Ssst…No!!!
by e.s. ito ~ November 3rd, 2009
Ssst…No!
Tanah ini telah dikutuk. Peradabannya berjalan merangkak tiada mampu mengejar keserakahan yang kencang berlari. Di ujung timur sini, pijar matahari baru dirasakan belakangan, kadangkala tidak sama sekali. Harapan-harapan hanya mampu menjadi bayang-bayang dari tragedi. Dan sadarilah, pada saat akal sehat mulai sirna, tarian suka membahana. Bertabuh gendang mereka merayakan kemenangan. Perut-perut buncit bergesekan disiram anggur dan tuak. Sembari itu, orang-orang berseragam membuang sumpahnya ke tong sampah. Sekarang kita baru mengerti, kenapa begitu banyak sumpah, janji dan kode etik mengikat orang-orang berseragam. Sebab, bajingan seperti mereka memang tidak akan pernah bisa dipercaya. Sumpah bagi mereka hanyalah kata-kata gombal untuk mendaki puncak keserakahan. Hari ini, kita menyaksikan dan merasakan, betapa setelah beratus tahun; seragam-seragam senantiasa salah diberikan kepada hewan-hewan yang hanya kenal perut dan kemaluan. Cukup berikan sekerat daging, mereka akan mendengus siap berbuat sebagaimana titah sang Tuan.
Ssst..No!
Trunojoyo meradang, putera Madura yang gagah melawan penjajah itu terjebak dalam sebuah plang. Disakralkan menjadi nama jalan, tetapi mendapatkan kesucian yang ternoda. Sumpah-sumpah terbuang menjadi sampah, berserakan menutupi plang. Seorang laki-laki galak berkata; kami adalah buaya, lebih buas dari Trunojoyo. Kami adalah Durnoboyo. Penuh siasat layaknya Durna, buas tidak kurang dari buaya”. Durnoboyo 1, Durnoboyo 2, Durnoboyo 3, betapa gagahnya mereka itu. Pahlawan-pahlawan yang punya perisai di balik seragam. Tetapi di negeri terkutuk ini, buaya tidak akan pernah beranjak dari pemikiran primitif tentang perut dan kemaluan. Sekerat daging, bawalah kesana, siapapun yang membawanya layak menjadi pawang. Bagi Durnoboyo, sekerat daging jauh lebih berharga dibanding rasa keadilan. Mereka tahu, begitu banyak kesengsaraan karena ketidakeadilan, tetapi mereka juga sadar semakin mereka menegakkannya maka akan lebih banyak lagi makanan terlewatkan. Dasar buaya, apalagi yang bisa mereka lakukan; berjemur dengan mulut menganga menunggu sekerat daging dari sang pawang. Ssst…No! Tidak boleh menyebut nama, cukup ucapkan Durnoboyo, tiga kali banyaknya.
Ssst..No!
Gedung bundar dipenuhi kadal-kadal. Buncit, sehat dengan kulit berkilau. Kadal-kadal bergelantungan di timbangan, beratnya tergantung pada besaran sumbangan. Diam-diam dewi keadilan berbisik, “di tempat ini semuanya bisa diatur” . Itulah akibatnya bila hukum dititipkan pada kadal dan bengkarung. Gedung bundar diubah jadi belukar dimana jual beli kasus bebas dilakukan. Banyak yang bertanya-tanya, sementara keadilan terus diteriakkan, kenapa pasar belukar ini tidak pernah sirna oleh semangat yang membara. Kenapa kadal-kadal semakin banyak sementara dewi keadilan terus bersenandung tentang perkara yang mudah diatur. Politik hanya bisa memberikan janji di atas panggung. Di tanah terkutuk ini, keadilan berakhir di ujung lidah. Sebab bila singgasana sudah didapatkan, kau tidak perlu mengotori tangan hanya untuk membereskan belukar berisi kadal-kadal.
Sss…No!
Pawang pemilik daging tidak akan pernah menyentuh bui. Lihatlah betapa lancarnya lidahnya menari di depan televisi. Gagah sekali dia bicara tentang jumlah daging yang diberikan pada buaya dan kadal. Durnoboyo telah kenyang, tidak kuat lagi berlari. Kadal-kadal menunggu rembulan siap untuk berpesta. Hukum telah dibuang, diinjak-injak oleh hewan-hewan berseragam. Cicak dibui, diancam mati, lalu di depan televisi, sang pengancam bebas berbicara. Saya tidak mengerti, bahkan hewan paling buas pun masih punya nurani. Iblis pun sadar terhukum oleh dosa sepanjang masa. Tetapi hewan-hewan berwujud manusia ini, bagaimana bisa mereka telah kehilangan sentuhan kehidupan. Ada ketakutan yang membuat manusia menjadi tidak begitu beradab. Tetapi terkadang dalam ketakutan yang sangat, manusia bisa menggunakan akal sehat. Kita tidak pernah tahu, sedahsyat apa ketakutan yang menghinggapi makhluk-makhluk ini sehingga mereka sedemikian tidak beradabnya.
Ssst…No!
Cukup sudah bisikannya. Ssst…Tidak, tidak cukup berbisik lagi. Tanah ini telah dikutuk sejak awal zaman, tanaman senantiasa tumbuh subur berbuah keserakahan. Kepercayaan diemban untuk dikhianati. Orang-orang diberi seragam untuk memfasilitasi hasrat jahat mereka. Pemimpin gandrung akan panggung tetapi bila berhadapan dengan masalah keadilan, dia pura-pura linglung. Bila pita hitam saja tidak cukup, kenapa tidak kita hitamkan jalanan. Bila polisi tidak lagi sanggup kenapa tidak diganti saja mereka dengan pramuka. Bila kejaksaan penuh muslihat, kenapa tidak dikandangkan saja mereka semua. Dan bila sang pemimpin terus ragu-ragu, baiknya kita kirimkan saja dia gincu. Pada masa darurat ini, nasib generasi masa depan lagi-lagi dipertaruhkan. Apakah mereka akan hidup di atas tanah terkutuk yang dinaungi awan-awan sumpah serapah. Ataukah kelak mereka akan hidup di tanah Indonesia yang terberkati di bawah naungan langit biru yang bebas korupsi.
Ssst…No!
Saatnya sudah tiba, jutaan orang siap menghitamkan jalanan. Berikan hadiah terbaik untuk generasi masa depan; sebuah harapan.
[image: wayang-graphy.blogspot.com]

November 4th, 2009 at 1:13 am
bento, bento, bento.. huhhh
November 4th, 2009 at 5:44 am
Mohon maaf, blog ini saya share di Facebook saya tanpa minta izin dulu
November 4th, 2009 at 10:32 am
hahaha…di ganti pramuka? ide menarik
November 4th, 2009 at 11:21 am
Kita Teriakkan Lagi Lagu Wajib Ini:
BONGKAR!
Kalau cinta sudah dibuang
Jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang diperkuda jabatan
Oo, ya o ya o…, ya BONGKAR!!
Oo, ya o ya o…, ya BONGKAR!!
Sabar! Sabar! dan Tunggu!
Itu jawaban yang kami terima
Ternyata kita harus ke jalan
Robohkan syetan yang berdiri mengangkan
Oo, ya o ya o…, ya BONGKAR!!
Oo, ya o ya o…, ya BONGKAR!!
Penindasan, serta kesewenang-wenangan
Banyak lagi, teramat banyak untuk disebutkan
Hoi hentikan, hentikan jangan diteruskan
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan
Di jalanan, kami sandarkan cita-cita
Sebab di rumah, tak ada lagi yang bisa dipercaya
Orangtua, pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya, tolong kau jawab dengan cinta…..
Oo, ya o ya o…, ya BONGKAR!!
Oo, ya o ya o…, ya BONGKAR!!
Oo, ya o ya o…, ya BONGKAR!!
Oo, ya o ya o…, ya BONGKAR!!
November 4th, 2009 at 4:44 pm
Damai mungkin akan hilang
Cinta juga mungkin akan hilang
tetapi, jika harapan masih ada, kedamaian dan cinta dapat menyala kembali…
November 5th, 2009 at 11:54 am
rakyat siap kembali menghitamkan jalanan.
di negeri ini mungkin hanya demonstrasi yang bisa memberi arti
November 5th, 2009 at 5:20 pm
Hallo, Salam buat Pak Guru Uban, eh… Pak Guru Armahedi Mahzar yang ikut memantau website ini juga.
November 6th, 2009 at 10:27 am
izin share brur…
November 9th, 2009 at 10:48 am
hufff…!!
November 22nd, 2009 at 8:11 pm
Yupz,.
thx ya bang es ito,,
dah saya bagikan lwt FB neh…
November 25th, 2009 at 3:07 pm
Izin copas ya bang? May I?
December 9th, 2009 at 1:56 am
Tanah terkutuk yg lo sebut itu…adalah tanah tempat gw diletakkan..
Tanah terkutuk yg lo tulis itu … adalah tempat gw hirup udara
Tanah terkutuk yg lo caci itu … adalah tempat gw berdiri nikmati senja
Tanah terkutuk yg skrg membeku itu… adalah tempat gw bersenandung
Dan YA … Gw tetap mencintainya
Untuk selamanya..tentu saja