Abu
by e.s. ito ~ October 25th, 2009
Bohong tidak lagi menjadi syakwasangka. Lihatlah, dia telah menjelma menjadi sesuatu yang nyata. Hal-hal benar yang keluar dari mulut, pahit berduri dan tidak mendapat tempat dalam realita. Inilah yang aneh tetapi tidak baru dalam dunia yang semakin sempit. Pada saat kau berbohong, orang-orang menerimanya karena jelas mereka menyukainya. Dan kau terus berbohong, hingga batas dimana orang-orang bosan dan berkata, “enyah sudah, kami tidak lagi bisa tertawa dengan alasan yang sama”. Lalu kebenaran itu datang tanpa diundang, menusuk perih. Membawa kesadaran yang selama ini hilang dibekap angan, kau sebenarnya hidup sendirian. Tidak ada yang membutuhkan, tiada yang menunggu dan tiada pula yang menanti kau di ujung sana. Lihatlah abu yang diterbangkan angin, tiada tempat yang mau menerima kecuali sementara.
Ada perhentian tanpa tempat menunggu. Kau tetap percaya seseorang akan singgah dari jauh sana. Ada keyakinan fiktif yang terus kau pelihara. Dia akan berhenti walaupun sendiri. Kau akan mendengarkan suaranya walaupun satu kata. Dia akan menatapmu sebagaimana kau mengimpikan tentang orang-orang yang membutuhkanmu. Berbatang-batang rokok memenuhi jalanan membentuk bukit kecil kemalangan. Bertumpuk-tumpuk harapan tetapi punah oleh kehampaan. Inilah hal nyata yang selama ini tidak pernah kau perhatikan, pada kenyataannya tidak seorang pun yang pernah berjanji padamu. Tidak satu yang fana pun menitipkan harapan padamu, kecuali kau menciptakannya dalam imajinasi. Janji dan harapan adalah pengikat kehidupan. Masihkah ada artinya kehidupanmu bila tidak seorang pun menitipkan sesuatu padamu. Abu-abu terbang mencari tempat, tanpa ada yang menanti.
Sekarang kau mulai mengerti, setelah melupakan banyak hal, kau mulai merasakan bagaimana rasanya dilupakan. Inilah yang kau tidak mengerti dari dunia ini, dia akan mengingatmu pada saat dia membutuhkan keramaian. Dia tidak menginginkan keindahan sebagaimana kau inginkan, sebab semuanya mesti praktis menyesuaikan dengan kebutuhan zaman. Jadi, bila ada keramaian yang lebih dekat buat apa mengingat yang lama. Bila ada peluk yang lebih erat, buat apa menolah pada tangan dingin yang tidak kunjung terhangatkan. Kau akan mengatakan itu sesuatu yang kejam, tetapi lihatlah, inilah kesetimbangan dunia yang mesti terpelihara. Bila hidupnya telah begitu berkecukupan buat apa menerima uluran tangan dari dia yang penuh kekurangan. Inilah yang adil walaupun tidak semua hal bisa diterima. Kau hanya bisa mengingat-ingat, tiba-tiba dia menyapamu lalu pergi begitu saja seolah-olah dia tidak pernah membuat sampah untuk dibuang kembali. Burung-burung mengepakkan sayap, mengeyahkan abu yang menghinggapinya.
Dalam suaka orang-orang yang terlupakan, kau tetap sendirian. Ada pagar-pagar yang membatasimu dengan dunia tetapi itu tidak nyata sementara kau tidak pernah bisa melewatinya. Sekarang kau tidak ingin menunggu apapun, apapun itu. Kau tidak menanti suara, tidak juga rupa. Kau ingin terlewatkan begitu saja, sebagaimana tanda baca yang membatasi angka. Bila tidak ada lagi yang kau tunggu, maka kau tidak perlu lagi membangun harapan. Sebab tanpa ada yang dinanti, buat apa kau menyiapkan perapian. Teruslah berusaha menunda pagi dengan segala cara. Sebab di pagi hari, kau pasti kembali tidak tahu harus berbuat apa. Pelihara terus keyakinan bahwa malam itu abadi. Sebab hanya di malam hari kau tahu, dalam tidur orang-orang sepertimu; terlupakan untuk sesaat. Api menyala menjilat angkasa dan abu-abu beterbangan tidak tahu hendak kemana.
Aku adalah abu sisa dari bara yang sempat menyala. Tanpa menunggu dan ditunggu, tiada lagi kayu untuk memelihara nyalanya. Abu-abu memenuhi perapian yang nyaris padam. Rintik-rintik hujan berjatuhan mempercepat padamnya nyala. Abu-abu terpinggirkan, terbenam hilang dalam molekul-molekul yang tidak pernah diinginkan. Tanpa harapan dan yang mengharapkan, aku tahu, tangan ini terus bekerja mengukir nisan bertahun dua ribu sembilan.

October 25th, 2009 at 8:21 pm
Keren Tan! Tulisanmu bagus-bagus ya… Ajarin
October 26th, 2009 at 7:54 am
Om itu jangan nyerah gitu donk…jangan frustasi…sisa api itu memang hanya abu…tapi abu itu tak pernah hanya satu. ia banyak bahkan mampu berasosiasi karena hukum kekekalan energi. Om ito jangan sedih kalo banyak diantara abu-abu itu kemudian berafiliasi dengan kerjaan ir’aun modern. karena sesungguhnya masih banyak abu yang tetap menyimpan idealismenya untuk berasosiasi pada waktu dan moment kehidupan yang tepat….the best think that we can do is always moving.
October 26th, 2009 at 10:31 pm
mungkin lebih baik menjadi abu di celah-celah kayu yang sedang membara daripada menjadi abu yang terbawa angin,
gak tau deh!
October 27th, 2009 at 11:26 am
Ya Allah…
Ajari kami bagaimana memberi sebelum menuntut
Berfikir sebelum bertindak
Santun dalam bebicara
Tenang di kala gundah
Diam ketika emosi melanda
Selalu bersahaja di atas kebenaran
Bersabar dalam setiap ujian,
Dan jadikanlah kami umat-Mu yang selemah lembut Abu Bakar
Sepintar Ali
Sebijaksana Umar
Sedermawan Usman
Sesederhana Bilal
Setegar Khalid
Sesejuk embun di pagi hari
Sejernih air mata Ainul Mardhyh
Sehening malam dalam sujud di Qymulail
Ya Allah…perkenankanlah doa-doa kami
Amin…
October 27th, 2009 at 1:18 pm
Dust In The Wind
Kansas
I close my eyes
Only for a moment,
then the moment gone
All my dreams
Pass before my eyes, a curiosity
Dust in the wind
All they are is dust in the wind
Same old song
Just a drop of water in an endless sea
All we do
Crumbles to the ground, though we refuse to see
Dust in the wind
All we are is dust in the wind,
ohh Now, don’t hang on
Nothing last forever but the earth and sky
It slips away
And all your money won’t another minute buy
Dust in the wind
All we are is dust in the wind
All we are is dust in the wind
Dust in the wind
Everything is dust in the wind
Everything is dust in the wind
October 28th, 2009 at 3:02 pm
Sedetik ingatnya seribu angannya
Dambakan malam terus berbintang
Di bawah sadarnya nasib bercerita
Hangatnya surya bara neraka
Sampai kapan kau akan bertahan
Dicaci langit tak sanggup menjerit
Hitam awan pasrah kau jilati
Kusam kau dekap dengan muak kau lelap
Pagi yang hingar dengan sadar engkau gentar
Jangan jangan pagi kau hadirkan
Biarkan malam terus berjalan
Jangan jangan mentari kau terbitkan
Jangan jangan pagi kau datangkan
Kumohon dan aku harapkan
Jangan jangan mentari kau terbitkan
Dengarlah tuhan apa yang dibisikkan
Berandal malam di bangku terminal
~Berandal Malam di Bangku Terminal (Iwan Fals) ~
October 30th, 2009 at 5:01 pm
BRAVO ES ITO…!!
Berkali-kali dibacanya tulisan itu, tetap tak mengerti apa maknanya. Karena dia memang bukan sastrawan apalagi pujangga. Dan dia termangu, ternyata, bara itu telah padam. Bahkan abunyapun nyaris tak berbekas. Terbang tertiup angin atau meresap dalam molekul terperangkap titik air hujan. Jika tiada lagi dibutuhkan kayu penjaga nyala perapian, buat apa dibawakannya kayu itu untukmu. Dalam diam, menatap nisan berukir angka 2009, dia terbang bersama kepakan sayapnya yang lemah. Kepakan demi kepakan dikayuhnya untuk menggapai Jebel Sham yang kokoh dan tegar, bukan pantai Salalah yang menjanjikan keindahan dan kemewahan.
November 1st, 2009 at 2:06 am
aku ingin seperti abu bebas terbang kemanapun sesukaku tanpa adanya beban yg hampir memendamku ke dasar bumi yg paling dalam. Aku ingin Rahasia Meede dibuatkan film. Dan muda2han aku ada didlamnya. Salam buat pengarang. Aku tak bisa tidur ketika membaca Rahasia Meede.aku ingin mengungkap semua kebenaran yg ada dlm buku.