Register

Log in

StatPress

Visits today: 24
Total: 19922 since June 12, 2008
Es Ito's Facebook profile

ES ITO Twitter

De Maccasare Zee Rovers; Selamat Tinggal Jakarta

by e.s. ito ~ December 9th, 2009

Di Makassar anak muda tidak pernah menjadi tua. Dengan kesadaran penuh mereka mengerti bahwa orde ketertiban hanyalah kerangkeng kelas yang memenjarakan anak-anak muda. Mereka senantiasa bergemuruh, penuh semangat dan tiada henti memaki kekuasaan. Di Makassar, kampus-kampus masih milik anak muda berlapis kelas, beragam latar belakang dan berjenis-jenis manusianya. Itu sebabnya energi mereka terpelihara dengan baik. Terkadang mereka melakukan latihan layaknya pasukan terlatih, dengan batu dan parang saling baku hantam sesamanya. Tidak usah panik, inilah anak muda. Tanpa kelahi, mana mungkin palu mereka terlatih merobohkan pintu kekuasaan. Dengan kelahi, anak-anak muda itu telah menjadi generasi bunga dengan cara mereka sendiri. Sebab mereka percaya, kesantunan, senyuman, adat istiadat jongkok kemayu adalah feodalisme terselubung ala seberang pulau sana. Di kaki Dewi Celebes sana, mereka menolak untuk tertib. Sebab ketertiban hanyalah senda gurau penguasa mengatasi kepanikan.

Di Jakarta, jalanan bukan lagi milik anak muda apalagi mahasiswa. Kampus-kampus beraneka warna jaket mereka telah terhubung baik dengan industri televisi. Organisasi mahasiswa masih mengumpulkan massa, tetapi mereka tidak perlu lagi menyewa bus kota. Mereka masih mengenakan jaket almamater tetapi tidak lagi menantang teriknya mentari. Mahasiswa-mahasiswa Jakarta magang di televisi, menjadi massa bodoh yang senantiasa bergantian menjadi audiens talkshow televisi. Di kampus UI, yang jumlah mobil mahasiswanya lebih banyak dibanding total mahasiswa miskin yang kuliah, keseragaman menguntungkan penguasa. Bagi anak-anak mami itu, gerakan sosial adalan ancaman untuk kemapanan rutinitas mereka. Bocah-bocah yang tidak pernah beranjak dewasa itu itu dimanja oleh kampus. Mereka tidak perlu berdiskusi macam-macam, cukup main futsal saja di waktu senggang. Sebab di setiap fakultas tersedia lapangan futsal yang mungkin jadi mimpi bagi mahasiswa di kampus-kampus luar daerah. Beginilah cara kampus melayani anak-anak mami, dengan cara memaksa mereka tetap menjadi bocah-bocah mapan yang takut dengan jalanan.

Hari ini 9 Desember, karnaval besar di Jakarta. Di panggung jalanan, tidak tampak lagi anak-anak muda dengan jaket almamater. Orang-orang mengatakan, inilah kebangkitan kelas menengah melawan korupsi. Beginilah cara damai orang-orang muda menyampaikan sikap dan pendapat. Di tengah kerumunan massa, aktor-aktor kelas menengah ini dan tentu saja minus mahasiswa Jakarta di panggungnya, membacakan deklarasi. Mahasiswa Jakarta terbiasa menjadi penonton sebab mereka biasa dibayar oleh televisi. Tidak punya inisiatif dalam aksi, sebab mereka percaya belum saatnya menjadi bagian dari kelas menengah tercerahkan. Sementara aktor-aktor kelas menengah tidak bisa lagi dibilang muda, terlalu banyak rekam jejak yang perlu dipertanyakan, berkeluarga sehingga tidak berani ambil risiko apa-apa. Beginilah karnaval jalanan Jakarta, hanya pertunjukan televisi penuh sopan santun, tanpa gairah dimana peserta aksi sama takutnya dengan penguasa. Di Jakarta, penguasa dan penggugat dikalahkan oleh ketakutan mereka sendiri.

Tetapi di Makassar dimana istilah kelas menengah dan agen perubahan hanya milik mahasiswa; mereka menolak untuk takut.  Di sana demonstrasi tidak pernah berubah menjadi karnaval. Tangan tidak boleh berhenti terkepal. Dan bila aparat keamanan telah menyiapkan tameng dan tongkat, itu artinya jangan pernah bermimpi untuk pulang di siang bolong. Mudah menuding aksi mereka rusuh, tidak terkendali, anarkis dan segala macam tudingan lainnya. Tetapi bukankah memang demikian tabiat anak muda, sedikit konyol tetapi penuh gairah. Dalam sistem sosial politik dimana semuanya terpusat di Jakarta maka daerah-daerah bahkan sebesar Makassar tidak pernah diisi oleh elit-elit yang diakui secara nasional. Semua elit berkumpul di Jakarta, mulai dari elit politik hingga pelacur kelas tinggi. Itu sebabnya panggung jalanan mereka tidak memberi ruang untuk orang-orang tua yang berusaha sok muda. Jalanan milik mahasiswa dan anak muda. Jaket-jaket  almamater mereka tidak pernah wangi untuk acara televisi, mereka kumal dibakar terik mentari dan debu jalanan. Maka bila di Makassar sana, anak-anak muda masih berkelahi melawan ketertiban sambil sesekali memungut batu sebagai senjata; dengan semua kekonyolan mereka itulah anak muda –semuda-mudanya mereka-.

De Maccasare Zee Rovers, bajak laut Makassar, ungkapan ketakutan VOC pada Karaeng Galesong lebih dari 3 Abad yang lampau masih menjadi ketakutan penguasa pada masa sekarang. Di kampus-kampus Makassar sebagaimana pernah saya datangi, ragam kelas sosial latar belakang mahasiswa masih terjaga. Kampus masih menjadi tempat yang nyaman untuk menyampaikan gagasan dan bukan bermain futsal. Nyali mereka senantiasa terpelihara sebab mereka tahu, jauh dari pusat kekuasaan tidak satu kekuatan pun akan melindungi mereka. Di antara kegelisahan kita melihat mahasiswa-mahasiswa wangi dan centil yang berdandan menor mengendarai mobil orang tuanya, ada asa di timur sana. Jakarta mungkin saja tetap akan menjadi pusat kekuasaan tetapi rasa-rasanya tidak akan lagi pernah menjadi pusat perlawanan mahasiswa. Matahari terbit dari timur, perlawanan anak muda memberi cahaya dari ufuk sana. Makassar adalah kiblat gerakan mahasiswa Indonesia. Selamat tinggal mahasiswa Jakarta.

  • Share/Bookmark

31 Responses to De Maccasare Zee Rovers; Selamat Tinggal Jakarta

  1. erickh

    nyanjungnya jangan tinggi kali ntar nak makassar gak bisa tidur lagi

  2. Usamah

    Mantab kali cara pandangnya …..

  3. jofa

    jadi anda membenarkan tindakan mahasiswa yang menghancurkan properti orang? melukai orang lain?

    tolong bedakan antara kenakalan masa muda dan perilaku anarkis

  4. The Fighter

    dalam diam mengutuk kehidupan,
    jiwa yang merana karena rintihan yang tertelan
    sebuah kenyataan yang harus di terima

  5. yang nulus orang goblok

    MAhasiswa Makasasar ga pernah kuliah….anarkis kok dibanggakan…kuliah aja yang benar…taik lo mahasisawa makassar…

  6. nemo

    apakah semua harus dilakukan dengan perlawanan, kekerasan, anarki untuk mencapai tujuan? secara pribadi demo2 saya gak suka, karena membuat kotor lingkungan, rame, macet. Aktivitas jadi terganggu. Apakah tidak ada solusi selain demo? apalagi ada demo dengan anarki …wah!!
    Siapa mahasiswa itu? apakah kaum intelektual (*katanya) atau kaum preman…

  7. MUMUT

    tulisan yg sangat bagus,,
    to yang nulus orang goblok : lo yg goblok,,dasar anak mami,,cengeng,,manja!!!!!!!!!

  8. Batu Matasso

    De Maccasare Zee Rovers… Saya selalu suka tulisan e.s. ito.
    Memberi pencerahan cara berpandang, sekaligus juga menyentil saya yang hidup di bawah rimbun kemapanan. Sejuk dan aman, itulah keinginan intelektual sekarang, sampai dia lupa, ketika sebilah pisau menghujam perutnya, hanya karena pondoknya terlalu indah dan tak ada receh buat si miskin.

  9. ochan

    memberi kepal tinju kepada penguasa adalah satu hal, dan melempari piring nasi orang lain adalah lain hal.
    saya setuju kepada cara mahasiswa makassar memelihara perlawanan, tapi tetap tidak membenarkan perilaku kekerasan –yg sebagian orang menyebutnya anarkisme.

    hampir tiap sore, di depan kantorku penuh mahasiswa berjas almamater. tidak untuk berdemo. mereka datang untuk menonton tukul. mereka datang menerima takdirnya sebagai mahasiswa masa kini.

  10. TELACO

    kasihan mahasiswa jakarta. spt kerbau di cocok hidungx. cuma bs bergaya dan tepuk tangan di tv. tiap hari cm bs minta uang jajan sm maminya trus di pake dugem..itu yg namanya TAI….

  11. hattaboer

    Wacana yang sarat renungan, membuat hati segar & jiwa bergelora. Darah muda kembali mendidih, serasa ingin kembali ke masa itu. Masa dimana kita tidak mengenal kata lain selain : LAWAN.
    Dan ketika tiba akhir pekan mempersiapkan ransum & peralatan untuk naik gunung, atau sekedar menikmati kesejukan lembah ‘lembanna’..

  12. dedy

    hahahaha…artikel yang sangat keren. mahasiswa jakarta memang harus mengakui hal itu. di mana mereka lebih senang tampil di acara-acara serupa negeri impian, tapi jijik untuk turun ke jalan untuk tujuan advokasi…kacian!

  13. Abraham Lincoln jr.

    bukan anarkisnya yang digaris-bawahi, tapi semangat kepemudaannya. kalau ada yang salah mengerti, saya rasa masih harus belajar lagi. demonstrasi perlu, perlu sekali, tetapi tidak perlu dengan dengan anarkis kalau kondisi masih memungkinkan, kalau tidak memungkinkan…batu di tangan boleh juga.
    menurut saya ini sekedar sentilan bagi mahasiswa-mahasiswa yang naik mobil orang tuanya pergi ke kampus. Indonesia ini negara baru, harus ada yang mengawasi, salah satunya itu tugas mahasiswa..

  14. hars

    Selalu menampilkan sudut pandang yang lain, itulah kekhasan yang kusuka.
    Bagaimana mahasiswa Jkt menjalani hidupnya nanti tanpa tempaan semangat perlawanan masa mudanya. Apaalagi panutannya juga band banci dan lagu2 tanpa isi.
    Bahkan aktivis kampus yang dulu ngotot melawan penggusuran tanah dan lahan petani kecil utk dijadikan lapangan golf oleh babe orba malahan kini lebih genit dari babe dalam mengayun stick mahal sambil cari kesempatan memainkan “stick” di “padang rumput” yang lain bersama caddy rupawan….

  15. Kami

    Mahasiswa Jakarta telah dibungkam kenyataan bukan empat mata itu lucu! maka mereka tidak bicara lagi tentang kenyataan kemiskinan akibat kekuasaan “Amerika dan Barat” yang masuk ke negri kita Indonesia. Mahasiswa Makkasar juga telah dibungkam, maka lempar jumroh pada kekuasaan itu adalah jalan satu-satunya!. Seperti lirik lagu dibawah ini.

    “Apa jadinya jika mulut dilarang bicara?, apa jadinya jika mata dilarang melihat?, apa jadinya jika telinga dilarang mendengar?, jadilah robot tanpa nyawa yang hanya mengabdi pada perintah”. (Iwan Fals, Hura Hura Huru Hara – album Dalbo 1993)

    Jadi jika Mahasiswa Jakarta Telah dibungkam oleh tulisan Es Ito maka tunjukan Bahwa kalian masih mengepal tangan untuk “meninju” kekuasaan “Amerika dan barat” walaupun dengan cara yang Anarkis!

    TIDAK ADA JALAN LAGI SELAIN ANARKIS.

