Atas Petunjuk
by e.s. ito ~ November 1st, 2009
Sepuluh tahun setelah transisi orde yang berjalan dengan cepat, tentara berwajah galak menyerbu kampus. Anak-anak muda dipaksa untuk berhenti berbicara. Mereka diberi kuliah yang besaran kreditnya melebihi mata kuliah apapun, kuliah tentang cara melihat dan menerima begitu saja. Biarkan orang-orang tua yang mengurus negara, mahasiswa cukup menyaksikan tanpa perlu berkomentar. Pers boleh menulis berita, tetapi berita baik senantiasa harus keluar dari mulut penguasa dan yang buruk-buruk tentu kealpaan rakyat yang tidak mengerti apa-apa. Pada tahun 1978, tepat sepuluh tahun setelah orde yang lama benar-benar terhapus, orang-orang mulai takut berbicara, bayonet terhunus di gerbang kampus, sensor dan bredel jadi cap pos media-media dan tentu saja subversif menjadi menu wajib polisi dan tentara.
Siapakah yang membayangkan sepuluh tahun sebelumnya, keadaan akan menjadi seperti ini. Pada tahun 1968, mereka percaya, seorang anak desa sederhana bisa dipermanenkan kedudukannya menggantikan Pemimpin Besar Revolusi yang penuh ambisi. Seorang putera desa berbaju tentara, bayangkanlah, tiada amarah yang dibawanya tidak pula besar ambisi kuasa. Pada masa itu orang-orang demam dengan tentara berwajah kalem (dan diam-diam melakukan pembunuhan) sembari di muka umum tersenyum dan berkata, kita perlu stabilitas untuk pembangunan. Dia melangkah maju. Pada awalnya suara-suara bebas berkelana, kritik belum menjadi suatu hal yang tercela serta orang-orang tua masih didengarkan. Dia paham akan demokrasi, pemilu diselenggarakan dan pada saat pemenang diumumkan, bukan partai tetapi golongan yang memenangkannya. Ah, betapa rakyat jatuh hati padanya, mereka sudah alergi dengan partai-partai yang berkelahi sepanjang masa demokrasi parlementer. Dan sekarang sebuah golongan pekerja yang memenangkannya, alangkah ajaibnya anak desa yang satu ini. Pembangunan mesti DILANJUTKAN, kita tidak boleh membiarkan anak desa ini pergi begitu saja. Dia terpilih kembali, tentu dia tidak ingin jadi presiden seumur hidup (kecuali rakyat menginginkan dengan sedikit atas petunjuk).
Lalu, hal-hal yang lucu dari demokrasi mulai terjadi. Distribusi kekuasaan memungkinkannya untuk membagikannya kepada orang-orang terpercaya. Partisipasi politik memungkinkannya untuk menentukan mana yang berhak dan mana yang tidak. Kebebasan bicara perlahan membuat dia mengerti bahwa itu artinya, dia bebas berbicara sementara orang lain bebas mendengarkan dan sebisa-bisanya tidak perlu bicara dan berkomentar. Pelan-pelan anak desa ini paham bahwa demokrasi artinya, dengan senyum kau mendapatkan pesona, pesonamu membutakan pemilih dan pada saat mereka buta kau bebas melakukan apa saja. Dalih dari tindakan sudah tersedia dan bila ada yang tidak setuju bukankan kau punya tentara yang juga dipercaya. Pada saat pembangunan telah berjalan dan orang-orang penting mulai merasakan enaknya membangun bangsa bersama anak desa, dia percaya semua akan baik-baik saja di tangan tentara. Atas Petunjuk; Kopkamtip menertipkan, Opsus menjalankan akal bulus sementara ekonom-ekonom terus berpikir keras menciptakan skema utang. Ya, lima tahun setelah itu anak-anak muda mulai terusik tetapi bisa diatasi dengan sedikit mediasi. Tetapi pada saat empat tahun kemudian mereka mulai berulah, dan si anak desa telah menjelma menjadi dewa maka tiada ampun untuk anak-anak muda itu. Atas Petunjuk, sejak itu kampus mesti bebas dari kegiatan politik.
Inilah dilema-dilema demokrasi yang kita hadapi. Kita menghadapi jalan yang sama dalam periodisasi waktu yang serupa tetapi tidak pernah belajar dari masa lalu. Rezim-rezim berjatuhan, masa transisi berjalan dengan segudang harapan. Lalu sepuluh tahun kemudian, tanpa terasa, hak-hak istimewa individu mulai direnggut pelan-pelan. Pada tahun 1999, pemilu pertama setelah masa si anak desa, ada berjuta harapan hadir dengan embel-embel demokrasi. Selama beberapa tahun orang-orang bebas bersuara. Dunia menjadi semakin terbuka, orang-orang desa berbicara tentang HAM dan tekanan internasional. Para nelayan bicara tentang solar dan subsidi BBM dan tentu saja mahasiswa masih ingat, bahwa Pesta, Buku dan Cinta tidak mengenal zaman. Ada fajar baru yang senantiasa dinanti pada pergantian malam tetapi sebagaimana yang dulu-dulu, persis pada saat ufuk hendak berpijar, cahaya itu padam. Selalu muncul bocah-bocah desa mempesona, terpilih karena lakunya yang elok yang membuat ibu-ibu terbuai dengan kenangan anak pertama mereka. Dia dipercaya sebab dosa macam apa pula yang bisa menghinggapi bocah desa yang menggemaskan itu.
Dalam dunia yang semakin terbuka ini, orang-orang percaya bahwa mata dunia senantiasa mengawasi tingkah laku penguasa. Inilah takhayul yang buruk, mempercayaakan nasib pada mata yang tidak pernah ada. Ada cerita-cerita tentang mahasiswa yang ditangkapi pada saat menyambut kedatangannya dengan cara yang berbeda. Tetapi karena begitu banyak masalah, cerita itu terlewatkan begitu saja oleh media. Ada gunjingan tentang orang-orang yang tidak berasal dari negeri ini tetapi hak-hak yang dimilikinya melebihi setiap penghuni negeri ini. Tetapi gunjingan itu berakhir di kantong sampah yang tidak bisa didaur ulang. Pembangunan kembali berjalan dengan sedikit kekurangan, dia yang lucu, tembem dan menggemaskan ini mesti ditunjuk kembali. Tidak usah kuatir, toh dia dibatasi oleh konstitusi yang hanya membolehkan dua periode kekuasaan (kecuali rakyat menghendaki lain dan siapa yang bisa melarang amandemen konstitusi dalam dua tahun ke depan?). Toh, sebagaimana kejadian pertama tadi, kekuasaan telah dibagi-bagi secara adil kepada partai-partai dan mereka tentu bebas bersuara tanpa merasa perlu didengarkan. Lagipula, dia mengerti selera dunia yang semakin beradab ini. Untuk mengukuhkan kekuasaan dia tidak perlu tentara (jangan membuat dunia internasional curiga), cukup besarkan saja polisi. Bila polisi bertindak, dia bisa berdalih, ini masalah keamanan dalam negeri yang tengah diselesaikan oleh pelayan masyarakat.
Hari-hari belakangan ini, rasa was-was mulai berkembang. Ada bayangan gelap dengan sedikit humor bahwa dia yang selalu memberi “atas petunjuk” telah kembali dengan sosok yang lebih gagah. Sensor memang belum ada, tetapi kau mesti hati-hati berbicara. Sebab mungkin malam ini kau bebas duduk di depan komputer lengkap dengan secangkir kopi, esok hari seseorang akan mengetuk pintu rumahmu dan berkata, “anda melanggar UU ITE”. Delik hukum terciptakan jauh lebih canggih dibanding keajaiban teknologi informasi. Dunia maya bisa memerangkap orang-orang ke dalam penjara dunia nyata. Orang-orang yang mencoba untuk memberantas korupsi dituduh keterlaluan sebab tidak memberi waktu pada koruptor untuk sedikit menambah pundi-pundi mereka dan selintas waktu untuk melarikan diri. Koruptor bergentayangan aparat pemberantasnya ditangkapi. Sementara seorang petinggi polisi dengan anehnya menyebut diri buaya. Ah, betapa menakutkannya hari-hari yang akan kita lalui ke depan, buaya darat bergentayangan mencoba meyakinkan kita dengan air mata buaya. Sementara di balik jerusi besi, seorang koruptor berbisik pada aparat pemberantas yang juga dipenjara, “ada berjuta alasan untuk menghentikan kami tetapi cukup satu ketakutan untuk menundanya”.
Dalam dunia yang semakin aneh, dengan perulangan kisah yang membosankan ini, pertunjukan-pertunjukan kekuasaan yang pongah dari buaya-buaya telah menjadi hiburan yang berbeda. Ada yang merasa takut, tetapi lebih banyak lagi yang menikmatinya sebagai tontonan. Ada beragam petisi bersiliweran, menuntut ini dan itu. Ada beribu partisipasi datang dengan beragam motif. Inilah reality show yang sebenarnya, sementara rasa keadilan terinjak-injak kita masih sempat bersenda gurau sembari menikmati kopi di depan komputer. Banyak orang yang berteriak-teriak tetapi tidak ingin namanya menyeruak. Ini adalah masa yang berbeda, laki-laki telah kehilangan nyali, perempuan semakin gila dengan kosmetik. Tantangan dari rezim “atas petunjuk” tidak pernah dijawab dengan garang. Demokrasi yang anggun telah menciptakan warganegara yang genit, takut akan panas dan benci akan hujan. Jeri akan peluru tetapi gandrung untuk meniru.
Jadi atas petunjuk rezim, kita boleh ribut tetapi tetap terkendali dalam ruang privasi. Tidak boleh ada kegaduhan, biarkan proses hukum berjalan. Dan bila ada yang berani bermain-main di jalanan, mulut buaya terbuka lebar di ujung jalan.

November 1st, 2009 at 7:39 pm
apakah ‘monster bergaun sutera’ ini masih berkeliaran sampai hari ini, bang?
November 1st, 2009 at 8:54 pm
Kereeeeeenn, apalagi paragraf kedua dari terakhir en paragraf terakhirnya…wuzz, bisa saja kau Bung!
November 4th, 2009 at 6:02 pm
harmoko bgt……atas petunjuk bapak presiden….
November 6th, 2009 at 5:43 pm
selalu yang terkalahkan……selalu berulang……selalu menyesal belakangan…..dulu soeharto dengan rapal mantra sakti “cendana”…sekarang rapal mantra “cikeas” semua bebas alias beres…..
ceruk kritik pemikiran gerakan mahasiswa tahun 70-an “bayi menangis keras saat lahir, karena malu ditakdirkan menjadi rakyat indonesia”..
November 9th, 2009 at 10:26 am
Sandiwara besar telah di lakonkan untuk menghibur ranah minang yang tak kunjung bangkit….
masyarakat minang lupa dengan rasa sakit, lupa dengan sanak saudara yang tak tahu rimbanya dalam tanah, lupa dengan adat-istiadat minang yang di obrak-abrik oleh tangan-tangan yang mengatas nama kan bantuan. yups… pentas sang penguasa begitu melenakan.
November 15th, 2009 at 6:49 am
Hmmm…ikutan gutak gatik gatuh ah; masa menyeramkan; 1968,1978,1998,2008…emang taon 2008 ada apa yaa? au ah gelaaap;p