Anarki di RI
by e.s. ito ~ January 21st, 2010
Inilah kisah tentang anak-anak yang bukan untuk dibaca oleh anak-anak. Bayangkan kanak-kanak dengan seragam merah putih di sekolah negeri yang sering tidak terjamah subsidi. Murid-murid belia yang sering melihat kawan mereka bergelimang fasilitas di sekolah swasta. Tetapi mereka tetaplah kanak-kanak, tanpa iri dengki mereka terus belajar tanpa perlu memaki. Selama puluhan tahun di sekolah dasar negeri yang sering tidak tersentuh subsidi itu segala sesuatunya berjalan dengan normal terkendali. Normal artinya, murid ikhlas belajar dengan fasilitas seadanya, tidak terganggu dengan profesi paruh waktu para guru, penuh gembira pada saat upacara bendera dan yang terpenting, mereka sadar diri untuk tidak menggantungkan cita-cita terlalu tinggi. Yang penting mereka tidak buta huruf dan angka, kecuali beberapa terjebak dalam buta warna yang tiada obatnya. Inilah sekolah dasar yang ideal yang kemajuannya tidak perlu menyesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi.
Tetapi semenjak televisi menggantikan alunan ayat suci, pelan-pelan berubah pula peradaban adiluhung anak-anak. Ayat suci menceritakan teladan kebaikan, mereka perlu berpikir untuk membayangkannya. Di televisi, mimpi-mimpi mereka hadir sebagai realita yang langsung ditangkap indera mata. Waktu berganti dengan cepat, pahlawan kartun berganti sinetron, sinetron berganti band-band yang tidak pernah menelurkan album kecuali single yang lebih mirip jingle. Mereka sekarang berbangga hati, dalam usia dini mereka telah mengerti arti partisipasi. Bila kau rajin mengikuti berita televisi nilainya melebihi partisipasi politik pemilihan ketua kelas. Begitulah, pelan tetapi pasti, televisi membimbing mereka untuk menentukan cita-cita, kelak bila mereka besar nanti. Menimbulkan kegaduhan itu pasti, tetapi mereka masih kanak-kanak, harap dimaklumi. Toh, orang dewasa juga terus menerus minta dimaklumi.
Sebagian anak berkeliaran di jalan raya. Berkejaran, bernyanyi dan tertawa terbahak-bahak. Nasihat guru tentang tertib di jalan raya mereka tertawakan. Kata mereka, “kami ingin jadi polisi, tidak mau jadi orang biasa. Sebab hanya polisi yang berani melanggar aturan tanpa perlu khawatir ada yang akan menangkapnya”. Guru hanya geleng-geleng kepala. Akibatnya mereka sering terlambat tiba di sekolah. Pada saat disetrap di ruang guru mereka nyengir, “kami tidak terlambat, hanya telat mengabarkan. Kami sudah kirim pesan pendek kepada wakil kepala sekolah”. Guru bertanya, “mau jadi apa kalian ini?”, serempak mereka menjawab, “Menteri Keuangan, pastinya!”. Anak-anak ini jadinya jarang mengikuti upacara bendera sehingga guru kesal bukan kepalang lantas kembali menyidang mereka. Guru menasihati mereka, “upacara ini penting untuk menanamkan semangat kebangsaan dan kecintaan kalian kepada Negara. Kalau kalian tidak pernah ikut upacara bendera, jangan harap kalian bisa memimpin negara ini nanti!”. Dengan kalemnya seorang murid menjawab, “kami tengah berlatih untuk jadi pejabat negara. Membiasakan diri kami sibuk sehingga pada saat sidang lupa untuk menyanyikan Indonesia Raya”. Begitulah, kanak-kanak ini semakin pintar menjawab. Lagaknya pun dibikin-bikin sebagaimana cita-cita yang mereka inginkan. Beberapa murid mulai malas belajar membaca, saat guru menuliskan sebuah kalimat di papan tulis, gugup mereka mengejanya. Guru marah-marah, “mau jadi apa kalian, membaca saja tidak lancar??”. Tenang mereka menjawab, “Jadi ketua MPR, Guru”. Kemarahan guru semakin menjadi-jadi, suaranya meninggi, hening tetapi tidak lama satu orang murid balas memakinya, murid lain mengikutinya hingga kelas penuh suara makian. Guru menangis sambil berseru, “Saya bersumpah, kalian pasti tidak akan menjadi apa-apa”. Murid semakin tenang menjawab, “Sumpah Bu Guru, Kami pasti jadi anggota DPR kelak”.
Guru matematika berusaha mengatasi keadaan. Dia senang bercerita untuk menyampaikan persoalan perhitungan. Dia menunjuk seorang murid bernama Robi. Robi, cerita pak guru, sedang bersusah hati sebabnya dia tidak punya uang untuk membayar uang sekolah 300 ribu rupiah, buku-buku pelajaran 200 ribu rupiah dan seragam sekolah 100 ribu rupiah. Budi, murid lainnya adalah seorang pramuka sejati yang selalu berpedoman pada Dasa Dharma Pramuka. Kebetulan orang tuanya sangat berada sehingga uang tidak pernah jadi masalah. Karena Budi rajin menabung dan suka menolong sesama maka dia berniat membantu Robi. Pertanyaannya berapa duit yang harus dikeluarkan oleh Budi agar Robi bisa membayar uang sekolah, melengkapi buku dan membeli seragam sekolah? Kelas hening sementara, tidak lama serempak murid menjawab, “6 JUTA Rupiah, Pak Guru”. Guru tidak percaya mendengar jawaban muridnya, “kalian yakin?”. Tentu saja, jawab murid-murid dengan wajah riang tidak berdosa. Guru menuliskan perhitungan di papan tulis, lalu menunjukkan hasilnya, “kalian lihat sendiri, hasilnya 600 ribu rupiah. Kenapa hitungan mudah begini saja kalian bisa salah?”. Murid-murid saling berpandangan, tersenyum kecil, lantas menjawab, “karena kami ingin menjadi Gubernur Bank Indonesia, Pak Guru!”. Guru tidak bisa menerima jawaban murid-muridnya, “coba pikirkan lagi, berapa kali lipat kerugian yang harus kalian alami akibat salah hitung ini”. Bukannya takzim mendengarkan, murid-murid malah nyengir, “karena salah hitung itu mungkin kami bisa jadi wakil presiden Pak Guru”.
Guru-guru mengadakan rapat darurat. Keganjilan ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Solusi harus didapatkan, anarki ini mesti diakhiri. Ada upaya menyibukkan murid-murid dengan sepakbola. Tetapi mereka yang gemar bermain bola ini bukannya giat berlatih malah sibuk membikin koperasi. Pada saat guru olahraga memarahi mereka, enak saja mereka menjawab, “tenang Pak Guru. Kami ini tidak ingin jadi pemain bola, kami ingin jadi Ketua PSSI. Tidak perlu pintar bermain bola, cukup pintar berniaga lewat koperasi”. Karena guru-guru kebingungan murid-murid semakin menjadi-jadi. Mereka tidak mau belajar, menolak guru masuk kelas dan mengenal kata mogok. Guru mengumpulkan mereka di lapangan, di tengah terik mentari siang mereka berteriak garang, “kami jadi korban politik”.
Guru mendesak kepala sekolah untuk mengambil keputusan. Tetapi kepala sekolah tidak ingin namanya tercela di depan orang tua siswa. Guru terus mendesak, kepala sekolah hilang kesabaran. Lantang dia berteriak di ruang rapat, “jangan memaksa saya untuk melakukan tindakan di luar kewenangan saya”. Hening seketika, tetapi murid-murid yang mengintip rapat guru sibuk berbisik, “mungkin kepala sekolah ingin jadi presiden”

January 22nd, 2010 at 7:50 am
wakakakakakk..ironi yang lucu sekaligus menyedihkan..
January 22nd, 2010 at 8:44 am
Perasaan itu yang saya lakukan saat SMA….-.-’
January 22nd, 2010 at 9:27 am
wahhh…. ada tulisan baru…
ijin share brur….
January 22nd, 2010 at 10:48 am
keyen…………sidang tiap hari di tv bisa jadi pembelajaran yg mantap ya bwt generasi muda
January 22nd, 2010 at 8:42 pm
Izin saya share di Facebook.
January 22nd, 2010 at 10:05 pm
khekhekhe…”membebek”
ijin share juga bung…
January 23rd, 2010 at 6:28 am
hhmmm…begitulah televisi telah merubah banyak sudut pandang masyarakat ini, dan mengerus nilai2 kearifan lokal yang ada….
January 24th, 2010 at 8:59 am
Satire,,,takjub gw bung, ijin share juga,,
January 25th, 2010 at 8:22 am
hehehe…. betul betul betul…. sepakat, bung. sk atau tdk, realita seperti ini jamak terjadi di negara kita.
January 25th, 2010 at 10:42 pm
Wah, bagus sekali tulisan ini E.S.! Keren bung!
Murid-murid yang digambarkan cerdas, tetapi mereka masih belum bisa menyaring mana yang sebaiknya diikuti… Pada suatu kesempatan juga wapres kita menyuruh anak-anak sekolah membaca biografi tokoh-tokoh untuk dikagumi dan menjadi acuan dalam belajar, tetapi ketika sang tokoh itu berbuat entah negatif atau positif, semuanya akan ditirukan.. tanpa tahu kesalahan maupun kebenarannya…
January 27th, 2010 at 6:16 am
bagus.. Ijin share juga..
January 27th, 2010 at 11:42 am
tulisan yang menarik..
menggugah gairah menginspirasi..
menengok bangsa dari anak-anak..
saya izin pasang link anda digubuk saya
terima kasih
SABUDI “sastra budaya indonesia”
mari kita jaga bersama!
January 27th, 2010 at 1:53 pm
Sepertinya murid-murid itu salah menilai kepala sekolah. Pak kepala sekolah bukannya pingin jadi presiden, tapi pengen jadi penyanyi

Oh iya…Pak kepala sekolah baru saja mengeluarkan album terbarunya loh… Selamat yah Pak, semoga albumnya laris manis dan bisa menghibur murid-murid yang sedang kesusahan
Menurut Pak guru olahraga, album ini akan meledak di pasaran.
January 28th, 2010 at 5:38 pm
wkwkwkwkwkwkwk…………………….
ku pikir bang E.S. tak bisa melucu,?!
haha,,’
memang asli minang kau bang,,”
izin share ya bang E.S.
=))
thx 4 share,’
nice story,,
btw, kpn abng akn buka sekolah??
kalau saya punya anak nanti, biar saya sekolahkan di sekolah abang….
biar bkn cma ilmu dunia dia dapat, tapi juga akhlak yang baik dan berbudi luhur….
saya doakan, spy abng sukses dlm segala bidang..
amin…
January 29th, 2010 at 9:48 am
He,he tulisan yg bagus Ed,kita jgn hny menyalahkan murid murid kencing berlari,karena guru guru yg tlh mencontohkan dengan kencing berdiri.sdgkn Bapak kepala sekolah sibuk mempersolek diri kayak banci.
January 29th, 2010 at 4:00 pm
Gud GUd GUD….
izin share
five star!! xDD
February 2nd, 2010 at 11:35 am
ha….lucu sekaligus nylekit….
tapi itulah realita bercampur ironi dalam republik ini…
“jangan memaksa saya untuk melakukan tindakan di luar kewenangan saya”…hmmm…..mentalitas penguasa…
February 2nd, 2010 at 4:11 pm
syukurlah, lama juga bung Ito tidak menulis. Mengobati kerinduan sesuatu yang berbeda dari Bung..
February 3rd, 2010 at 11:42 pm
Huahahahahahaha…….potret warna yang hidup…..
Pertanyaannya saya termasuk salah satu dari alkisah murid2 itu tidak ya?:))
February 4th, 2010 at 1:57 pm
tak share yah,
matur nuwun…………..
February 12th, 2010 at 8:53 pm
ironis banget emang bang
February 16th, 2010 at 9:59 am
kagum gw bang..Jd inget tulisan,
“Anak muda cerdas mana di Indonesia ini yang tidak ingin revolusi. Bangsa ini sudah rusak.”
February 16th, 2010 at 3:35 pm
bang… ikut menyebarkan artikel ini yak…
omong-omong susah kali nyari bukumu di toko bang..
boleh jika kuminta darimu (peasan bang maksudnya)
oke bang…
tetep semangat bang. kita butuh penulis kaya abang (mudah-mudahan juga banyak lagi orang Indonesia macam abang)
makasih bang. Assalamualaikum
February 27th, 2010 at 1:35 pm
mantap bang!!!