  16. pemuda Jakarta

    Alih alih membangun konsolidasi, malah memancing reaksi…
    tapi gak papalah…
    Makassar memang menjadi kiblat gerakan…
    tapi seberapa besar dan hebohnya gerakan di Makassar tetap mereka tidak akan menghasilkan apapun,
    karena pusat kekuasaan otoritarian ada di Istana negara. Jakarta Pusat..

    bukan pembenaran, tapi kenyataan. apakah ada yang menjamin? memang teori simulakra di Jakarta amat ketara,, tapi dimana rasa kebangsaan yang dicita citakan founding dfathers kita, kalau kita hanya terjebak chauvinisme sempit belaka….

    jangan banyak berdebat soal gerakan. . yang terpenting adalah penerapan…

    revolusi adalah praktek..
    dan Pemuda adalah Pikiran yang bertindak

  17. bob

    mahasiswa makassar kek, jakarta kek sama aja
    aksi kemarin itu hanya jd media sublimasi soalnya dosen jarang masuk dan kalau masuk pun tidak menarik dan membosankan. jd tidak ada itu mikirin apalah yg disebut diatas…sama aja…tapi selamatlah buat semuanya….

  18. paLippui

    sundala’na mahasiswa Jakarta, tahukah kalian apa yang kami rasakan di Ujung Timur? kalian tak tahu itu…sundala kongkong kalian semua. kalian sama saja yang di senayan dan di Istana sama2 penghianat. kami sudah capek nyetor ke jakarta.

  19. me,dei

    bingung juga ya..?bertindak disalahin,diem aja juga dimaki..
    Buatku, kalo pada akhirnya chauvinisme menjamur suatu saat nanti, ya jgn salahkan pelakunya.. Bukan terjebak itu namanya , tapi lebih pada tindakan akhir untuk menyelamatkan diri ketika kumpulan komunitas yang berbeda2 tak lagi satu suara.. tau kan, siapa yg mesti disalahin??

    Big salute to semua yang memutuskan untuk bergerak dan berteriak..!
    Saat yang lain masih saja berkutat dengan konsolidasi (kalo gak mau dibilang berdiam diri hehe..), tapi kalian punya keberanian hebat untuk bertindak dan menerima semua resikonya. Salute to you..!!

    Jakarta… sampul negara yang masih saja terdiam pasrah menerima seluruh kenikmatan tak berujung yang hanya membawa pada penyerahan total atas hilangnya eksistensi Indonesia..

  20. anarki pasti menang...

    http://id.wikipedia.org/wiki/Anarkisme

    anak muda koq masih aja, gak bisa bedain anarki dan vandal…menyedihkan…soekarno saja yang hidup berpuluh tahun lalu, tau bahwa anarki itu sebuah aliran pemikiran ….

    koq bisa kuliah kalo kalian, para mahasiswa segoblok ini…

  21. hars

    Yeah mahasiswa yang gak pernah baca buku, lebih suka nonton impotemen yang genit dan terkooptasi istilah anaki yang selalu dikonotasikan negatif oleh penguasa. Jadi takut dicap anarkis hehehe :P

  22. Rupa-rupa

    70 tahun kekuasaan buatan “barat dan Amerika” berupa Kapitalisme menjajah Indonesia kita, renungkanlah kembali apa yang sudah diberikan oleh penjajah itu. Kan hanya “Kemiskinan” yang hanya kita dapat, lalu buat apalagi kita berdiam diri? Mari Angkatan Yang paling Muda dan Muda angkat senjata kembali untuk perangi dulu Pemerintahan dan kaum politikus yang sudah teracuni otaknya oleh Kapitalisme buatan “Amerika dan Barat”.

    70 TAHUN DAN BELUM LAGI DITAMBAH MASA PENJAJAHAN. PERLU DICATAT JUGA JIKA KAPITALISME TELAH TERGUNCANG SEKARANG INI KEBERADAANYA. JADI KITA TUNGGU APALAGI? TERCATAT SELALU “MISKIN” OLEH SEJARAH ATAU PERANG TANPA PEDULI MENANG ATAU KALAH. HANYA TUHAN YANG TAU INDONESIA LENYAP ATAU TIDAKNYA.

    ES ITO BERANI??

  23. fail

    sudut pandang yg sangat luar biasa…
    banyak anak mami yg tersinggung dengan artikel di atas…

  24. timur

    tulisan yang bagus bung,
    terlalu banyak orang yg tidak cukup awas dan cenderung terjebak dgn sejumlah label buruk (terutama oleh media) ttg prilaku politik mahasiswa mks–sebagai buah dr model pendisplinan wacana oleh kekuasaan, seakan2 setiap aksi tersebut berdiri sendiri dan terpisah dr keterkaitannya dgn sejumlah situasi sosial dan politik-ekonomi, dan karenannya orang begitu mudah menggunakan stumpuk adigum moral bukan hanya untuk menghakiminya tetapi juga membangun hirarki kebenaran: bermoral (jakarta)>< tak beradab (mks)–blue print paling buruk dr narasi orientalisme kolonial.

    nb:mohon izin diseberluaskan bung…

  25. andri satria

    ya sih,,
    mungkin mmg bgtu mhsiswa2 jkt..
    tapi msh ada kok mrk2 (jkt) yg mau berteriak lantang untuk smua ketidakadilan itu…
    jkt kan bkn cuma UI aja bang,’

    haa’aahh..
    saya tau jauh dilubuk hati bang es ito,
    dya cma mencambuk para mhsiswa jkt,!!
    spy mrk smua sadar, dan tidak larut dalam kemewahan dan kenyamanan yg sllu mrk dpt dgn mudah…

    ketahuilah ini bung,,
    ‘ketidakadilan selalu akan dilawan,!!!’
    dimanapun dia berada..!?

    smgadlah kalian,, para mahasiswa!!
    jgn tercerai berai.

  26. Imran

    Imran like this. Titisan Chairil Anwar mulai unjuk gigi….

    Memang kawan, adalah takdir bahwa matahari selalu terbit dari timur dan tenggelam di barat sana !

    Salam hangat,
    imrandgmasse@yahoo.com

  27. khusni mustaqim

    salut pada ES ITO..
    tulisan ES ITO bukanlah sebuah contoh atau panutan, melainkan sebuah gagasan istimewa yang perlu kita renungkan dan kita dalami kembali maknanya..

  28. Ajibbb

    hai pemuda pemudi Indonesia dari luar Jakarta,
    janganlah kalian bersekolah atau kuliah di Jakarta
    Jangan mencari kerja di jakarta
    jangan hidup di jakarta
    Terlalu sumpek di Jakarta, belum lagi bawa kawan2, adik, kakak, orangtua.. Ahhh buat macet Jakarta di mana2.
    kalau sudah tamat kuliah di jakarta.. ayo pulanglah ke tempat asal kita
    Bangun daerah mu masing-masing.
    Tumbuhkan lagi semangat muda mu seperti jaman mahasiswa dulu.

    ” adat istiadat jongkok kemayu adalah feodalisme terselubung ala seberang pulau sana.”

    Setuju banget sama kutipan di atas. Saya tahu apa dan siapa yg dimaksud. Menjijikan hari gini masih ada orang2 yg bangga dg darah turunan darah biru, apalagi kalo yg terlalu rasis.
    Tapi saya perlu membenarkan golongan orang2 itu bukan di jakarta tp ada di dekat situ.

  29. linha

    idealisme yang tergadaikan???
    harusnya babe masih hidup sekarang, dan belajar cara menjinakkan mahasiswa jakarta 1974 dan 1998, seperti sekarang ini..bikin lapangan futsal tiap kampus…he….

  30. 06092

    wah….
    mahasiswa makassar bikin ulah lg,…tawuran lg tuh ky nya…

    tp mendingan kalo ngeliat mahasiswa jakarte yg kerjanya cuma keluar masuk tipi…
    hahayyy…

    dame…dame..

  31. ade

    ada perbedaan yang sangat jelas antara radikalisme dan anarkisme. dan ingatlah, simpati tidak akan menghampiri setiap penghancuran yang terjadi atas nama perjuangan-melulu tapi pemisahan yang jelas dan fokus kepada tujuan-yang-bukan-serampangan.
    for short, perlu edukasi pergerakan yang darurat untuk mahasiswa2 di makassar dan juga di indonesia

Leave a Reply

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes