Register

Log in

StatPress

Visits today: 67
Total: 20026 since June 12, 2008
Es Ito's Facebook profile

ES ITO Twitter

Pertemuan (Ekstra) ; Lopa, Hoegeng, Natsir dan Hari Pahlawan

by e.s. ito ~ November 10th, 2009

hoegengSemenjak Eyang Harto berhasil menangkap dan memenjarakan Sutan Sjahrir alias Si Kancil yang katanya atas berkat jasaku itu, dengan beban dosa yang begitu besar di dada aku tidak tahu harus kemana. Eh Stop Dulu! Bagi kalian para pembaca sok intelek yang tidak mengerti dengan prolog tulisan ini baiknya kalian baca tulisanku berjudul, Pertemuan (1), (2) dan (3) yang dapat kalian temukan di blog ini. Kalau kalian juga tetap tidak mengerti, sudahlah jadi tukang pijat sama pengedar sabu saja kalian kayak si Ong Juliana Gunawan. Dengan begitu, tanpa perlu mematut diri sebagai intelektual berpikiran maju, kalian bisa berkawan dengan elit-elit keren yang senantiasa butuh “duren”. Tetapi sudahlah, kalian mengerti atau tidak, aku tidak pernah peduli. Lagipula dalam dunia yang semakin aneh ini, terkadang kita bebas menulis tanpa perlu dimengerti. Nah, aku lanjutkan cerita petualanganku di dunia antara ini ya.

Eyang Harto hendak menjadikanku sebagai juru bicaranya. Tentu saja aku ngeri membayangkannya, juru bicara di alam kubur; bah, mending dia tawarkan saja pada pengamat-pengamat politik yang syahwatnya begitu tinggi untuk jadi jubir presiden. Jadi aku tinggalkan istana Eyang Harto yang penuh dengan perempuan molek, seksi tanpa bekas kudis itu. Tanpa Si Kancil, aku tidak tahu harus kemana. Aku ingin kembali ke atas sana, tetapi tidak tahu cara kembali. Inginku mencari Si Jon kawan seperjalanan, tidak ada jejak yang bisa ditapaki. Mungkinkah Jon masih berkeliaran di alam barzakh ini, tersesat? Atau jangan-jangan dia sudah kembali ke atas sana dan mulai produksi sinetron bersama Tuan Ram? Aku terus berjalan, tanpa tahu kemana arah tujuan. Hingga dalam hari-hari yang tidak mengenal siang dan malam kecuali pekik yang mengingatkan semakin pendeknya umur dunia di atas sana, aku terdampar pada suatu tempat mirip terminal bus kampung rambutan, tentu saja tanpa Metro Mini, PPD, Kopaja, mikrolet dan tukang copet. “Area Penjemputan”, demikianlah terpampang tulisan dalam bahasa Indonesia (tentu tulisan itu paling bawah, jauh di bawah bahasa-bahasa lain). Awalnya aku tidak mengerti, tetapi setelah aku berkeliling dan membaca dokumen dan pengumuman yang ada, otak yang cerdas ini cepat menangkap. Inilah terminal tempat para penghuni Surga menjemput penghuni neraka yang telah membayar semua dosanya di atas dunia dulu kala dan sekarang berhak memanen pahala mereka di surga.

Istimewanya, setiap penjemputan disesuaikan dengan peringatan Hari Pahlawan setiap bangsa. Untuk manusia-manusia yang berjuang untuk kemerdekaannya tentu ini saat yang membahagiakan. Bangsa-bangsa yang kemerdekaannya dihadiahkan seperti Malaysia tentu bingung menentukan hari pahlawan mereka. Atau bangsa yang tidak pernah dijajah macam Thailand, arwah pendahulu mereka lebih penasaran lagi, kurang seksi apa tanah air mereka sehingga tiada imperialis yang menjadikan mereka koloni? Aku seperti merasa tidak asing di tengah kerumunan manusia dengan wajah berseri-seri itu. Perawakan orang-orang ini tidak jauh berbeda denganku. Tidak begitu mirip sih, sebab yang menjemput dari Surga kulitnya jauh lebih licin bercahaya sedangkan yang baru keluar dari neraka, mereka nyaris gosong semua. Tetapi intinya, aku merasa mirip dengan mereka. Mungkinkah mereka ini dulu hidup di tanah air Indonesia? Aku coba mengingat-ngingat waktu di alam yang tidak mengenal siang malam ini, jangan-jangan, barangkali….ah..apa iya…bisa saja…… saat ini tanggal sepuluh November, peringatan hari pahlawan Indonesia. Aku pasang kuping penuh perhatian, suara-suara itu tidak asing lagi, mereka bercakap dalam bahasa yang nyaris punah di atas dunia sana (akibat presidennya terlalu sering mengutip sesuatu yang tidak penting dalam bahasa Inggris), tidak salah lagi mereka orang-orang Indonesia dulunya di atas dunia dan hari ini adalah Sepuluh November.

Aku terjebak dalam bauran manusia, berkelompok-kelompok mereka. Surga mengutus penghuni terbaik untuk menjemput orang-orang yang satu profesi dengan mereka kala di atas dunia. Petani menjemput petani, buruh juga begitu, pegawai juga, pedagang apalagi dan tentu saja mertua yang baik menjemput menantu yang juga satu profesi. Lama sekali aku terjebak dalam terminal penjemputan ini. Riuh rendah suara dari mereka yang akhirnya bertemu kembali. Semakin lama semakin ramai saja terminal ini, tidak ada yang memperhatikan makhluk dunia fana yang terjebak di alam barzakh ini.  Pada puncaknya terminal ini penuh. Lalu perlahan, kerumunan itu mulai berkurang, seiring dengan mereka yang membawa kawan satu profesinya menyeberang menuju surga. Begitulah, orang-orang yang beruntung itu semakin menyusut tanpa seorang pun yang mengajakku. Lantas aku berpikir-pikir, apa tidak ada penulis yang masuk surga? Aku kuatir, jangan-jangan aku akan tinggal sendiri di terminal ini. Aku mengedarkan pandangan ke segala penjuru, nyaris kosong.  Tetapi pada satu sudut, aku melihat tiga orang utusan surga yang masih dalam penantian. Aku merasa ada kawan, buru-buru aku menghampiri mereka.

Ah, ini tidak mungkin, aku nyaris tidak percaya. Aku mengenali mereka, bukankah orang suci bermuka bersih ini Buya Mohammad Natsir? Di sebelahnya aku juga tahu walaupun tidak begitu kenal, Hoegeng Imam Santoso. Tentu saja aku tahu, sebab dengan seragam polisi lengkap, terpampang papan nama di dada kanannya. Satu orang lagi, aku coba menerka-nerka. Wajah dan perawakannya tidak asing, tetapi penampilannya jauh berbeda. Dengan dandanan ala A Rafieq, dia tampak seperti Pop Star di dunia antara ini. Lirikan matanya, mengingatkan pada seseorang. Tanpa bisa dihentikan lagi, mulut sialan ini bergumam,

“Bukankah anda, Baharuddin Lopa?”

“Ah, kemana saja kau. Di dunia dulu aku pendekar hukum, di alam sini aku jadi idola surga”, jawabnya dengan logat Mandar.

“idola?”, aku semakin bingung, apalagi melihat begitu banyak bekas lipstick di lehernya. Apa di surga juga ada groupies yang kehilangan logika?

“Ah mas ini kemana saja toh”, Hoegeng menimpali, “teman kita ini mendadak jadi beken gara-gara kami di bawah sini mendengarkan musik jauh dari atas dunia sana”

“Musik?”, nah, aku semakin bingung.

“Kemana aja mas? Di atas dunia sana, sebuah band bernama Kuburan mempopulerkan lagu berjudul Lopa. Nah di seluruh penjuru alam ini, mana lagi Lopa selain mas kita ini”, Hoegeng mulai bersenandung, “Lopa, Lopa lagi Jaksanya. Ingat, ingat lagi aksinya…..”

Aku tidak tahan mendengar Hoegeng menyanyi dengan irama Lautan Teduh ala Hawainya. Rupanya dia masih ingat masa-masa jayanya setelah pensiun jadi polisi dan mengisi acara di TVRI. Sementara Lopa menyunggingkan senyum jumawa, lagu itu telah menaikkan pamornya di alam sini. Tetapi aku lihat Buya Natsir masih diam seribu bahasa.

“Maaf Buya, kenapa masih disini sementara yang lain telah kembali membawa kawan-kawannya ke surga?’, aku beranikan diri bertanya.

“Anak muda”, ucap Buya dengan suara bergetar, “dalam pergaulan ada adabnya. Sebelum berbicara baiknya perkenalkan diri terlebih dahulu. Apa pekerjaanmu?”

“Saya penulis, Buya”, jawabku pendek tidak ingin terjebak polemik apakah aku memang sudah pantas berada di alam sini atau belum.

“Ah, penulis kau rupanya”, Lopa ikut bersuara, “pantas saja kau masih disini. Rasanya tidak ada pula penulis yang bakal masuk surga. Bukankah pekerjaan kalian mencampuradukkan fakta dan fiksi. Membuat kebenaran menjadi kabur oleh kebohongan. Sudahlah, sia-sia saja kau disini. Sebaiknya kau pergi saja, sebelum malaikat berubah pikiran dan menyerutmu ke neraka”

Aku terperanjat mendengar tanggapan Lopa. Ingin rasanya pantatnya ini aku ajak pergi. Tetapi rasa penasaran lebih besar dari keinginan untuk pergi.

“Lalu kalian sendiri mengapa masih disini, sementara utusan lain telah kembali?”, aku balik menantang.

“Kami masih menunggu”, ucap Buya pendek.

“Kenapa begitu lama?”, tanyaku lagi.

“Ah begini kawan”, kata Lopa dengan gaya koboinya menepuk pundakku, “aku ini menjemput para jaksa dari neraka. Kau tahu sendiri, pekerjaan kami di atas dunia menelanjangi manusia lewat penuntutan. Nah rupanya, mungkin di alam sini malaikat merasa perlu menelanjangi kami lebih jauh dibanding yang lainnya. Ini hanyalah masalah birokrasi”

“Saya tidak jauh berbeda dengan Mas Lopa”, Hoegeng ikut bicara, “tugas saya menjemput para polisi. Di atas dunia dulu, sehari-hari kami menegakkan hukum, melakukan tindakan terhadap pelaku kriminal dan menjaga ketentraman masyarakat. Tentu, ah mungkin, di alam sini perilaku kami ditelisik begitu dalam hingga tindak kriminal yang paling kecil. Ini hanyalah masalah kriminalisasi ala neraka”

“Dan bagaimana dengan Buya?”, aku tidak sabar mendengar jawaban tokoh besar Masyumi ini.

“Sama saja anak muda. Aku menjemput para politisi. Di dunia dulu kami diberi beban amanah yang besar untuk mengelola negara, menciptakan hukum dan memastikan terpenuhinya hak-hak rakyat. Aku menunggu cukup lama dibanding yang lain karena mungkin begitu banyak yang harus dipertanggungjawabkan para politisi terhadap tindakan mereka di atas dunia dulu. Anak muda, itulah alasan-alasan politisnya”

Aku hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Terbayang betapa besar harapan mereka untuk bisa bertemu kawan seperjalanan. Tetapi aku masih belum merasa puas dengan jawaban mereka. rasanya jawaban mereka itu terlalu diplomatis, khas gaya birokrat. Sebab setelah aku pikir, kalau Surga dan Neraka ini sudah ada sejak penciptaan dunia tentu masalah birokrasi, kriminalisasi dan politis sudah diantisipasi sedemikian rupa sehingga tidak perlu dipolitisir.

“Atau jangan-jangan memang tidak ada kiriman dari neraka untuk kalian bertiga?”, aku terus memancing.

“Sorry yee…emangnya kita-kita penulis!”, serempak ketiganya menjawab. Ah, kenapa tiga orang ini begitu sensitif sama penulis. Apa karena aku belum bersedia menulis biografi mereka?

“Buktinya kalian masih disini dan belum satu pun dari kawan kalian yang datang?”, karena mereka terus menyerang penulis, aku tidak enggan lagi membalas.

“Ah, memang sejak di dunia dulu nasib kami sudah begini. ”, Hoegeng mulai mengeluh, “anda bayangkan saja, sejak republik Indonesia terbentuk, hanya satu polisi yang diangkat sebagai pahlawan nasional”

“Dan orangnya tentu saja anda, Jenderal”, sergahku.

“Bukan saya Mas, saya juga tidak mengharapkan itu. Dialah Aipda Karel Sasuit Tubun, kebetulan tengah berjaga di rumah Waperdam Leimena, menjadi korban dari G 30S/PKI. Bayangkan mas, pahlawan dari polisi, hanya karena kebetulan berjaga? Oh betapa menyedihkan”, Hoegeng kembali menyenandungkan tembang kenangan dengan suara lirih. Aku tidak tahu, apakah suaranya mirip Bob Tutupoli atau Broeri Marantika.

“Sudahlah Geng. Tidak ada pula jaksa karir yang diangkat jadi pahlawan nasional. Sama sajalah kita ini”, Lopa coba menghibur Hoegeng.

“Wah kalau itu tidak bisa disamakan dong, Mas. Jaksa mungkin pantas diperlakukan begitu, bukankah kalian seringkali menghentikan perkara yang telah kami limpahkan?”, Hoegeng malah memancing.

“Ah kau ini, Geng. Aku kasih hati, kau balas dengan caci. Coba kau sebut, perkara mana yang aku hentikan. Malah perkara yang bikin aku diberhentikan. Mulai dari perkara Toni Gozel yang membuat aku dimutasi sebagai Kajati Sulsel, kasus Soeharto pun aku buka kembali hingga kasus pengusaha-pengusaha kakap yang membuat aku diberhentikan dari kehidupan dunia dengan cara yang misterius”, Lopa membayangkan dunia yang semakin gila, “para politisi lah yang membuat semuanya runyam. Terlalu banyak kepentingan yang bermain sehingga hukum hanya menjadi ornamen keserakahan”

Karena Lopa mulai menyinggung-nyinggung politisi, aku menunggu reaksi dari buya Natsir. Tetapi tidak ada tanggapan apa-apa. Sebagaimana riwayatnya, Buya ini tidak mudah diprovokasi.

“Wah kalau soal reputasi mas, kita tidak jauh berbeda. Bukan kejahatan yang berhasil kita cegah. Malah kejahatan dan persekongkolanlah yang membuat kita diberhentikan. Tentu Mas Lopa ingat, Soeharto mencopotku sebagai Kapolri gara-gara aku menangkap Robby Tjahjadi, penyelundup kakap yang dekat dengan Cendana itu”, Hoegeng sengit membalas. Kedua orang ini memang punya reputasi luar biasa dalam penegakan hukum di Indonesia. Tetapi di negeri Indonesia yang mungkin berdiri di atas sana, setiap maksud baik selalu dicurigai. Dan bila maksud baik itu menjadi tindakan nyata, maka sang penggagas akan terpental dari singgasana. Itulah negeri dimana orang-orang ramai berteriak kebajikan selagi melakukan kemungkaran secara berjamaah.

“Sudahlah Tuan-Tuan, tidak usah pula masalah gelar pahlawaan itu diperdebatkan disini. Toh, kalian sudah mendapatkan ganjaran semestinya di sini”, Buya menengahi keduanya.

“Ah Buya sih enak ngomong begitu, secara udah dapat gelar pahlawan gitu loh”, balas Lopa. Ternyata penganugerahan gelar pahlawan untuk Natsir tahun lalu juga terdengar hingga alam sini.

“Betul Mas.  Mas Buya coba bayangkan, berapa banyak sih politisi? Coba bandingkan dengan kami anggota kepolisian, sudah berjuta jumlahnya mungkin semenjak zaman kemerdekaan. Hanya satu yang diangkat menjadi pahlawan, itu pun karena kebetulan. Apa memang benar-benar tidak ada polisi baik yang patut dijadikan teladan?”, Hoegeng menimpali penuh semangat.

“Yang baik tentu ada, tetapi tidak perlu semua jadi pahlawan kan. Lagipula, mungkin begini ya Geng, mungkin tidak banyak polisi yang tercatat dalam perjuangan kemerdekaan. Itu sebab peluang jadi pahlawannya jadi kecil”, Buya mulai terjebak dalam perdebatan ini.

“Wah Mas Buya ini rupanya lupa. Pada saat awal berdirinya, Jenderal Soekanto mengatakan tujuan dibentuknya kepolisian republik indonesia adalah, Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menyatakan Poelisi Istimewa sebagai Poelisi Repoeblik Indonesia”, getar patriotis terdengar dari suara Hoegeng, dia benar-benar bangga kepada korpsnya, “kurang apalagi kami ini Mas Buya, bahkan pak Soekanto saja tidak diangkat jadi pahlawan”

“Loh kenapa ?”, aku ikut bertanya.

“Soekanto terlalu dekat dengan Sutan Sjahrir. Bahkan hingga alam sini, dia masih saja ikut Sjahrir sehingga tidak pernah sampai di terminal ini”, Buya menjelaskan dengan gamblang. Aku bingung sebab selama perjalananku bersama si Kancil belum pernah sekalipun dia menyebut nama Soekanto. Apa memang polisi pantas untuk dilupakan ya?

Aku lihat Lopa diam saja. Dia malah asyik mengisap cerutu kelas satu, kemewahan yang tidak pernah dia kecap di dunia. Ketiga orang ini tentu tidak perlu berdebat bila bicara masalah reputasi menghadapi kehidupan duniawi. Dalam jabatan tinggi, mereka memilih untuk hidup papa tanpa berlebihan meminta fasilitas negara. Natsir mengembalikan mobil dinasnya pada saat berhenti sebagai Perdana Menteri, lantas pulang ke rumah membonceng sepeda. Hoegeng pada saat menjadi Kapolri menolak semua upeti dari para cukong, malah memburunya. Pada saat menjadi kepala jawatan imigrasi dia meminta istrinya menutup toko bunga, karena tidak ingin tiba-tiba semua orang yang berurusan dengannya membeli bunga disitu dan membuat toko lain rugi. Lopa, setali tiga uang, hidup dalam dunia dimana akal sehat telah dikalahkan oleh kehendak hewani kemewahan, Lopa berhasil melawannya. Sebagai Menkumham dan kemudian Jaksa Agung, Lopa benar-benar hidup pas-pasan. Mesin fax dianggapnya mewah. Mobil dinas tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi bahkan sedekar untuk ditumpangi anak ke sekolah. Pada hari pahlawan ini mereka mungkin tengah menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang.

“Eh kawan, siapa kau sebenarnya? Rasa-rasanya tampangmu ini tidak beken sama sekali. Kok bisa-bisanya ikut kami dalam penjemputan ini?”, Lopa tiba-tiba bertanya padaku. Aku sebenarnya sedikit tersinggung dibilang tidak beken, tetapi sudahlah, susah juga melawan anak Mandar ini.

“Aku tidak berasal dari Surga. Aku berasal dari atas sana. Kemarin aku ikut petualangan bersama Sjahrir yang sekarang terjebak dalam penjara Eyang Harto.

“Ah anak muda, kamu ini sudah salah pergaulan. Sudah jatuh ke dalam sini, ikut Sjahrir pula. Makhluk itu tidak mengenal waktu kalau urusan politik, tidak pernah istirahat”, di luar dugaanku mereka sama sekali tidak penasaran dengan penjelasanku. Rupanya nama Sjahrir cukup jadi mantra agar logika menerima semua yang aneh-aneh di bawah sini.

Tanpa Si Kancil di dunia antara ini, aku tidak berani berdebat lebih jauh. Aku benar-benar kehilangan si Kancil.. Dalam hitungan waktu normal, mereka sudah menunggu sama lamanya dengan pemadaman listrik bergilir. Menurutku ketiga orang suci ini mulai gelisah. Bayangkan saja, sementara utusan dari profesi lain sudah membawa rekan mereka ke surga, mereka masih menunggu dengan tangan hampa. Lopa merapikan rambut ala A Rafiq nya yang mengkilap. Suasana sepi membekap, Hoegeng tidak lagi bersenandung. Lah, bagaimana dengan si Buya Natsir? Nah kalian para pembaca yang sok tahu tentu juga akan kaget. Buya Natsir mengeluarkan dari kantong jas Armalik nya sebuah Blackberry. Lincah jemarinya menari layaknya anak baru gede yang baru dapat gadget.

“Eh Lopa, sudah hampir tembus satu juta”, aku tidak mengerti dengan ucapan Buya, “gerakan satu juta arwah dukung Lopa jadi idola!”, aku shock mendengarnya. Setelah dulu mendengar cerita si Kancil betapa dia sering mencari bahan diskusi di wikipedia, sekarang buya Natsir tergila pada Facebook.

“Apa aku bilang Buya. Tidak ada penghuni surga yang tidak kenal aku sejak lagu “Lopa” itu populer di alam sini”, di alam pembalasan amal ini, tentu sah-sah saja menyombongkan diri, “aku yakin Buya, tidak ada yang akan menandinginya”

“Sayang sekali Lopa, ada gerakan di atas sana. Seperti yang sudah aku ceritakan, ini gerakan menuntut keadilan, bebaskan Chandra dan Bibit. Pendukungnya di dunia arwah ini melewati jumlah pendukungmu. Gerakan sejuta arwah untuk bebaskan Chandra dan Bibit di atas sana, benar-benar luar biasa”, jawab Buya.

“Mas Buya, aku sebenarnya sedih sekali mendengar berita di atas sana. Pedih rasanya hati ini, mendengar kabar buruk tentang polisi”, Hoegeng bicara bersungguh-sungguh.

“Kau juga ingin membela mereka di alam sini Geng?”, potong Lopa.

“Ah tidak Mas Lopa. Aku tahu, lambat laun masyarakat akan muak dengan perilaku polisi. Yang aku sesali hanyalah, kenapa begitu sedikit waktu yang diberikan padaku untuk dapat berbuat banyak meletakkan dasar keteladanan yang kokoh untuk kepolisian”, wajah Hoegeng benar-benar murung, “rekrutmen polisi itu bermasalah. Sogok menyogok bukan rahasia lagi. Titip menitip apalagi. Tetapi yang lebih bermasalah, orang-orang yang masuk polisi itu sebenarnya lebih berbakat di dunia seni daripada penegakan hukum. Sebagian berbakat jadi sutradara untuk teater rekayasa. sebagian lainnya menjadi aktor yang menjalankan sebuah sandiwara. Sisanya, menjadi kru dalam produksi sinetron yang menjadi tontonan memalukan. Penyelidikan bisa disesuikan dengan kepentingan penonton. Penentuan tersangka, bisa diatur lewat skenario yang mendebarkan. Dalam dunia sinema yang kejar tayang itulah para cukong menebar uang untuk biaya iklan”

“Tetapi Geng,  ini bukan hanya kesalahan satu generasi. Adik-adik penerusmu di atas dunia sekarang lahir dari generasi sebelumnya. Mereka berpandangan, sebagaimana pendahulunya bahwa menjadi polisi bukan sekedar mengabdi tetapi sekaligus memperkaya diri. Senjata bukan untuk melindungi masyarakat tetapi membantu mereka yang berkuasa. Tidak semua polisi buruk Geng, kita harus berprasangka baik, tetapi yang baik-baik ditelan oleh mulut buaya yang buruk. Sungguh kasihan mereka itu”, Buya Natsir coba menghibur.

“Betul Mas Buya, tidak hanya polisi tetapi masyarakat juga bersalah. Mereka membesarkan polisi dengan cara yang salah. Menganggap semua masalah bisa diselesaikan lewat transaksi. Dari jalanan hingga gedung tinggi sudah jadi kebiasaan. Jadi bila polisi hendak dibersihkan, maka pikiran masyarakat perlu disehatkan. Dan aku takut Mas buya, di atas sana mereka tidak cukup punya waktu lagi. Bila kepercayaan pada polisi sudah mencapai titik nadir, hukum tidak lagi mampu ditegakkan, maka republik tercinta hanya menunggu waktu kehancuran tidak lama lagi”

“Walaupun langit mau runtuh, hukum tetap harus ditegakkan”, bergetar suara Lopa memotong Hoegeng, “tetapi kenyataannya di dunia sekarang para jaksa menciptakan aksioma baru, walaupun hukum mau runtuh, perut tetap harus diselamatkan. Semuanya kacau Geng, kita mengalami sendiri. kita tersingkir, karena sebenarnya tidak pernah diinginkan muncul dalam dunia hukum Indonesia. Sebagian besar jaksa sebenarnya tidak berbakat menjadi pendekar hukum. Mereka hanyalah para saudagar yang tidak berani bertarung dalam dunia perniagaan sesungguhnya. Tanpa barang, mereka memperdagangkan keadilan. Kasus dilabeli tarif tertentu, tergantung siapa yang sanggup membelinya. Kasus bisa dihentikan sepanjang ada uang pengganti. Kasus juga bisa dicari, bila yang dihadapi adalah orang-orang yang tidak berdaya. Jaksa Agung memberikan target dan bonus kepada Kajati dan Kajari agar mereka menemukan kasus sebanyak mungkin. Logika apa yang dia pakai, orang berharap kejahatan makin berkurang dia malah sebaliknya. Untuk bonus, kasus bisa diada-adakan. Buya, Hoegeng dan kau juga penulis tidak beken; inilah masalah keadilan kita. Kehormatan tidak lagi sesuatu yang mulia, keadilan tidak lagi dijunjung tinggi dan aku juga percaya, di ujung jalan sana republik proklamasi itu tengah meretas jalan menuju ketiadaan”

Aku terkesima mendengarkan para jagoan hukum ini berbicara. Reputasi mereka tidak usah dipertanyakan lagi, Tuhan tidak mungkin salah menaruh mereka di surga yang abadi. Walaupun belum tahu pasti aku bisa kembali ke atas sana, aku ngeri sendiri membayangkan republik Indonesia mesti berakhir bukan karena invasi atau wabah, tetapi karena para penegak hukumnya justru menjadi dalang dari kehancuran hukum itu sendiri. Proses itu tengah terjadi di atas sana, aku percaya, pada satu titik orang-orang tidak akan merasa aman lagi berada dalam naungan republik yang sama. Mereka menginginkan alternatif yang lebih menjanjikan harapan.

“Hadirin sekalian”, Buya Natsir mulai berbicara layaknya mau khutbah Jumat, “Dulu sekali, kita bersama-sama membangun republik ini dengan pemikiran bahwa di tangan bangsa sendiri, keadilan bisa lebih ditegakkan dibandingkan dengan pemerintah kolonial. Hak-hak rakyat bisa dipenuhi melebihi pemenuhan oleh penjajah. Itulah logika kemerdekaan. Itulah arti darah-darah yang tertumpah di Surabaya sepuluh November. Tetapi bila di tangan bangsa sendiri ternyata ketidakadilan merajalela, hak-hak rakyat tercerabut dan para penegak hukum gila harta; apa artinya semua pengorbanan itu? Aku sedih, negeri yang ditegakkan oleh orang-orang besar sekarang dikelola oleh para bandit.  Ah, mungkin salah kami juga para politisi, terlalu banyak ribut dulu kala sehingga Konstituente tidak sempat menyelesaikan konstitusi”

“Nah, itu Buya ngaku. Politisi juga berperan besar tuh!”, tanpa dikomando, berbarengan Lopa dan Hoegeng menimpali.

“Aku tidak mengingkarinya. Kesalahan besar para pemimpin politik adalah pada saat mereka memberhalakan politik itu sendiri. Padahal politik itu adalah pilihan paling hina untuk membantu masyarakat menata hubungan sesamanya. Pilihan terakhir yang sayangnya telah menjadi segalanya. Pada saat politik menjadi berhala, maka dosa menjadi suatu hal yang biasa. Khianat terhadap kepercayaan rakyat menjadi strategi pemenangan. Uang bertebaran dan layaknya Samiri yang mengkhianati Musa mereka menjadikan uang sebagai sapi suci yang layak disembah. Kekuasaan bukan lagi bertujuan pengabdian tetapi penghambaan pada materi. Inilah sumber kehancuran segalanya. Di atas sana mungkin ada sebagian kecil politisi berdedikasi, tetapi lihat sajalah nanti; pada saat mereka merasakan enaknya kekuasaan maka mereka tidak akan berani menolak kemewahan. Mereka tidak menganggap kekuasaan sebagai ujian malah menuntutnya lantas sujud syukur pada saat mendapatkannya. Orang-orang ini biasa memperdagangkan agama untuk kekuasaan. Membesar-besarkan Sunah Nabi, padahal yang hakiki dari kitab suci seringkali mereka khianati”, penjelasan Buya Natsir begitu jernih.

“Buya, setahu saya, di atas dunia sekarang ada partai mirip Masyumi; Partai Kaya Sunah”, ragu-ragu aku memotong sang Buya.

“Begini anak muda, Sunah Nabi tentu teladan yang mesti diikuti. Tetapi tidak patut untuk diperjualbelikan dalam strategi politik. Lagipula, kamu jangan sembarangan dong. Masa Partai Kaya Sunah mau disamakan dengan Masyumi yang super keren. Mimpi kali yeee…”, ternyata di alam barzakh ini Buya Natsir narsis juga, “begini anak Muda, Masyumi itu partai yang berakar Indonesia dengan nilai-nilai luhur Islam di dalamnya. Nah kalau partai yang kau sebut itu, aku pernah dengar gosip; Partai itu berakar di padang pasir jauh di Afrika Utara sana, lantas memolesnya sedikit dengan ornamen Indonesia agar bisa mendapatkan kekuasaan. Lihat saja perkembangannya nanti, bila mereka mendapatkan kekuasaan, kelakuannya tidak akan jauh berbeda. Sudahlah, tidak usah mau jadi sok-sok Masyumi, partai kami tiada tandingan”

“Ampun Buya….Masyumi memang hebat”, berbarengan aku, Hoegeng dan Lopa menimpali.

Lagi-lagi sepi dan sunyi kembali. Ketiga almarhum keren itu, sekarang benar-benar dilanda gelisah. Mungkin mereka berpikir, bisa jadi tidak seorang pun teman satu profesi yang bisa mereka bawa ke surga. Buya tertunduk lesu, Lopa kebingungan dan Hoegeng memegang kepala.

“Anak muda, kami ingin jujur kepadamu”, Buya Natsir kembali buka suara.

“Baiklah, kenapa Buya?”, aku bingung menanggapinya.

“Sebenarnya, sudah sekian hari pahlawan kami lalui di terminal penjemputan ini”, Buya menarik nafas panjang, “dan kau tahu, dalam penjemputan-penjemputan sebelumnya. Tidak seorang pun dari kami bertiga yang berhasil membawa kawan seprofesi ke surga. Aku kuatir bila kali ini kami kembali pulang dengan tangan hampa”

“Benar kawan”, Lopa menimpali, “kami iri dengan profesi lain yang banyak membawa kawan ke surga. Tetapi tidak satu pun jaksa, polisi dan politisi yang bisa kami bawa dalam penjemputan sebelumnya”

“Semoga kali ini berbeda”, Hoegeng memberikan harapan.

Tiba-tiba angkasa bergemuruh. Kilat sambar menyambar, putih bersih warnanya. Aku mulai berpikir-pikir, jangan-jangan wartawan lengkap dengan lampu blitz sudah sampai kemari untuk meliput penulis keren yang terjebak dalam alam yang tidak diinginkan ini. Ternyata pikiran picikku itu salah. Wajah Natsir, Lopa dan Hoegeng bahagia bercahaya.

“Akhirnya malaikat datang juga menyampaikan kabar”, bisik Hoegeng.

Dari angkasa berjatuhan satu paket besar dan dua amplop. Amplop pertama bertuliskan Politisi, kedua bertuliskan Jaksa sedangkan paket besar bertuliskan Polisi. Setelah kilat berhenti dan (kalau memang benar) malaikat pergi, Buya Natsir tidak sabar membuka amplopnya. Wajah riangnya langsung berubah muram.

“Bagaimana Buya?”, tanya Lopa

“Sama seperti sebelumnya. Tetap tidak ada. Malah para politisi sekarang tengah melakukan sidang paripurna untuk menetapkan tata tertib di neraka”, Buya benar-benar lemas, lalu balik bertanya kepada Lopa, “bagaimana dengan kawan-kawan jaksamu?”

“Ah sama saja Buya.  Tuntutan berikut barang-barang bukti terus bermunculan. P-21 Buya, kasus mereka dinyatakan lengkap. Mereka harus membayar kerugian moral akibat perdagangan kasus yang dulu mereka lakukan di muka bumi”, wajah Lopa tidak kalah kuyu.

Semua tatapan sekarang tertuju pada Hoegeng. Tampaknya dengan paket besar yang ia terima, hanya Hoegeng yang akan pulang membawa kawan. Dengan wajah berseri-seri, Hoegeng membuka paket.  Tetapi raut mukanya seketika berubah.

“Hanya sebuah patung dan gundukan semen memanjang, apa artinya ini?”, pekik Hoegeng.

“Ah Geng, ini artinya; Cuma ada tiga polisi jujur; kau, patung polisi dan polisi tidur. Beruntung kau kawan, ada juga temanmu di surga”, Lopa menyambutnya dengan tawa.

Tanpa mempedulikanku, ketiga orang itu pulang kembali ke surga dengan tangan hampa kecuali Hoegeng. Aku kembali dilanda sepi. Pada hari pahlawan ini, kehidupan baik di dunia dan akhirat sama saja, tidak banyak berbeda. Kita sama-sama dilanda sepi sebab materi telah mematikan reputasi. Dan tanpa reputasi, tidak akan pernah ada sosok pahlawan yang akan menjadi teladan.

  • Share/Bookmark

20 Responses to Pertemuan (Ekstra) ; Lopa, Hoegeng, Natsir dan Hari Pahlawan

  1. hafif

    Mantap mandan..,semakin menggigit.., tambuah ciek carito ttg AA dan WW yo…, agak lasuah bantuaknyo barita nan tabaru ko..,hehe…

  2. hehe

    seperti biasa brur…
    izin share…
    hehehehehe…

  3. piere

    Ijin juga ngeshare ya ed, sebetulnya gw udah pernah baca yang Pertemuan (1), (2) dan (3) tapi lupa hehehehe……
    gw jadi ketagihan tulisanlu nih bener2 mantabs!!!!!!

  4. hars

    Buat apa pula ada pulisi dan jaxa di surga, nggak perlu broo…
    Yang perlu justeru petani tuk mengolah lahan taman buah surga dan insinyur tuk mendesain perairan dan pengolahan makanan surga :) )
    Berbahagialah petani dan insinyur, punya kans besar masuk surga versi es ito :P ….

  5. Hanny

    hahahaaha…
    Partai Kaya Sunah
    Mantabs Bro.. :)

  6. nurun setiawan

    wedeww…. ini anak pinbus temennya kosannya si imam gosong yak…..
    thanks ya dah mao tandatangan di buku negara kelima….
    nanti gw akan ceritakan ke anak cucu gw, klu pernah kenal sama penulis yg terlahir dr sebuah kamar kosan…..hahahahhahaa

  7. senja

    dasar penulis sok tahu, pantas saja kau tak kunjung ke surga, pakai bawa2 nama buya segala. tapi tak apalah, mudah2an saja buya bisa sedikit tersenyum (kalau) membaca tulisan ini lewat bebe nya, walaupun satire

  8. Sobar Hartini

    Keren euy; mbaca tulisan Mas Ito ini dari postingannya Bang Armahedi Mahzar di fb (yg Beo Mbalelo itu lhoo). Mantaff!!
    Btw, semua jiwa yg RIP masih di alam kubur/ Barzakh mas; masih di terminal kecuali Idris as, Khidir as dan Isa Al Masih as. Jadi belom ada yg pergi ke surga karena belum kiamat; belum ada Hari Pengadilan. Menurutku ketiga orang mulia itu (aammiin) Insya Allah mendapat nikmat kubur;). Oh iya, xi xi xi suka banget Partai Kaya Sunnah; hua ha ha haha. Lanjutkan!!

  9. iqbal gazalba

    sebuah satire yang cukup dalam….tapi bukankah kita masih punya harapan karena selalu ada orang ataupun kelompok yang kemudian mendapatkan pengecualian (“illa man rahiima Robbuk”)…mudah-mudahan pengecualian itu pun belum tercabut hingga batas waktu yang kita sendiri pun tidak tahu..tapi yang jelas jangan bunuh harapanmu kawan……

  10. Acep

    Keren, bang..

  11. klab.ceria

    ikutan nge-share ah…

  12. dei

    Abis baca ini, ngerasa ketohok banget..

  13. Pertemuan (Ekstra) ; Lopa, Hoegeng, Natsir dan Hari Pahlawan « .: i l a l a n g S u n y i :.

    [...] Pertemuan (Ekstra) ; Lopa, Hoegeng, Natsir dan Hari Pahlawan. [...]

  14. Pertemuan (Ekstra) ; Lopa, Hoegeng, Natsir dan Hari Pahlawan « .: i l a l a n g S u n y i :.

    [...] PDRTJS_settings_915812_post_50 = { "id" : "915812", "unique_id" : "wp-post-50", "title" : "Pertemuan+%28Ekstra%29+%3B+Lopa%2C+Hoegeng%2C+Natsir+dan+Hari+Pahlawan", "item_id" : "_post_50", "permalink" : "http%3A%2F%2Filalangsunyi.wordpress.com%2F2009%2F12%2F09%2Fpertemuan-ekstra-lopa-hoegeng-natsir-dan-hari-pahlawan-2%2F" } Pertemuan (Ekstra) ; Lopa, Hoegeng, Natsir dan Hari Pahlawan. [...]

  15. KudaLiar

    ijin share yo da…

  16. Takdir

    Baru tahu kalau gak ada jaksa atau polisi yang jadi pahlawan. polisi jadi pahlawan cuma karena terpaksa xixixi……

    Ijin Share juga Ya

  17. Abraham Lincoln jr.

    Polisi tidur sekarang banyak yang dihancurin mas, dibikin celah supaya motor bisa lewat.
    soalnya polisi tidur ini yang paling jujur, takut mengganggu perjalanan.

  18. riri

    ijin share…patung polisi juga baek..senyum mulu gak pernah marah…

  19. Bernardia Vitri

    aww, kerennnn, polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng… untuk hari pahlawan? benar2 kasihan ya mereka…

  20. Lufira Rima

    Banyak orang bertopeng kejujuran saat ini padahal mereka begitu tamak ,tamak harta dan tamak individu. Jayalah Negeri Ini.

Leave a Reply

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes