Register

Log in

StatPress

Visits today: 68
Total: 20026 since June 12, 2008
Es Ito's Facebook profile

ES ITO Twitter

Beo Mbalelo

by e.s. ito ~ November 13th, 2009

beoBeo terbang dari sangkar. Bebas mengangkasa, tanpa takut sebab punya muslihat suara. Bila elang hendak menyambar, tinggal dia tirukan suara bedil hingga elang menjauh terkaing-kaing. Kalau pesawat hendak menabrak, tinggal dia coba suara petugas menara pengawas. Pesawat terpaksa pindah  jalur terbang. Di angkasa,  si hitam mengkilau  dengan paruh kuning benar-benar menikmati kebebasan sementara. Sebelum ia terbang menukik, sempat-sempatnya dia menirukan suara ledakan di angkasa. Beo hinggap di dahan, di bawah sana banyak yang menunggu kesaksian. Seharusnya ini bukanlah tugas yang sulit buat sang beo, sebab sebagaimana titah  sang tuan, dia tinggal mengucapkan apa yang biasa ditirukan.

Beo sudah hendak bersuara sebagaimana diajarkan sang tuan. Tidak satu kata pun dia lupa. Persis sebagaimana tiap pagi dibisikkan sebagai menu harian. Tetapi sebelum mulutnya berbunyi, beo menyadari nasib diri. Dia ingat luasnya angkasa yang bisa dijelajahi. Dia mulai merasakan indahnya bercanda dengan menirukan beragam suara. Dia merindukan kebebasan, tetapi dia terpenjara dalam sangkar sang tuan. Apapun yang dia katakan, tidak akan mengubah nasibnya. Dia telah menirukannya berulangkali, setelah itu sebagaimana mestinya dia tetap kembali masuk dalam sangkar. Beo tidak kunjung bersuara, otak kecilnya menginginkan suasana baru.

Mbalelo, itulah kata yang tepat. Beo bersuara tetapi bukan apa yang dibisikkan sang Tuan tetapi yang dia lihat, alami dan rasakan. Di atas dahan, beo nyaring bersuara, penuh ekspresi menghapuskan keluguannya. Di bawahnya timbul kegaduhan. Beo tidak berhenti bicara, ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan sekedar menirukan bisikan yang jadi menu hariannya. Dia katakan apa yang dia saksikan sembari menegasikan semua bisikan yang selama ini ia tirukan. Beo lega tidak peduli kegaduhan yang ditimbulkannya. Di bawah pohon ada yang berteriak; skenario besar, rekayasa terhadap skenario, sensasi, thriller paling menarik dan gunjingan lainnya.

Sang Beo mbalelo, tuan Polan, pemiliknya dibikin pusing tujuh keliling. Beo itu kembali masuk sangkar. Tuan Polan memakinya, beo balas menirukan. Dia mencekiknya, sang beo pura-pura lemas tidak berdaya. Tuan Polan tidak mungkin membunuhnya, sebab bangkai beo pun akan menirukan kejadiannya. Yang bisa dilakukan Tuan Polan hanya diam menangkis tuduhan. Itu sebelum tuan Polan tiba-tiba menyadari dia masih punya senjata andalan.

Tersebutlah beo rupawan dijaga sedemikian rupa. Sosoknya hanya dikenal lewat gunjingan. Bila dia keluar, jumlah penjaga menutup rupanya. Sebagaimana beo yang mbalelo, setiap pagi beo rupawan juga mendapatkan sarapan plus bisikan. Dia yang pemalu sekarang terlatih bicara tanpa ekspresi muka. Sedih, senang dan gundah tiada beda, satu rupa seolah-olah dia tidak pernah mencuci muka.

Maka untuk pertama kalinya, tuan Polan melepas beo rupawan terbang sendirian. Duhai cantiknya si paruh kuning, seisi angkasa mengaguminya. Jauh di bawah sana di tengah lapangan luas dengan lubang-lubang kecil, teman-temannya menatap iri  beo yang pernah bersarang di atas pohon dekat lapangan. Gemulai dia menukik turun. Hinggap di atas pohon siap memberikan kesaksian.

Dia menirukan suara sebagaimana bisikan yang jadi menu harian. Persis, hingga tiada keliru tanda baca. Wajah lugunya tanpa emosi bahkan pada saat bercerita tentang kesedihan hidup, raut muka tetap sama. Beo lancar berbicara tanpa air muka. Pada saat gaduh suara bertanya, singkat dia menjawab, ” ini tidak etis untuk diungkapkan”. Lainnya bertanya, tentang kemana saja dirinya selama ini, lugu dia menjawab dia ada dimana-mana. Bukankah sangkar bisa dibawa kemana saja oleh sang Tuan. Tahu dirinya banyak dicari, beo cepat berlalu. Dia harus kembali ke sangkar, peduli setan dengan skenario dan dugaan. Yang penting, titah sang tuan sudah disampaikan

.

Tuan Polan, puas tidak terkira. Beo rupawan dimanja sedemikian rupa. Beo mbalelo kebingungan di dalam sangkar. Dalam zaman kegelisahan ini Tuan Polan menemukan cara untuk menghindari tuntutan : biarkan beo-beo yang berbicara.

  • Share/Bookmark

6 Responses to Beo Mbalelo

  1. ardy mangkuto

    beonya cantik rupawan,,,karena saking seringnya meniru,,,sampai lupa raut muka yang dia tiru..
    Benar” tuan yang pintar memelihara BEO…….

  2. beryl causari

    Iyo sabana padek, pas…rancak dan sangat aktual. Dengan sekali libas, masuk dua kontras beo mbalelo dan beo rupawan. Beo mbalelo :….Otak kecilnya menginginkan suasana baru, beo tidak berhenti bicara, ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan sekedar menirukan bisikan yang jadi menu hariannya. …….. Beo rupawan :…Sedih senang dan gundah, tiada beda, satu rupa, seolah-olah ia tidak pernah mencuci muka…..

  3. hars

    Haaahhhh??? Benarkah beo rupawan ni yang dimanfaatkan oleh Tuan Polan untuk menjebak target supaya terpeleset di sumur dangkal nan licin???

  4. lintang

    hmmm, harus diakui kalau si beo itu yang kedua itu cantik sehingga kesaksiannya jauh lebih menarik…

  5. piere

    beo, itu yang initial H.H yah? wakakakakak…..foto aslinya dipajang2 gituh parah kau ES!!

  6. irwan bajang

    hihihi
    sebuah analogi yang menraik nan kritis..
    wihihi
    sip2 deh

Leave a Reply

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes