiswa di kampus-kampus luar daerah. Beginilah cara kampus melayani anak-anak mami, dengan cara memaksa mereka tetap menjadi bocah-bocah mapan yang takut dengan jalanan.</p>
<p>Hari ini 9 Desember, karnaval besar di Jakarta. Di panggung jalanan, tidak tampak lagi anak-anak muda dengan jaket almamater. Orang-orang mengatakan, inilah kebangkitan kelas menengah melawan korupsi. Beginilah cara damai orang-orang muda menyampaikan sikap dan pendapat. Di tengah kerumunan massa, aktor-aktor kelas menengah ini dan tentu saja minus mahasiswa Jakarta di panggungnya, membacakan deklarasi. Mahasiswa Jakarta terbiasa menjadi penonton sebab mereka biasa dibayar oleh televisi. Tidak punya inisiatif dalam aksi, sebab mereka percaya belum saatnya menjadi bagian dari kelas menengah tercerahkan. Sementara aktor-aktor kelas menengah tidak bisa lagi dibilang muda, terlalu banyak rekam jejak yang perlu dipertanyakan, berkeluarga sehingga tidak berani ambil risiko apa-apa. Beginilah karnaval jalanan Jakarta, hanya pertunjukan televisi penuh sopan santun, tanpa gairah dimana peserta aksi sama takutnya dengan penguasa. Di Jakarta, penguasa dan penggugat dikalahkan oleh ketakutan mereka sendiri.</p>
<p>Tetapi di Makassar dimana istilah kelas menengah dan agen perubahan hanya milik mahasiswa; mereka menolak untuk takut.  Di sana demonstrasi tidak pernah berubah menjadi karnaval. Tangan tidak boleh berhenti terkepal. Dan bila aparat keamanan telah menyiapkan tameng dan tongkat, itu artinya jangan pernah bermimpi untuk pulang di siang bolong. Mudah menuding aksi mereka rusuh, tidak terkendali, anarkis dan segala macam tudingan lainnya. Tetapi bukankah memang demikian tabiat anak muda, sedikit konyol tetapi penuh gairah. Dalam sistem sosial politik dimana semuanya terpusat di Jakarta maka daerah-daerah bahkan sebesar Makassar tidak pernah diisi oleh elit-elit yang diakui secara nasional. Semua elit berkumpul di Jakarta, mulai dari elit politik hingga pelacur kelas tinggi. Itu sebabnya panggung jalanan mereka tidak memberi ruang untuk orang-orang tua yang berusaha sok muda. Jalanan milik mahasiswa dan anak muda. Jaket-jaket  almamater mereka tidak pernah wangi untuk acara televisi, mereka kumal dibakar terik mentari dan debu jalanan. Maka bila di Makassar sana, anak-anak muda masih berkelahi melawan ketertiban sambil sesekali memungut batu sebagai senjata; dengan semua kekonyolan mereka itulah anak muda –semuda-mudanya mereka-.</p>
<p>De Maccasare Zee Rovers, bajak laut Makassar, ungkapan ketakutan VOC pada Karaeng Galesong lebih dari 3 Abad yang lampau masih menjadi ketakutan penguasa pada masa sekarang. Di kampus-kampus Makassar sebagaimana pernah saya datangi, ragam kelas sosial latar belakang mahasiswa masih terjaga. Kampus masih menjadi tempat yang nyaman untuk menyampaikan gagasan dan bukan bermain futsal. Nyali mereka senantiasa terpelihara sebab mereka tahu, jauh dari pusat kekuasaan tidak satu kekuatan pun akan melindungi mereka. Di antara kegelisahan kita melihat mahasiswa-mahasiswa wangi dan centil yang berdandan menor mengendarai mobil orang tuanya, ada asa di timur sana. Jakarta mungkin saja tetap akan menjadi pusat kekuasaan tetapi rasa-rasanya tidak akan lagi pernah menjadi pusat perlawanan mahasiswa. Matahari terbit dari timur, perlawanan anak muda memberi cahaya dari ufuk sana. Makassar adalah kiblat gerakan mahasiswa Indonesia. Selamat tinggal mahasiswa Jakarta.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fesito.web.id%2F2009%2F12%2Fde-maccasare-zee-rovers-selamat-tinggal-jakarta%2F&amp;linkname=De%20Maccasare%20Zee%20Rovers%3B%20%20Selamat%20Tinggal%20Jakarta"><img src="http://esito.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esito.web.id/2009/12/de-maccasare-zee-rovers-selamat-tinggal-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beo Mbalelo</title>
		<link>http://esito.web.id/2009/11/beo-mbalelo/</link>
		<comments>http://esito.web.id/2009/11/beo-mbalelo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 10:51:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>e.s. ito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Guru Uban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esito.web.id/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[Beo terbang dari sangkar. Bebas mengangkasa, tanpa takut sebab punya muslihat suara. Bila elang hendak menyambar, tinggal dia tirukan suara bedil hingga elang menjauh terkaing-kaing. Kalau pesawat hendak menabrak, tinggal dia coba suara petugas menara pengawas. Pesawat terpaksa pindah  jalur terbang. Di angkasa,  si hitam mengkilau  dengan paruh kuning benar-benar menikmati kebebasan sementara. Sebelum ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://esito.web.id/wp-content/uploads/2009/11/beo.jpg" alt="beo" title="beo" width="283" height="186" class="alignleft size-full wp-image-277" />Beo terbang dari sangkar. Bebas mengangkasa, tanpa takut sebab punya muslihat suara. Bila elang hendak menyambar, tinggal dia tirukan suara bedil hingga elang menjauh terkaing-kaing. Kalau pesawat hendak menabrak, tinggal dia coba suara petugas menara pengawas. Pesawat terpaksa pindah  jalur terbang. Di angkasa,  si hitam mengkilau  dengan paruh kuning benar-benar menikmati kebebasan sementara. Sebelum ia terbang menukik, sempat-sempatnya dia menirukan suara ledakan di angkasa. Beo hinggap di dahan, di bawah sana banyak yang menunggu kesaksian. Seharusnya ini bukanlah tugas yang sulit buat sang beo, sebab sebagaimana titah  sang tuan, dia tinggal mengucapkan apa yang biasa ditirukan.</p>
<p>Beo sudah hendak bersuara sebagaimana diajarkan sang tuan. Tidak satu kata pun dia lupa. Persis sebagaimana tiap pagi dibisikkan sebagai menu harian. Tetapi sebelum mulutnya berbunyi, beo menyadari nasib diri. Dia ingat luasnya angkasa yang bisa dijelajahi. Dia mulai merasakan indahnya bercanda dengan menirukan beragam suara. Dia merindukan kebebasan, tetapi dia terpenjara dalam sangkar sang tuan. Apapun yang dia katakan, tidak akan mengubah nasibnya. Dia telah menirukannya berulangkali, setelah itu sebagaimana mestinya dia tetap kembali masuk dalam sangkar. Beo tidak kunjung bersuara, otak kecilnya menginginkan suasana baru.<span id="more-274"></span></p>
<p>Mbalelo, itulah kata yang tepat. Beo bersuara tetapi bukan apa yang dibisikkan sang Tuan tetapi yang dia lihat, alami dan rasakan. Di atas dahan, beo nyaring bersuara, penuh ekspresi menghapuskan keluguannya. Di bawahnya timbul kegaduhan. Beo tidak berhenti bicara, ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan sekedar menirukan bisikan yang jadi menu hariannya. Dia katakan apa yang dia saksikan sembari menegasikan semua bisikan yang selama ini ia tirukan. Beo lega tidak peduli kegaduhan yang ditimbulkannya. Di bawah pohon ada yang berteriak; skenario besar, rekayasa terhadap skenario, sensasi, thriller paling menarik dan gunjingan lainnya.</p>
<p>Sang Beo mbalelo, tuan Polan, pemiliknya dibikin pusing tujuh keliling. Beo itu kembali masuk sangkar. Tuan Polan memakinya, beo balas menirukan. Dia mencekiknya, sang beo pura-pura lemas tidak berdaya. Tuan Polan tidak mungkin membunuhnya, sebab bangkai beo pun akan menirukan kejadiannya. Yang bisa dilakukan Tuan Polan hanya diam menangkis tuduhan. Itu sebelum tuan Polan tiba-tiba menyadari dia masih punya senjata andalan.</p>
<p>Tersebutlah beo rupawan dijaga sedemikian rupa. Sosoknya hanya dikenal lewat gunjingan. Bila dia keluar, jumlah penjaga menutup rupanya. Sebagaimana beo yang mbalelo, setiap pagi beo rupawan juga mendapatkan sarapan plus bisikan. Dia yang pemalu sekarang terlatih bicara tanpa ekspresi muka. Sedih, senang dan gundah tiada beda, satu rupa seolah-olah dia tidak pernah mencuci muka.</p>
<p>Maka untuk pertama kalinya, tuan Polan melepas beo rupawan terbang sendirian. Duhai cantiknya si paruh kuning, seisi angkasa mengaguminya. Jauh di bawah sana di tengah lapangan luas dengan lubang-lubang kecil, teman-temannya menatap iri  beo yang pernah bersarang di atas pohon dekat lapangan. Gemulai dia menukik turun. Hinggap di atas pohon siap memberikan kesaksian.</p>
<p>Dia menirukan suara sebagaimana bisikan yang jadi menu harian. Persis, hingga tiada keliru tanda baca. Wajah lugunya tanpa emosi bahkan pada saat bercerita tentang kesedihan hidup, raut muka tetap sama. Beo lancar berbicara tanpa air muka. Pada saat gaduh suara bertanya, singkat dia menjawab, &#8221; ini tidak etis untuk diungkapkan&#8221;. Lainnya bertanya, tentang kemana saja dirinya selama ini, lugu dia menjawab dia ada dimana-mana. Bukankah sangkar bisa dibawa kemana saja oleh sang Tuan. Tahu dirinya banyak dicari, beo cepat berlalu. Dia harus kembali ke sangkar, peduli setan dengan skenario dan dugaan. Yang penting, titah sang tuan sudah disampaikan</p>
<p>.</p>
<p>Tuan Polan, puas tidak terkira. Beo rupawan dimanja sedemikian rupa. Beo mbalelo kebingungan di dalam sangkar. Dalam zaman kegelisahan ini Tuan Polan menemukan cara untuk menghindari tuntutan : biarkan beo-beo yang berbicara.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fesito.web.id%2F2009%2F11%2Fbeo-mbalelo%2F&amp;linkname=Beo%20Mbalelo"><img src="http://esito.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esito.web.id/2009/11/beo-mbalelo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertemuan (Ekstra) ; Lopa, Hoegeng, Natsir dan Hari Pahlawan</title>
		<link>http://esito.web.id/2009/11/pertemuan-ekstra-lopa-hoegeng-natsir-dan-hari-pahlawan/</link>
		<comments>http://esito.web.id/2009/11/pertemuan-ekstra-lopa-hoegeng-natsir-dan-hari-pahlawan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 13:16:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>e.s. ito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Guru Uban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esito.web.id/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Semenjak Eyang Harto berhasil menangkap dan memenjarakan Sutan Sjahrir alias Si Kancil yang katanya atas berkat jasaku itu, dengan beban dosa yang begitu besar di dada aku tidak tahu harus kemana. Eh Stop Dulu! Bagi kalian para pembaca sok intelek yang tidak mengerti dengan prolog tulisan ini baiknya kalian baca tulisanku berjudul, Pertemuan (1), (2) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kepakgaruda.wordpress.com/" target="_blank"><img class="alignleft size-medium wp-image-279" title="hoegeng" src="http://esito.web.id/wp-content/uploads/2009/11/hoegeng-300x187.jpg" alt="hoegeng" width="300" height="187" /></a>Semenjak Eyang Harto berhasil menangkap dan memenjarakan Sutan Sjahrir alias Si Kancil yang katanya atas berkat jasaku itu, dengan beban dosa yang begitu besar di dada aku tidak tahu harus kemana. Eh Stop Dulu! Bagi kalian para pembaca sok intelek yang tidak mengerti dengan prolog tulisan ini baiknya kalian baca tulisanku berjudul, Pertemuan (1), (2) dan (3) yang dapat kalian temukan di blog ini. Kalau kalian juga tetap tidak mengerti, sudahlah jadi tukang pijat sama pengedar sabu saja kalian kayak si Ong Juliana Gunawan. Dengan begitu, tanpa perlu mematut diri sebagai intelektual berpikiran maju, kalian bisa berkawan dengan elit-elit keren yang senantiasa butuh “duren”. Tetapi sudahlah, kalian mengerti atau tidak, aku tidak pernah peduli. Lagipula dalam dunia yang semakin aneh ini, terkadang kita bebas menulis tanpa perlu dimengerti. Nah, aku lanjutkan cerita petualanganku di dunia antara ini ya.</p>
<p>Eyang Harto hendak menjadikanku sebagai juru bicaranya. Tentu saja aku ngeri membayangkannya, juru bicara di alam kubur; bah, mending dia tawarkan saja pada pengamat-pengamat politik yang syahwatnya begitu tinggi untuk jadi jubir presiden. Jadi aku tinggalkan istana Eyang Harto yang penuh dengan perempuan molek, seksi tanpa bekas kudis itu. Tanpa Si Kancil, aku tidak tahu harus kemana. Aku ingin kembali ke atas sana, tetapi tidak tahu cara kembali. Inginku mencari Si Jon kawan seperjalanan, tidak ada jejak yang bisa ditapaki. Mungkinkah Jon masih berkeliaran di alam barzakh ini, tersesat? Atau jangan-jangan dia sudah kembali ke atas sana dan mulai produksi sinetron bersama Tuan Ram? Aku terus berjalan, tanpa tahu kemana arah tujuan. Hingga dalam hari-hari yang tidak mengenal siang dan malam kecuali pekik yang mengingatkan semakin pendeknya umur dunia di atas sana, aku terdampar pada suatu tempat mirip terminal bus kampung rambutan, tentu saja tanpa Metro Mini, PPD, Kopaja, mikrolet dan tukang copet. “Area Penjemputan”, demikianlah terpampang tulisan dalam bahasa Indonesia (tentu tulisan itu paling bawah, jauh di bawah bahasa-bahasa lain). Awalnya aku tidak mengerti, tetapi setelah aku berkeliling dan membaca dokumen dan pengumuman yang ada, otak yang cerdas ini cepat menangkap. Inilah terminal tempat para penghuni Surga menjemput penghuni neraka yang telah membayar semua dosanya di atas dunia dulu kala dan sekarang berhak memanen pahala mereka di surga.<br />
<span id="more-270"></span><br />
Istimewanya, setiap penjemputan disesuaikan dengan peringatan Hari Pahlawan setiap bangsa. Untuk manusia-manusia yang berjuang untuk kemerdekaannya tentu ini saat yang membahagiakan. Bangsa-bangsa yang kemerdekaannya dihadiahkan seperti Malaysia tentu bingung menentukan hari pahlawan mereka. Atau bangsa yang tidak pernah dijajah macam Thailand, arwah pendahulu mereka lebih penasaran lagi, kurang seksi apa tanah air mereka sehingga tiada imperialis yang menjadikan mereka koloni? Aku seperti merasa tidak asing di tengah kerumunan manusia dengan wajah berseri-seri itu. Perawakan orang-orang ini tidak jauh berbeda denganku. Tidak begitu mirip sih, sebab yang menjemput dari Surga kulitnya jauh lebih licin bercahaya sedangkan yang baru keluar dari neraka, mereka nyaris gosong semua. Tetapi intinya, aku merasa mirip dengan mereka. Mungkinkah mereka ini dulu hidup di tanah air Indonesia? Aku coba mengingat-ngingat waktu di alam yang tidak mengenal siang malam ini, jangan-jangan, barangkali….ah..apa iya…bisa saja…… saat ini tanggal sepuluh November, peringatan hari pahlawan Indonesia. Aku pasang kuping penuh perhatian, suara-suara itu tidak asing lagi, mereka bercakap dalam bahasa yang nyaris punah di atas dunia sana (akibat presidennya terlalu sering mengutip sesuatu yang tidak penting dalam bahasa Inggris), tidak salah lagi mereka orang-orang Indonesia dulunya di atas dunia dan hari ini adalah Sepuluh November.</p>
<p>Aku terjebak dalam bauran manusia, berkelompok-kelompok mereka. Surga mengutus penghuni terbaik untuk menjemput orang-orang yang satu profesi dengan mereka kala di atas dunia. Petani menjemput petani, buruh juga begitu, pegawai juga, pedagang apalagi dan tentu saja mertua yang baik menjemput menantu yang juga satu profesi. Lama sekali aku terjebak dalam terminal penjemputan ini. Riuh rendah suara dari mereka yang akhirnya bertemu kembali. Semakin lama semakin ramai saja terminal ini, tidak ada yang memperhatikan makhluk dunia fana yang terjebak di alam barzakh ini.  Pada puncaknya terminal ini penuh. Lalu perlahan, kerumunan itu mulai berkurang, seiring dengan mereka yang membawa kawan satu profesinya menyeberang menuju surga. Begitulah, orang-orang yang beruntung itu semakin menyusut tanpa seorang pun yang mengajakku. Lantas aku berpikir-pikir, apa tidak ada penulis yang masuk surga? Aku kuatir, jangan-jangan aku akan tinggal sendiri di terminal ini. Aku mengedarkan pandangan ke segala penjuru, nyaris kosong.  Tetapi pada satu sudut, aku melihat tiga orang utusan surga yang masih dalam penantian. Aku merasa ada kawan, buru-buru aku menghampiri mereka.</p>
<p>Ah, ini tidak mungkin, aku nyaris tidak percaya. Aku mengenali mereka, bukankah orang suci bermuka bersih ini Buya Mohammad Natsir? Di sebelahnya aku juga tahu walaupun tidak begitu kenal, Hoegeng Imam Santoso. Tentu saja aku tahu, sebab dengan seragam polisi lengkap, terpampang papan nama di dada kanannya. Satu orang lagi, aku coba menerka-nerka. Wajah dan perawakannya tidak asing, tetapi penampilannya jauh berbeda. Dengan dandanan ala A Rafieq, dia tampak seperti Pop Star di dunia antara ini. Lirikan matanya, mengingatkan pada seseorang. Tanpa bisa dihentikan lagi, mulut sialan ini bergumam,</p>
<p>“Bukankah anda, Baharuddin Lopa?”</p>
<p>“Ah, kemana saja kau. Di dunia dulu aku pendekar hukum, di alam sini aku jadi idola surga”, jawabnya dengan logat Mandar.</p>
<p>“idola?”, aku semakin bingung, apalagi melihat begitu banyak bekas lipstick di lehernya. Apa di surga juga ada groupies yang kehilangan logika?</p>
<p>“Ah mas ini kemana saja toh”, Hoegeng menimpali, “teman kita ini mendadak jadi beken gara-gara kami di bawah sini mendengarkan musik jauh dari atas dunia sana”</p>
<p>“Musik?”, nah, aku semakin bingung.</p>
<p>“Kemana aja mas? Di atas dunia sana, sebuah band bernama Kuburan mempopulerkan lagu berjudul Lopa. Nah di seluruh penjuru alam ini, mana lagi Lopa selain mas kita ini”, Hoegeng mulai bersenandung, “Lopa, Lopa lagi Jaksanya. Ingat, ingat lagi aksinya…..”</p>
<p>Aku tidak tahan mendengar Hoegeng menyanyi dengan irama Lautan Teduh ala Hawainya. Rupanya dia masih ingat masa-masa jayanya setelah pensiun jadi polisi dan mengisi acara di TVRI. Sementara Lopa menyunggingkan senyum jumawa, lagu itu telah menaikkan pamornya di alam sini. Tetapi aku lihat Buya Natsir masih diam seribu bahasa.</p>
<p>“Maaf Buya, kenapa masih disini sementara yang lain telah kembali membawa kawan-kawannya ke surga?’, aku beranikan diri bertanya.</p>
<p>“Anak muda”, ucap Buya dengan suara bergetar, “dalam pergaulan ada adabnya. Sebelum berbicara baiknya perkenalkan diri terlebih dahulu. Apa pekerjaanmu?”</p>
<p>“Saya penulis, Buya”, jawabku pendek tidak ingin terjebak polemik apakah aku memang sudah pantas berada di alam sini atau belum.</p>
<p>“Ah, penulis kau rupanya”, Lopa ikut bersuara, “pantas saja kau masih disini. Rasanya tidak ada pula penulis yang bakal masuk surga. Bukankah pekerjaan kalian mencampuradukkan fakta dan fiksi. Membuat kebenaran menjadi kabur oleh kebohongan. Sudahlah, sia-sia saja kau disini. Sebaiknya kau pergi saja, sebelum malaikat berubah pikiran dan menyerutmu ke neraka”</p>
<p>Aku terperanjat mendengar tanggapan Lopa. Ingin rasanya pantatnya ini aku ajak pergi. Tetapi rasa penasaran lebih besar dari keinginan untuk pergi.</p>
<p>“Lalu kalian sendiri mengapa masih disini, sementara utusan lain telah kembali?”, aku balik menantang.</p>
<p>“Kami masih menunggu”, ucap Buya pendek.</p>
<p>“Kenapa begitu lama?”, tanyaku lagi.</p>
<p>“Ah begini kawan”, kata Lopa dengan gaya koboinya menepuk pundakku, “aku ini menjemput para jaksa dari neraka. Kau tahu sendiri, pekerjaan kami di atas dunia menelanjangi manusia lewat penuntutan. Nah rupanya, mungkin di alam sini malaikat merasa perlu menelanjangi kami lebih jauh dibanding yang lainnya. Ini hanyalah masalah birokrasi”</p>
<p>“Saya tidak jauh berbeda dengan Mas Lopa”, Hoegeng ikut bicara, “tugas saya menjemput para polisi. Di atas dunia dulu, sehari-hari kami menegakkan hukum, melakukan tindakan terhadap pelaku kriminal dan menjaga ketentraman masyarakat. Tentu, ah mungkin, di alam sini perilaku kami ditelisik begitu dalam hingga tindak kriminal yang paling kecil. Ini hanyalah masalah kriminalisasi ala neraka”</p>
<p>“Dan bagaimana dengan Buya?”, aku tidak sabar mendengar jawaban tokoh besar Masyumi ini.</p>
<p>“Sama saja anak muda. Aku menjemput para politisi. Di dunia dulu kami diberi beban amanah yang besar untuk mengelola negara, menciptakan hukum dan memastikan terpenuhinya hak-hak rakyat. Aku menunggu cukup lama dibanding yang lain karena mungkin begitu banyak yang harus dipertanggungjawabkan para politisi terhadap tindakan mereka di atas dunia dulu. Anak muda, itulah alasan-alasan politisnya”</p>
<p>Aku hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Terbayang betapa besar harapan mereka untuk bisa bertemu kawan seperjalanan. Tetapi aku masih belum merasa puas dengan jawaban mereka. rasanya jawaban mereka itu terlalu diplomatis, khas gaya birokrat. Sebab setelah aku pikir, kalau Surga dan Neraka ini sudah ada sejak penciptaan dunia tentu masalah birokrasi, kriminalisasi dan politis sudah diantisipasi sedemikian rupa sehingga tidak perlu dipolitisir.</p>
<p>“Atau jangan-jangan memang tidak ada kiriman dari neraka untuk kalian bertiga?”, aku terus memancing.</p>
<p>“Sorry yee…emangnya kita-kita penulis!”, serempak ketiganya menjawab. Ah, kenapa tiga orang ini begitu sensitif sama penulis. Apa karena aku belum bersedia menulis biografi mereka?</p>
<p>“Buktinya kalian masih disini dan belum satu pun dari kawan kalian yang datang?”, karena mereka terus menyerang penulis, aku tidak enggan lagi membalas.</p>
<p>“Ah, memang sejak di dunia dulu nasib kami sudah begini. ”, Hoegeng mulai mengeluh, “anda bayangkan saja, sejak republik Indonesia terbentuk, hanya satu polisi yang diangkat sebagai pahlawan nasional”</p>
<p>“Dan orangnya tentu saja anda, Jenderal”, sergahku.</p>
<p>“Bukan saya Mas, saya juga tidak mengharapkan itu. Dialah Aipda Karel Sasuit Tubun, kebetulan tengah berjaga di rumah Waperdam Leimena, menjadi korban dari G 30S/PKI. Bayangkan mas, pahlawan dari polisi, hanya karena kebetulan berjaga? Oh betapa menyedihkan”, Hoegeng kembali menyenandungkan tembang kenangan dengan suara lirih. Aku tidak tahu, apakah suaranya mirip Bob Tutupoli atau Broeri Marantika.</p>
<p>“Sudahlah Geng. Tidak ada pula jaksa karir yang diangkat jadi pahlawan nasional. Sama sajalah kita ini”, Lopa coba menghibur Hoegeng.</p>
<p>“Wah kalau itu tidak bisa disamakan dong, Mas. Jaksa mungkin pantas diperlakukan begitu, bukankah kalian seringkali menghentikan perkara yang telah kami limpahkan?”, Hoegeng malah memancing.</p>
<p>“Ah kau ini, Geng. Aku kasih hati, kau balas dengan caci. Coba kau sebut, perkara mana yang aku hentikan. Malah perkara yang bikin aku diberhentikan. Mulai dari perkara Toni Gozel yang membuat aku dimutasi sebagai Kajati Sulsel, kasus Soeharto pun aku buka kembali hingga kasus pengusaha-pengusaha kakap yang membuat aku diberhentikan dari kehidupan dunia dengan cara yang misterius”, Lopa membayangkan dunia yang semakin gila, “para politisi lah yang membuat semuanya runyam. Terlalu banyak kepentingan yang bermain sehingga hukum hanya menjadi ornamen keserakahan”</p>
<p>Karena Lopa mulai menyinggung-nyinggung politisi, aku menunggu reaksi dari buya Natsir. Tetapi tidak ada tanggapan apa-apa. Sebagaimana riwayatnya, Buya ini tidak mudah diprovokasi.</p>
<p>“Wah kalau soal reputasi mas, kita tidak jauh berbeda. Bukan kejahatan yang berhasil kita cegah. Malah kejahatan dan persekongkolanlah yang membuat kita diberhentikan. Tentu Mas Lopa ingat, Soeharto mencopotku sebagai Kapolri gara-gara aku menangkap Robby Tjahjadi, penyelundup kakap yang dekat dengan Cendana itu”, Hoegeng sengit membalas. Kedua orang ini memang punya reputasi luar biasa dalam penegakan hukum di Indonesia. Tetapi di negeri Indonesia yang mungkin berdiri di atas sana, setiap maksud baik selalu dicurigai. Dan bila maksud baik itu menjadi tindakan nyata, maka sang penggagas akan terpental dari singgasana. Itulah negeri dimana orang-orang ramai berteriak kebajikan selagi melakukan kemungkaran secara berjamaah.</p>
<p>“Sudahlah Tuan-Tuan, tidak usah pula masalah gelar pahlawaan itu diperdebatkan disini. Toh, kalian sudah mendapatkan ganjaran semestinya di sini”, Buya menengahi keduanya.</p>
<p>“Ah Buya sih enak ngomong begitu, secara udah dapat gelar pahlawan gitu loh”, balas Lopa. Ternyata penganugerahan gelar pahlawan untuk Natsir tahun lalu juga terdengar hingga alam sini.</p>
<p>“Betul Mas.  Mas Buya coba bayangkan, berapa banyak sih politisi? Coba bandingkan dengan kami anggota kepolisian, sudah berjuta jumlahnya mungkin semenjak zaman kemerdekaan. Hanya satu yang diangkat menjadi pahlawan, itu pun karena kebetulan. Apa memang benar-benar tidak ada polisi baik yang patut dijadikan teladan?”, Hoegeng menimpali penuh semangat.</p>
<p>“Yang baik tentu ada, tetapi tidak perlu semua jadi pahlawan kan. Lagipula, mungkin begini ya Geng, mungkin tidak banyak polisi yang tercatat dalam perjuangan kemerdekaan. Itu sebab peluang jadi pahlawannya jadi kecil”, Buya mulai terjebak dalam perdebatan ini.</p>
<p>“Wah Mas Buya ini rupanya lupa. Pada saat awal berdirinya, Jenderal Soekanto mengatakan tujuan dibentuknya kepolisian republik indonesia adalah, Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menyatakan Poelisi Istimewa sebagai Poelisi Repoeblik Indonesia”, getar patriotis terdengar dari suara Hoegeng, dia benar-benar bangga kepada korpsnya, “kurang apalagi kami ini Mas Buya, bahkan pak Soekanto saja tidak diangkat jadi pahlawan”</p>
<p>“Loh kenapa ?”, aku ikut bertanya.</p>
<p>“Soekanto terlalu dekat dengan Sutan Sjahrir. Bahkan hingga alam sini, dia masih saja ikut Sjahrir sehingga tidak pernah sampai di terminal ini”, Buya menjelaskan dengan gamblang. Aku bingung sebab selama perjalananku bersama si Kancil belum pernah sekalipun dia menyebut nama Soekanto. Apa memang polisi pantas untuk dilupakan ya?</p>
<p>Aku lihat Lopa diam saja. Dia malah asyik mengisap cerutu kelas satu, kemewahan yang tidak pernah dia kecap di dunia. Ketiga orang ini tentu tidak perlu berdebat bila bicara masalah reputasi menghadapi kehidupan duniawi. Dalam jabatan tinggi, mereka memilih untuk hidup papa tanpa berlebihan meminta fasilitas negara. Natsir mengembalikan mobil dinasnya pada saat berhenti sebagai Perdana Menteri, lantas pulang ke rumah membonceng sepeda. Hoegeng pada saat menjadi Kapolri menolak semua upeti dari para cukong, malah memburunya. Pada saat menjadi kepala jawatan imigrasi dia meminta istrinya menutup toko bunga, karena tidak ingin tiba-tiba semua orang yang berurusan dengannya membeli bunga disitu dan membuat toko lain rugi. Lopa, setali tiga uang, hidup dalam dunia dimana akal sehat telah dikalahkan oleh kehendak hewani kemewahan, Lopa berhasil melawannya. Sebagai Menkumham dan kemudian Jaksa Agung, Lopa benar-benar hidup pas-pasan. Mesin fax dianggapnya mewah. Mobil dinas tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi bahkan sedekar untuk ditumpangi anak ke sekolah. Pada hari pahlawan ini mereka mungkin tengah menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang.</p>
<p>“Eh kawan, siapa kau sebenarnya? Rasa-rasanya tampangmu ini tidak beken sama sekali. Kok bisa-bisanya ikut kami dalam penjemputan ini?”, Lopa tiba-tiba bertanya padaku. Aku sebenarnya sedikit tersinggung dibilang tidak beken, tetapi sudahlah, susah juga melawan anak Mandar ini.</p>
<p>“Aku tidak berasal dari Surga. Aku berasal dari atas sana. Kemarin aku ikut petualangan bersama Sjahrir yang sekarang terjebak dalam penjara Eyang Harto.</p>
<p>“Ah anak muda, kamu ini sudah salah pergaulan. Sudah jatuh ke dalam sini, ikut Sjahrir pula. Makhluk itu tidak mengenal waktu kalau urusan politik, tidak pernah istirahat”, di luar dugaanku mereka sama sekali tidak penasaran dengan penjelasanku. Rupanya nama Sjahrir cukup jadi mantra agar logika menerima semua yang aneh-aneh di bawah sini.</p>
<p>Tanpa Si Kancil di dunia antara ini, aku tidak berani berdebat lebih jauh. Aku benar-benar kehilangan si Kancil.. Dalam hitungan waktu normal, mereka sudah menunggu sama lamanya dengan pemadaman listrik bergilir. Menurutku ketiga orang suci ini mulai gelisah. Bayangkan saja, sementara utusan dari profesi lain sudah membawa rekan mereka ke surga, mereka masih menunggu dengan tangan hampa. Lopa merapikan rambut ala A Rafiq nya yang mengkilap. Suasana sepi membekap, Hoegeng tidak lagi bersenandung. Lah, bagaimana dengan si Buya Natsir? Nah kalian para pembaca yang sok tahu tentu juga akan kaget. Buya Natsir mengeluarkan dari kantong jas Armalik nya sebuah Blackberry. Lincah jemarinya menari layaknya anak baru gede yang baru dapat gadget.</p>
<p>“Eh Lopa, sudah hampir tembus satu juta”, aku tidak mengerti dengan ucapan Buya, “gerakan satu juta arwah dukung Lopa jadi idola!”, aku shock mendengarnya. Setelah dulu mendengar cerita si Kancil betapa dia sering mencari bahan diskusi di wikipedia, sekarang buya Natsir tergila pada Facebook.</p>
<p>“Apa aku bilang Buya. Tidak ada penghuni surga yang tidak kenal aku sejak lagu “Lopa” itu populer di alam sini”, di alam pembalasan amal ini, tentu sah-sah saja menyombongkan diri, “aku yakin Buya, tidak ada yang akan menandinginya”</p>
<p>“Sayang sekali Lopa, ada gerakan di atas sana. Seperti yang sudah aku ceritakan, ini gerakan menuntut keadilan, bebaskan Chandra dan Bibit. Pendukungnya di dunia arwah ini melewati jumlah pendukungmu. Gerakan sejuta arwah untuk bebaskan Chandra dan Bibit di atas sana, benar-benar luar biasa”, jawab Buya.</p>
<p>“Mas Buya, aku sebenarnya sedih sekali mendengar berita di atas sana. Pedih rasanya hati ini, mendengar kabar buruk tentang polisi”, Hoegeng bicara bersungguh-sungguh.</p>
<p>“Kau juga ingin membela mereka di alam sini Geng?”, potong Lopa.</p>
<p>“Ah tidak Mas Lopa. Aku tahu, lambat laun masyarakat akan muak dengan perilaku polisi. Yang aku sesali hanyalah, kenapa begitu sedikit waktu yang diberikan padaku untuk dapat berbuat banyak meletakkan dasar keteladanan yang kokoh untuk kepolisian”, wajah Hoegeng benar-benar murung, “rekrutmen polisi itu bermasalah. Sogok menyogok bukan rahasia lagi. Titip menitip apalagi. Tetapi yang lebih bermasalah, orang-orang yang masuk polisi itu sebenarnya lebih berbakat di dunia seni daripada penegakan hukum. Sebagian berbakat jadi sutradara untuk teater rekayasa. sebagian lainnya menjadi aktor yang menjalankan sebuah sandiwara. Sisanya, menjadi kru dalam produksi sinetron yang menjadi tontonan memalukan. Penyelidikan bisa disesuikan dengan kepentingan penonton. Penentuan tersangka, bisa diatur lewat skenario yang mendebarkan. Dalam dunia sinema yang kejar tayang itulah para cukong menebar uang untuk biaya iklan”</p>
<p>“Tetapi Geng,  ini bukan hanya kesalahan satu generasi. Adik-adik penerusmu di atas dunia sekarang lahir dari generasi sebelumnya. Mereka berpandangan, sebagaimana pendahulunya bahwa menjadi polisi bukan sekedar mengabdi tetapi sekaligus memperkaya diri. Senjata bukan untuk melindungi masyarakat tetapi membantu mereka yang berkuasa. Tidak semua polisi buruk Geng, kita harus berprasangka baik, tetapi yang baik-baik ditelan oleh mulut buaya yang buruk. Sungguh kasihan mereka itu”, Buya Natsir coba menghibur.</p>
<p>“Betul Mas Buya, tidak hanya polisi tetapi masyarakat juga bersalah. Mereka membesarkan polisi dengan cara yang salah. Menganggap semua masalah bisa diselesaikan lewat transaksi. Dari jalanan hingga gedung tinggi sudah jadi kebiasaan. Jadi bila polisi hendak dibersihkan, maka pikiran masyarakat perlu disehatkan. Dan aku takut Mas buya, di atas sana mereka tidak cukup punya waktu lagi. Bila kepercayaan pada polisi sudah mencapai titik nadir, hukum tidak lagi mampu ditegakkan, maka republik tercinta hanya menunggu waktu kehancuran tidak lama lagi”</p>
<p>“Walaupun langit mau runtuh, hukum tetap harus ditegakkan”, bergetar suara Lopa memotong Hoegeng, “tetapi kenyataannya di dunia sekarang para jaksa menciptakan aksioma baru, walaupun hukum mau runtuh, perut tetap harus diselamatkan. Semuanya kacau Geng, kita mengalami sendiri. kita tersingkir, karena sebenarnya tidak pernah diinginkan muncul dalam dunia hukum Indonesia. Sebagian besar jaksa sebenarnya tidak berbakat menjadi pendekar hukum. Mereka hanyalah para saudagar yang tidak berani bertarung dalam dunia perniagaan sesungguhnya. Tanpa barang, mereka memperdagangkan keadilan. Kasus dilabeli tarif tertentu, tergantung siapa yang sanggup membelinya. Kasus bisa dihentikan sepanjang ada uang pengganti. Kasus juga bisa dicari, bila yang dihadapi adalah orang-orang yang tidak berdaya. Jaksa Agung memberikan target dan bonus kepada Kajati dan Kajari agar mereka menemukan kasus sebanyak mungkin. Logika apa yang dia pakai, orang berharap kejahatan makin berkurang dia malah sebaliknya. Untuk bonus, kasus bisa diada-adakan. Buya, Hoegeng dan kau juga penulis tidak beken; inilah masalah keadilan kita. Kehormatan tidak lagi sesuatu yang mulia, keadilan tidak lagi dijunjung tinggi dan aku juga percaya, di ujung jalan sana republik proklamasi itu tengah meretas jalan menuju ketiadaan”</p>
<p>Aku terkesima mendengarkan para jagoan hukum ini berbicara. Reputasi mereka tidak usah dipertanyakan lagi, Tuhan tidak mungkin salah menaruh mereka di surga yang abadi. Walaupun belum tahu pasti aku bisa kembali ke atas sana, aku ngeri sendiri membayangkan republik Indonesia mesti berakhir bukan karena invasi atau wabah, tetapi karena para penegak hukumnya justru menjadi dalang dari kehancuran hukum itu sendiri. Proses itu tengah terjadi di atas sana, aku percaya, pada satu titik orang-orang tidak akan merasa aman lagi berada dalam naungan republik yang sama. Mereka menginginkan alternatif yang lebih menjanjikan harapan.</p>
<p>“Hadirin sekalian”, Buya Natsir mulai berbicara layaknya mau khutbah Jumat, “Dulu sekali, kita bersama-sama membangun republik ini dengan pemikiran bahwa di tangan bangsa sendiri, keadilan bisa lebih ditegakkan dibandingkan dengan pemerintah kolonial. Hak-hak rakyat bisa dipenuhi melebihi pemenuhan oleh penjajah. Itulah logika kemerdekaan. Itulah arti darah-darah yang tertumpah di Surabaya sepuluh November. Tetapi bila di tangan bangsa sendiri ternyata ketidakadilan merajalela, hak-hak rakyat tercerabut dan para penegak hukum gila harta; apa artinya semua pengorbanan itu? Aku sedih, negeri yang ditegakkan oleh orang-orang besar sekarang dikelola oleh para bandit.  Ah, mungkin salah kami juga para politisi, terlalu banyak ribut dulu kala sehingga Konstituente tidak sempat menyelesaikan konstitusi”</p>
<p>“Nah, itu Buya ngaku. Politisi juga berperan besar tuh!”, tanpa dikomando, berbarengan Lopa dan Hoegeng menimpali.</p>
<p>“Aku tidak mengingkarinya. Kesalahan besar para pemimpin politik adalah pada saat mereka memberhalakan politik itu sendiri. Padahal politik itu adalah pilihan paling hina untuk membantu masyarakat menata hubungan sesamanya. Pilihan terakhir yang sayangnya telah menjadi segalanya. Pada saat politik menjadi berhala, maka dosa menjadi suatu hal yang biasa. Khianat terhadap kepercayaan rakyat menjadi strategi pemenangan. Uang bertebaran dan layaknya Samiri yang mengkhianati Musa mereka menjadikan uang sebagai sapi suci yang layak disembah. Kekuasaan bukan lagi bertujuan pengabdian tetapi penghambaan pada materi. Inilah sumber kehancuran segalanya. Di atas sana mungkin ada sebagian kecil politisi berdedikasi, tetapi lihat sajalah nanti; pada saat mereka merasakan enaknya kekuasaan maka mereka tidak akan berani menolak kemewahan. Mereka tidak menganggap kekuasaan sebagai ujian malah menuntutnya lantas sujud syukur pada saat mendapatkannya. Orang-orang ini biasa memperdagangkan agama untuk kekuasaan. Membesar-besarkan Sunah Nabi, padahal yang hakiki dari kitab suci seringkali mereka khianati”, penjelasan Buya Natsir begitu jernih.</p>
<p>“Buya, setahu saya, di atas dunia sekarang ada partai mirip Masyumi; Partai Kaya Sunah”, ragu-ragu aku memotong sang Buya.</p>
<p>“Begini anak muda, Sunah Nabi tentu teladan yang mesti diikuti. Tetapi tidak patut untuk diperjualbelikan dalam strategi politik. Lagipula, kamu jangan sembarangan dong. Masa Partai Kaya Sunah mau disamakan dengan Masyumi yang super keren. Mimpi kali yeee…”, ternyata di alam barzakh ini Buya Natsir narsis juga, “begini anak Muda, Masyumi itu partai yang berakar Indonesia dengan nilai-nilai luhur Islam di dalamnya. Nah kalau partai yang kau sebut itu, aku pernah dengar gosip; Partai itu berakar di padang pasir jauh di Afrika Utara sana, lantas memolesnya sedikit dengan ornamen Indonesia agar bisa mendapatkan kekuasaan. Lihat saja perkembangannya nanti, bila mereka mendapatkan kekuasaan, kelakuannya tidak akan jauh berbeda. Sudahlah, tidak usah mau jadi sok-sok Masyumi, partai kami tiada tandingan”</p>
<p>“Ampun Buya….Masyumi memang hebat”, berbarengan aku, Hoegeng dan Lopa menimpali.</p>
<p>Lagi-lagi sepi dan sunyi kembali. Ketiga almarhum keren itu, sekarang benar-benar dilanda gelisah. Mungkin mereka berpikir, bisa jadi tidak seorang pun teman satu profesi yang bisa mereka bawa ke surga. Buya tertunduk lesu, Lopa kebingungan dan Hoegeng memegang kepala.</p>
<p>“Anak muda, kami ingin jujur kepadamu”, Buya Natsir kembali buka suara.</p>
<p>“Baiklah, kenapa Buya?”, aku bingung menanggapinya.</p>
<p>“Sebenarnya, sudah sekian hari pahlawan kami lalui di terminal penjemputan ini”, Buya menarik nafas panjang, “dan kau tahu, dalam penjemputan-penjemputan sebelumnya. Tidak seorang pun dari kami bertiga yang berhasil membawa kawan seprofesi ke surga. Aku kuatir bila kali ini kami kembali pulang dengan tangan hampa”</p>
<p>“Benar kawan”, Lopa menimpali, “kami iri dengan profesi lain yang banyak membawa kawan ke surga. Tetapi tidak satu pun jaksa, polisi dan politisi yang bisa kami bawa dalam penjemputan sebelumnya”</p>
<p>“Semoga kali ini berbeda”, Hoegeng memberikan harapan.</p>
<p>Tiba-tiba angkasa bergemuruh. Kilat sambar menyambar, putih bersih warnanya. Aku mulai berpikir-pikir, jangan-jangan wartawan lengkap dengan lampu blitz sudah sampai kemari untuk meliput penulis keren yang terjebak dalam alam yang tidak diinginkan ini. Ternyata pikiran picikku itu salah. Wajah Natsir, Lopa dan Hoegeng bahagia bercahaya.</p>
<p>“Akhirnya malaikat datang juga menyampaikan kabar”, bisik Hoegeng.</p>
<p>Dari angkasa berjatuhan satu paket besar dan dua amplop. Amplop pertama bertuliskan Politisi, kedua bertuliskan Jaksa sedangkan paket besar bertuliskan Polisi. Setelah kilat berhenti dan (kalau memang benar) malaikat pergi, Buya Natsir tidak sabar membuka amplopnya. Wajah riangnya langsung berubah muram.</p>
<p>“Bagaimana Buya?”, tanya Lopa</p>
<p>“Sama seperti sebelumnya. Tetap tidak ada. Malah para politisi sekarang tengah melakukan sidang paripurna untuk menetapkan tata tertib di neraka”, Buya benar-benar lemas, lalu balik bertanya kepada Lopa, “bagaimana dengan kawan-kawan jaksamu?”</p>
<p>“Ah sama saja Buya.  Tuntutan berikut barang-barang bukti terus bermunculan. P-21 Buya, kasus mereka dinyatakan lengkap. Mereka harus membayar kerugian moral akibat perdagangan kasus yang dulu mereka lakukan di muka bumi”, wajah Lopa tidak kalah kuyu.</p>
<p>Semua tatapan sekarang tertuju pada Hoegeng. Tampaknya dengan paket besar yang ia terima, hanya Hoegeng yang akan pulang membawa kawan. Dengan wajah berseri-seri, Hoegeng membuka paket.  Tetapi raut mukanya seketika berubah.</p>
<p>“Hanya sebuah patung dan gundukan semen memanjang, apa artinya ini?”, pekik Hoegeng.</p>
<p>“Ah Geng, ini artinya; Cuma ada tiga polisi jujur; kau, patung polisi dan polisi tidur. Beruntung kau kawan, ada juga temanmu di surga”, Lopa menyambutnya dengan tawa.</p>
<p>Tanpa mempedulikanku, ketiga orang itu pulang kembali ke surga dengan tangan hampa kecuali Hoegeng. Aku kembali dilanda sepi. Pada hari pahlawan ini, kehidupan baik di dunia dan akhirat sama saja, tidak banyak berbeda. Kita sama-sama dilanda sepi sebab materi telah mematikan reputasi. Dan tanpa reputasi, tidak akan pernah ada sosok pahlawan yang akan menjadi teladan.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fesito.web.id%2F2009%2F11%2Fpertemuan-ekstra-lopa-hoegeng-natsir-dan-hari-pahlawan%2F&amp;linkname=Pertemuan%20%28Ekstra%29%20%3B%20Lopa%2C%20Hoegeng%2C%20Natsir%20dan%20Hari%20Pahlawan"><img src="http://esito.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esito.web.id/2009/11/pertemuan-ekstra-lopa-hoegeng-natsir-dan-hari-pahlawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Buaya Curhat Pada Murid TK</title>
		<link>http://esito.web.id/2009/11/ketika-buaya-curhat-pada-murid-tk/</link>
		<comments>http://esito.web.id/2009/11/ketika-buaya-curhat-pada-murid-tk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 18:51:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>e.s. ito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Guru Uban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esito.web.id/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Rimba raya gaduh, hewan-hewan berteriak. Buaya merasa tersudut, tiada yang membela tapi mereka juga tidak ingin kehilangan muka. Buaya-buaya nakal tidak mungkin bisa dikeluarkan dari koloni, sebab sudah jadi kesepakatan bahwa kehormatan korps jauh lebih penting dibandingkan kepentingan seisi rimba raya. Kehormatan, ucap raja buaya, sesuatu yang telah diwariskan oleh senior kami. Kehormatan korps buaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-281" title="cicak-versus-buaya_s" src="http://esito.web.id/wp-content/uploads/2009/11/cicak-versus-buaya_s-245x300.jpg" alt="cicak-versus-buaya_s" width="245" height="300" />Rimba raya gaduh, hewan-hewan berteriak. Buaya merasa tersudut, tiada yang membela tapi mereka juga tidak ingin kehilangan muka. Buaya-buaya nakal tidak mungkin bisa dikeluarkan dari koloni, sebab sudah jadi kesepakatan bahwa kehormatan korps jauh lebih penting dibandingkan kepentingan seisi rimba raya. Kehormatan, ucap raja buaya, sesuatu yang telah diwariskan oleh senior kami. Kehormatan korps buaya adalah mandat yang jauh lebih penting dibandingkan konstitusi rimba raya. Ketimbang terus menerus menerima teriakan dari rimba raya, buaya memutuskan pergi ke tepian rimba. Tidak banyak hewan yang berkeliaran disana, untuk sementara tidak akan ada teriakan dan tuntutan. Pada batas ladang dan rimba, mengalir jernih hulu sungai. Kecipak-kecibung bertalu-talu diiringi suara tawa riuh rendah. Pada batu besar di pinggir sungai, tergeletak seragam-seragam mungil. Murid-murid TK sedang mandi di tepian sungai. Perlahan buaya-buaya turun ke tepian, ingin sejak merasakan segarnya air yang menjadi langka dalam riuh rendah rimba raya. Murid-murid TK yang lugu, mungil dan lucu sontak ketakutan dan bergidik ngeri. Buru-buru mereka berlari menuju batu, tidak ingin menjadi makan siang buaya. Tetapi raja buaya, berteriak menyeru mereka,</p>
<p>“Jangan takut, mari berendam bersama. Kami sedang tidak berselera. Kami sedang butuh teman untuk bercerita. Mari…ayo!”, Murid TK ragu-ragu, sebagian tidak percaya dan langsung cepat-cepat mengenakan baju. Sebagian lainnya menatap dari balik batu. Buaya tidak kehilangan akal, “Tidak banggakah kalian berteman dengan buaya? Ayo coba pikirkan, bukankah berteman dengan buaya akan menjadi cerita menarik di sekolah nantinya? Demi Pencipta Rimba Raya, kami tidak akan memakan kalian”<span id="more-265"></span></p>
<p>Akhir-akhir ini Buaya memang gemar bersumpah sambil mengeluarkan air mata. Itu cukup untuk membujuk murid TK untuk kembali ke tepian sungai. Mereka yang baru menginjak bangku NOL BESAR itu merasa bangga bila berteman dengan buaya. Merasa akan aman bila esok ada yang mengganggu mereka kala berenang di tepian sungai.</p>
<p>“Jadi apa yang harus kami dengarkan, ceritakanlah”, ucap seorang murid TK memberanikan diri. Dia merasa gagah diantara teman-temannya.</p>
<p>“Tidakkah kegaduhan rimba raya juga terdengar hingga tepian ini?”, timpal buaya, “coba kalian ingat-ingat…”</p>
<p>“Ah, terlalu banyak masalah di rimba raya. Karena dalam hukum rimba, yang kuat seperti kalian bebas memangsa..”, balas murid TK berkacamata.</p>
<p>“Tidak…tidak..bukan begitu ceritanya. Hukum rimba telah dilanggar, yang kuat tidak selamanya lagi bebas memangsa. Kami yang telah ditakdirkan menjadi yang terkuat, tidak lagi mendapat hormat. Mereka memberikan penghormatan pada saudara kecil kami, sang cicak. Rimba raya lebih percaya pada mereka dibanding kami. Mereka dielu-elukan. Dan pada saat kami menangkap salah satu dari mereka, rimba raya langsung memberikan pembelaan. Bisakah kalian bayangkan, betapa rusaknya hukum rimba sekarang; kami yang kuat kalah kepada makhluk lemah yang bahkan dengan satu taring pun bisa kami musnahkah?”</p>
<p>“Wah kalau begitu, rimba raya <em>nggak</em> seru lagi dong? Masa cicak ditakuti….”, teriak seorang murid TK yang rambutnya bergaya modis dengan sedikit kuncir</p>
<p>“Betul, <em>enggak </em>banget <em>deh, </em>kayaknya cicak telah diperalat oleh kepentingan rimba asing. Kita harus mendukung buaya”, timpal murid TK lainnya, “ah, tetapi aku masih bingung. Kenapa sih kalian buaya-buaya benar-benar tidak berdaya?”</p>
<p>Raja Buaya menghela nafas dalam-dalam. Suasana hatinya dibikin galau, mimik mukanya semakin sedih mengkerut.  Murid-murid TK tanpa perlu menyelidiki lebih jauh terbawa suasana. Mereka ikut terharu melihat buaya.</p>
<p>“Kami tidak berdaya karena cicak-cicak berkomplot dengan burung-burung yang menyampaikan kabar. Opini massa rimba raya terbentuk dengan cepat. Apalagi yang bisa kami lakukan, kami tersudutkan. Dua ekor cicak terpaksa kami lepaskan. Tetapi mereka menuntut lebih. Mahapatih bangsa buaya diminta lengser, lantas kami diminta menangkap seekor tikus. Kami tidak tahan lagi, hanya ke tepian ini kami bisa mengadu”</p>
<p>“Oh, menyedihkan sekali”, timpal murid TK yang gemar akan lambang Mercy, “tetapi apakah kalian berhasil membuktikan kedua cicak itu bersalah?”</p>
<p>“Tentu”, jawab raja buaya yakin, “pertama kami menjeratnya dengan pasal penyuapan. Memang belum ada bukti, tetapi perasaan kami begitu. Lalu kami bilang mereka menyalahkan wewenang. Memang tugas kami bukan mengevaluasi tugas punggawa lainnya, tetapi yang penting kami punya alasan hukum lah memenjarakan. Lagipula, selama ini tidak pernah ada yang keberatan bila kami menghukum hewan mana pun”</p>
<p>“Nah, sekarang kenapa bermasalah. Jangan-jangan Patih buaya memang bersalah?”, murid TK dengan topi kepala Garuda bertanya.</p>
<p>“Tidak mungkin”, raja buaya menjawab yakin, “kami ini tidak pernah salah. Kalau ada yang salah, berarti bukan kami, tetapi hukumlah yang harus diperbaiki. Kami ini bangsa terhormat, sepenuh hati mengabdi demi ketentraman rimba raya. Tanpa pamrih”</p>
<p>“Ah kamu bisa aja deh”, goda murid TK tadi, “masa sih tanpa pamrih, bukankah kalian bangsa yang terkenal makmur, perut selalu terisi penuh. Mungkin hewan-hewan menuntut kalian, tidak saja karena kasus cicak, tetapi karena mereka sudah muak. Hukum rimba yang berjalan membuat kalian bebas mengambil apa saja, selama kalian bisa teriak pidana. Contohnya di jalan rimba…..”</p>
<p>“Tunggu…”, potong raja buaya, “tentang pungutan di jalan rimba kepada pelanggar, itu pelayanan kami dalam memudahkan masyarakat rimba dan meringankan tugas pengadilan. Daripada mereka capek-capek ke pengadilan dan para kadal juga malas menuntut perkara jalan ini, kami fasilitasi dengan sedikit imbalan”</p>
<p>“Oh bener….bener juga…”, seloroh murid-murid TK, tetapi murid yang tadi masih belum puas bertanya, “bagaimana dengan kasus-kasus lebih besar lainnya, mungkinkah kabar burung itu benar kalau kalian banyak dapat bagian?”</p>
<p>“Begini ya, gaji yang diberikan kerajaan kepada kami teramat kecil. Apakah kalian tega melihat tubuh-tubuh gagah bertabur bintang ini hidup prihatin? Apakah kami masih terlihat gagah bila untuk makan saja susah. Nah, itulah sebabnya sebagian bangsa buaya mengembangkan jiwa wirausaha mereka. karena kami tidak punya modal, maka kami menyediakan jasa untuk kasus pidana. Sedikit imbalan untuk memperlancar, tentu hal yang wajar. Sejak dulu, semua hewan sudah tahu bisnis sampingan ini, mereka juga tahu siapa yang harus dihubungi dan tentu saja secara kekeluargaan dengan menjunjung semangat wirausaha, mereka juga tahu berapa biaya untuk menyelesaikannya”, raja buaya menarik nafas bangga, “nah kalian bisa bayangkan kan, kami tidak pernah membebani kerajaan, malah kami kembangkan jiwa wirausaha. Dimana letak salahnya kami, tolong tunjukkan.</p>
<p>Murid-murid TK saling berpandangan. Mereka memahami kata-kata raja buaya ini. Mereka tentu saja setuju, bahkan dalam dunia NOL BESAR ini pun untuk sampai dipanggung juga butuh biaya. Dalam suasana penuh keakraban mereka semakin berenang dekat dengan buaya.  Seorang murid TK yang gemar akan kubus hitam , ikut bicara.</p>
<p>“Wahai bangsa buaya, kalian itu bukan hewan biasa. Kalian adalah hewan super. Punya taring dengan rahang kuat sebagai senjata. Terhormat gagah perwira. Kami juga tidak rela bila hewan legendaris seperti kalian teraniaya. Kami mendukung kalian menghadapi rimba raya yang telah ditipu oleh cicak lewat kabar yang dibawa oleh burung-burung”, si kubus hitam ini berhenti sejenak, “tetapi bisakah kalian meyakinkan kami, kalau patih kalian ini memang tidak terlibat dalam persekongkolan kejahatan terhadap cicak?”</p>
<p>Raja Buaya tersenyum, memberi isyarat pada sang Patih untuk menjawab langsung. Patih yang tambun itu tanpa basa basi bersuara, perlahan menitikkan air mata,</p>
<p>“Pertama mereka menugaskan tungau mendengarkan diam-diam pembicaraan saya.  Sehingga mereka menuduh saya kenal dengan tikus yang mengatur kasus. Mereka menuduh saya menerima jatah. Tungau yang menempel tidak bisa dijadikan alat bukti. Lagipula, Demi Sang Pencipta saya tidak pernah menerima suap 10 potong daging segar (kecuali jumlahnya lebih atau kurang itu tidak termasuk dalam bagian sumpah). Oh mereka menghancurkan hidup saya, saya malu, keluarga malu, bahkan anak-anak saya tidak mau keluar dari cangkang telurnya, mereka malu menatap dunia. Tolong, kasihanilah saya ini. Saya mundur jadi Patih, tapi sementara waktu saja ya sebab saya tidak bisa hidup tanpa jabatan”</p>
<p>Murid-murid TK saling berpelukan, mereka terharu mendengarkan penjelasan sang Patih. Salah seorang dari mereka yang gemar meneriakkan nama Tuhan  (walaupun istilah Tuhan ternyata bisa diganti dengan “empat kursi menteri” dalam pentas NOL BESAR) berteriak dengan garang.</p>
<p>“Bagi saya sudah jelas sekarang. Buaya-buaya jujur penuh dedikasi ini jadi korban dari permainan kabar burung. Oh, saya sangat yakin, ini semua hanyalah skenario untuk menghancurkan buaya. Sistem hukum rimba ini perlu dikembalikan pada bentuk semula. Yang kuat tetaplah harus berkuasa, cicak-cicak haruslah kembali merayap di dinding dan tidak berkeliaran kemana-mana. Insyaallah dengan mendukung buaya, sebagian dari jihad hati kita”</p>
<p>“Terima kasih”, balas sang raja buaya dengan mimik masih mengharu biru sambil dalam hati berbisik, “<em>besok-besok kalian menggugat penjajahan nun jauh di gurun pasir sana  akan kami jaga sepenuh hati selama kalian berhenti bicara tentang korupsi</em>”</p>
<p>“Lagipula, kami yang hidup di tepian rimba ini juga mulai resah dengan cicak-cicak. Diam-diam merayap menguntit tingkah kami di luar rumah. Bila kami memberi makan hewan-hewan dan mendapatkan balasan sewajarnya, mereka juga bersendawa. Coba bayangkan, kami murid TK di kelas NOL BESAR yang terhormat ini juga dikerjai oleh cicak-cicak sialan itu. Mereka jadi jagoan bebas berkeliaran, kita makhluk-makhluk yang istimewa ini hidup tidak tenang, teman berkurang, dan uang jajan menurun drastis. Jujur, tidak hanya kalian para buaya yang terganggu, kami juga. Beberapa kawan kami bahkan sudah dijewer kupingnya, karena cicak bersendawa saat mereka jajan melebihi uang yang diberikan”, seorang murid TK yang tampaknya lebih senior dibandingkan kawan-kawannya ikut mencurahkan perasaan hatinya.</p>
<p>“Betul”, tukas murid TK lainnya, “Hukum rimba mesti dikembalikan. Kekuasaan untuk yang kuat, kebebasan untuk mereka yang terhormat”</p>
<p>Raja buaya menarik nafas lega, dia puas mendengarkan dukungan dari murid-murid TK ini. Tetapi dalam suasana diskusi yang penuh keakraban itu, terdengar suara monyet yang mengganggu. Sebenarnya sudah lama suara itu terdengar, tetapi makin lama makin kencang. Murid-murid TK yang merasa tepian sungai itu sebagai panggung mereka jelas merasa terganggu. Salah seorang di antara mereka yang gemar mendengus layaknya banteng bertanya,</p>
<p>“Hei, kenapa monyet-monyet itu teriak-teriak?”</p>
<p>“Itulah faktanya”, ungkap raja buaya kembali menekuk muka, “kami ini tidak lagi dipercaya. Raja rimba memerintahkan mereka untuk menengahi kami dengan cicak. Nah kalian tahu sendiri, betapa genitnya monyet-monyet itu menarik perhatian burung-burung. Sejak ditugaskan, mereka tidak henti menyerang kami. Ah memang sudah suratan takdir kami ini hidup sendiri, tanpa cinta, tanpa belaian dan tentu tanpa kata sayang”</p>
<p>“Oh buaya, janganlah bersedih hati. Karena sesungguhnya, bila engkau tahu, kami pun terganggu dengan monyet-monyet itu. Mereka telah merebut panggung kami di pinggiran sungai ini. Seharusnya Cuma suara kami yang terdengar disini, tetapi mereka telah merusaknya. Buaya, kami ada di belakangmu. Kau lah idola kami, tidak terhitung prestasimu. Tidak layak rimba raya memperlakukan kalian seperti ini”, murid TK bermata biru dengan pijar putih matahari ikut bersuara.</p>
<p>“Baiklah kawan-kawan kecil, kami kembali bersemangat untuk memenjarakan cicak-cicak itu. Dukungan ini sangat berarti bagi kami. Ingat, ini bukan lagi masalah kebenaran tetapi kehormatan! Dan bila sudah bicara masalah kehormatan tidak akan ada yang bisa menghalangi kami, bahkan kebenaran itu sendiri!”</p>
<p>Riuh rendah terdengar suara murid-murid TK menelan suara monyet. Bertepuk tangan mereka menyambut semangat buaya. Berteman dengan buaya tentu jauh keren dibanding berteman dengan cicak. Ini bukan lagi masalah pemihakan, tetapi keren-kerenan. Dibalik semak, para orang tua kuatir melihat anak-anak mereka berpelukan dengan buaya sembari bertanya-tanya, “apakah mereka telah salah mendidik anak-anak yang tidak pernah beranjak dari kelas NOL BESAR itu?”</p>
<p>[ilustrasi: kiagus auliansyah, ref: http://politikana.com]</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fesito.web.id%2F2009%2F11%2Fketika-buaya-curhat-pada-murid-tk%2F&amp;linkname=Ketika%20Buaya%20Curhat%20Pada%20Murid%20TK"><img src="http://esito.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esito.web.id/2009/11/ketika-buaya-curhat-pada-murid-tk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ssst&#8230;No!!!</title>
		<link>http://esito.web.id/2009/11/ssst-no/</link>
		<comments>http://esito.web.id/2009/11/ssst-no/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 12:56:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>e.s. ito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Guru Uban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esito.web.id/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[Ssst…No!
Tanah ini telah dikutuk. Peradabannya berjalan merangkak tiada mampu mengejar keserakahan yang kencang berlari.  Di ujung timur sini, pijar matahari baru dirasakan belakangan, kadangkala tidak sama sekali. Harapan-harapan hanya mampu menjadi bayang-bayang dari tragedi. Dan sadarilah, pada saat akal sehat mulai sirna, tarian suka membahana. Bertabuh gendang mereka merayakan kemenangan.  Perut-perut buncit bergesekan disiram anggur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-283" title="durna" src="http://esito.web.id/wp-content/uploads/2009/11/durna-225x300.jpg" alt="durna" width="225" height="300" />Ssst…No!</p>
<p>Tanah ini telah dikutuk. Peradabannya berjalan merangkak tiada mampu mengejar keserakahan yang kencang berlari.  Di ujung timur sini, pijar matahari baru dirasakan belakangan, kadangkala tidak sama sekali. Harapan-harapan hanya mampu menjadi bayang-bayang dari tragedi. Dan sadarilah, pada saat akal sehat mulai sirna, tarian suka membahana. Bertabuh gendang mereka merayakan kemenangan.  Perut-perut buncit bergesekan disiram anggur dan tuak. Sembari itu, orang-orang berseragam membuang sumpahnya ke tong sampah. Sekarang kita baru mengerti, kenapa begitu banyak sumpah, janji dan kode etik mengikat orang-orang berseragam.  Sebab, bajingan seperti mereka memang tidak akan pernah bisa dipercaya. Sumpah bagi mereka hanyalah kata-kata gombal untuk mendaki puncak keserakahan. Hari ini, kita menyaksikan dan merasakan, betapa setelah beratus tahun; seragam-seragam senantiasa salah diberikan kepada hewan-hewan yang hanya kenal perut dan kemaluan. Cukup berikan sekerat daging, mereka akan mendengus siap berbuat sebagaimana titah sang Tuan.</p>
<p>Ssst..No!</p>
<p>Trunojoyo meradang, putera Madura yang gagah melawan penjajah itu terjebak dalam sebuah plang. Disakralkan menjadi nama jalan, tetapi mendapatkan kesucian yang ternoda. Sumpah-sumpah terbuang menjadi sampah, berserakan menutupi plang. Seorang laki-laki galak berkata; kami adalah buaya, lebih buas dari Trunojoyo. Kami adalah Durnoboyo. Penuh siasat layaknya Durna, buas tidak kurang dari buaya”. Durnoboyo 1, Durnoboyo 2, Durnoboyo 3, betapa gagahnya mereka itu. Pahlawan-pahlawan yang punya perisai di balik seragam. Tetapi di negeri terkutuk ini, buaya tidak akan pernah beranjak dari pemikiran primitif tentang perut dan kemaluan. Sekerat daging, bawalah kesana, siapapun yang membawanya layak menjadi pawang. Bagi Durnoboyo, sekerat daging jauh lebih berharga dibanding rasa keadilan. Mereka tahu, begitu banyak kesengsaraan karena ketidakeadilan, tetapi mereka juga sadar semakin mereka menegakkannya maka akan lebih banyak lagi makanan terlewatkan. Dasar buaya, apalagi yang bisa mereka lakukan; berjemur dengan mulut menganga menunggu sekerat daging dari sang pawang. Ssst…No!  Tidak boleh menyebut nama, cukup ucapkan Durnoboyo, tiga kali banyaknya.<span id="more-261"></span></p>
<p>Ssst..No!</p>
<p>Gedung bundar dipenuhi kadal-kadal. Buncit, sehat dengan kulit berkilau. Kadal-kadal bergelantungan di timbangan, beratnya tergantung pada besaran sumbangan. Diam-diam dewi keadilan berbisik, “di tempat ini semuanya bisa diatur” . Itulah akibatnya bila hukum dititipkan pada kadal dan bengkarung. Gedung bundar diubah jadi belukar dimana jual beli kasus bebas dilakukan. Banyak yang bertanya-tanya, sementara keadilan terus diteriakkan, kenapa pasar belukar ini tidak pernah sirna oleh semangat yang membara. Kenapa kadal-kadal semakin banyak sementara dewi keadilan terus bersenandung tentang perkara yang mudah diatur. Politik hanya bisa memberikan janji di atas panggung. Di tanah terkutuk ini, keadilan berakhir di ujung lidah. Sebab bila singgasana sudah didapatkan, kau tidak perlu mengotori tangan hanya untuk membereskan belukar berisi kadal-kadal.</p>
<p>Sss…No!</p>
<p>Pawang pemilik daging tidak akan pernah menyentuh bui. Lihatlah betapa lancarnya lidahnya menari di depan televisi. Gagah sekali dia bicara tentang jumlah daging yang diberikan pada buaya dan kadal. Durnoboyo telah kenyang, tidak kuat lagi berlari. Kadal-kadal menunggu rembulan siap untuk berpesta. Hukum telah dibuang, diinjak-injak oleh hewan-hewan berseragam. Cicak dibui, diancam mati, lalu di depan televisi, sang pengancam bebas berbicara. Saya tidak mengerti, bahkan hewan paling buas pun masih punya nurani. Iblis pun sadar terhukum oleh dosa sepanjang masa. Tetapi hewan-hewan berwujud manusia ini, bagaimana bisa mereka telah kehilangan sentuhan kehidupan. Ada ketakutan yang membuat manusia menjadi tidak begitu beradab. Tetapi terkadang dalam ketakutan yang sangat, manusia bisa menggunakan akal sehat. Kita tidak pernah tahu, sedahsyat apa ketakutan yang menghinggapi makhluk-makhluk ini sehingga mereka sedemikian tidak beradabnya.</p>
<p>Ssst…No!</p>
<p>Cukup sudah bisikannya. Ssst…Tidak, tidak cukup berbisik lagi. Tanah ini telah dikutuk sejak awal zaman, tanaman senantiasa tumbuh subur berbuah keserakahan. Kepercayaan diemban untuk dikhianati. Orang-orang diberi seragam untuk memfasilitasi hasrat jahat mereka. Pemimpin gandrung akan panggung tetapi bila berhadapan dengan masalah keadilan, dia pura-pura linglung. Bila pita hitam saja tidak cukup, kenapa tidak kita hitamkan jalanan. Bila polisi tidak lagi sanggup kenapa tidak diganti saja mereka dengan pramuka. Bila kejaksaan penuh muslihat, kenapa tidak dikandangkan saja mereka semua. Dan bila sang pemimpin terus ragu-ragu, baiknya kita kirimkan saja dia gincu. Pada masa darurat ini, nasib generasi masa depan lagi-lagi dipertaruhkan. Apakah mereka akan hidup di atas tanah terkutuk yang dinaungi awan-awan sumpah serapah. Ataukah kelak mereka akan hidup di tanah Indonesia yang terberkati di bawah naungan langit biru yang bebas korupsi.</p>
<p>Ssst…No!</p>
<p>Saatnya sudah tiba, jutaan orang siap menghitamkan jalanan. Berikan hadiah terbaik untuk generasi masa depan; sebuah harapan.</p>
<p>[image: <a href="http://wayang-graphy.blogspot.com/2008/08/durna-guru-of-pandawa-and-kurawa.html">wayang-graphy.blogspot.com</a>]</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fesito.web.id%2F2009%2F11%2Fssst-no%2F&amp;linkname=Ssst%26%238230%3BNo%21%21%21"><img src="http://esito.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esito.web.id/2009/11/ssst-no/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
