Tuan Goen Yang Tidak Lagi Mencatat Di Pinggiran
by e.s. ito ~ June 28th, 2009
Tuan Goen, masih hidup dia rupanya. Walaupun uban tidak lagi sanggup diperam perawan, dia masih kuasa berjalan. Tuan Goen hidup dari kata dan mantera. Dia menyisipkan pesan mingguan, bagai khutbah manusia prasejarah pada zaman yang tidak lagi menghendakinya. Lihatlah Tuan Goen menapaki jalan, dari belukar Utan Kayu hingga rindangnya Salihara. Dia renta, tertatih dengan langkah terseok tetapi Tuan Goen percaya dia lah pengemban wahyu untuk menyelamatkan peradaban. Tetapi pada zaman ini, siapakah lagi yang mengerti dengan mantera Tuan Goen. Generasi kami, Tuan Goen, bukanlah pemamah biak mantera berbalut estetika. Dan kami tidak punya waktu melayani orang tua cengeng yang sepanjang hidupnya bermimpi menjadi Albert Camus. Kami bukanlah pelayan mimpi-mimpimu Tuan Goen. Tiap minggu kau bisa menggoda kami dengan rayuan gombal catatan pinggirmu, tetapi kau tahu Tuan Goen, karena kami terlahir durhaka maka mudah bagi kami memisahkan dusta dari kata. Lagipula, bukankah tulisanmu lebih banyak kutipan mantra asingnya daripada mantra mu sendiri. Tuan Goen tidak mendapat tempat di generasi kita, lalu dia beralih pada penguasa. Tertatih mendaki tangga istana, Tuan Goen mendapati dirinya dilarikan kereta. Di Bandung sana, Tuan Goen berikrar akan melanggengkan kekuasaaan dengan warna-warni Amerika. Ohh Tuan Goen, sudah pikun dia rupanya, ini Indonesia bukan negara bagian Amerika. Mari ucapkan mantera generasi kita; sudahlah Bro, secara lo udah tuwir gitu loch…
Di Bandung sana, Tuan Goen gagah menyampaikan orasi budaya. Dia memulai orasi dengan pekik merdeka tetapi panggungnya dihiasi triwarna merah putih biru. Dia mengungkit Soekarno untuk menyanjung Boediono. Tuan Goen memberi garansi kepada kita, bahwa Boediono dan tentu saja SBY layak untuk dipilih sebab dia bukan politisi juga bukan pemain sinetron. Dan yang lebih penting sepanjang hidupnya, Boediono dihidupi oleh negara bukan lewat bisnis yang menjadi haram dalam panggung itu. Bagi Tuan Goen yang katanya sering berjuang untuk menghilangkan Islamophobia bangsa barat, mengumpulkan kekayaan dari pajak atas jasa pada negara jauh lebih mulia daripada berniaga. Tuan Goen dan anak-anak salah asuhannya tentu, sebagaimana Boediono, sangat percaya pada tangan tidak terlihat yang bisa melakukan intervensi terhadap pasar. Masyarakat sipil perlu diperkuat dengan melemahkan fungsi negara. Wajar bila pengidap sipilis semakin meningkat. Tetapi pernahkah Tuan Goen berpikir, dalam konsep kami masyarakat awam, di pasar-pasar rakyat tangan tidak terlihat itu wujudnya sangat jelas yaitu copet. Itulah jenis manusia yang selalu menerima curiga, sebab senantiasa mengambil sesuatu yang bukan hak nya. Tuan Goen, apakah tangan tidak terlihat yang Tuan suka itu tiada beda dengan tangan tidak terlihat yang kami mengerti? Bukankah, tangan tidak terlihat itu yang membuat jurang antara yang miskin dan kaya semakin besar. Bukankah, tangan tidak terlihat itu yang membuat generasi kami mulai bosan dengan ketidakadilan. Bah, lupa aku, Tuan Goen tentu tidak akan sanggup menjawabnya, sebab dalam referensi Albert Camus, pertanyaan ini belum pernah muncul. Begitulah di Bandung sana, Pak Tua Goen tidak ingin menerima takdir usia senja.
Politik adalah sebuah tugas. Tanpa diminta, Tuan Goen menuliskan pembelaannya, kenapa dia memihak. Sang Albert Camus wanna be ini seperti biasa merangkai kata dari beragam kutipan yang panjangnya melebihi gagasannya sendiri. Sederhana bukan, sama sederhananya dengan merangkai meja belajar olympic, bahan dan sekrup sudah tersedia kau tinggal menyatukannya. Lantas kau memuji kerja kau yang tidak seberapa itu sebagai sebuah prakarya pribadi. Tuan Goen tidak usah berkecil hati, kau punya tulisan masih ciamik punya. Bagai rokok, nikmatnya masih melebihi kadar Tar dan Nikotin. Tetapi inilah hukum rokok Tuan Goen, kita menikmatinya tetapi kemudian kita lupa gunanya untuk apa. Kau menulis, Politik adalah tugas merambah jalan di belukar membuka celah agar keadilan itu datang. Terkadang tangan jadi kotor, hati jadi keras – dan itu menyebabkan rasa sedih tersendiri. Aku menghisap mantera mu dalam-dalam Tuan Goen, tetapi nafasku sesak. Paru-paru ku memberontak sementara jantung menginginkan revolusi. Di usia senjamu, kau masih jumawa berkehendak membuka jalan yang tidak kami butuhkan. Kau tahu politik itu kotor Tuan Goen, kau memasukinya lewat rusuk penguasa, ah betapa tambah kotornya kau ini. Kau menyebut nama Munir, berharap keadilan pada penguasa yang tidak kunjung mampu menyelesaikannya. Kau, yang menganggap dirimu intelektual publik, menolak untuk ongkang-ongkang kaki bermatabatkan mahligai. Tetapi Pak Tua, kenapa baru sekarang kau berani berkata, justru pada saat kau menyokong penguasa. Kenapa dulunya mahligai mu itu susah sekali digapai pada saat banyak sekali hal yang tidak sesuai. Tuan Goen yang bercita-cita menjadi martir kebebasan di Indonesia justru di usia senja terpenjara oleh kepikunannya sendiri.
Tuan Goen, sudahlah, aku lihat kau sudah lelah. Tiada guna lagi kau berulah. Mantera-mantera mu tidak lagi bisa mengobati sakitnya generasi kami. Tidak usah pula tubuh rentamu itu kau paksakan untuk memikirkan masa depan kami. Masa-masa dimana kau sudah tidak ada lagi dan kami tidak tahu, akankah kami mengenangmu sebagai seseorang, atau hanya sebuah bidak biasa dalam panggung kampanye presiden Amerika di Bandung sana. Pak Tua Goen, saatnya undur diri, bagi kami kau tiada guna lagi. Perawan-perawan generasi kami tidak lagi tersihir oleh mantera mu. Mereka suka yang praktis Pak Tua, bukan yang rethoris. Kau sudah berbuat, kami tidak akan menghapus jejakmu. Masalah penilaian serahkan kepada masa depan.
Pak Tua Goen sudahlah, kau tidak akan pernah lagi bisa mencatat dari pinggiran.

June 28th, 2009 at 7:22 am
Tuan Goen sedang mencoba mempertaruhkan hidup, berharap untuk menang! hahaha….
June 28th, 2009 at 7:49 am
Kakek Goen dan capingnya, baru 2 bulan lebih saya mencoba menikmatinya, apakah benar sudah tidak jamannya, orang muda seperti saya bahkan mungkin tidak tahu saat ini sedang berada di jaman apa. Lebih baik membicarakan band2 idola dan musiknya dibanding memikir politik yang bagi kami tiada guna.
Tulisan bung di atas bisa saja menghentikan romantisme saya pada tulisan Opa Goen karena saya terlalu ngefansnya pada seorang ES ITO. Keberpihakan Opa Goen pada penguasa negara dan bendera negara yg film2nya menguasai dunia itu ya masalahnya.
Kalau pendapat bung itu benar, smoga ketuaan Opa Goen akan mengembalikan jiwa mudanya yang berani melawan penguasa itu. Manusia penuh dengan kekhilafan.
Mohon Maaf bung atas komen pertama saya ini..
June 29th, 2009 at 11:20 pm
“karena kami terlahir durhaka maka mudah bagi kami memisahkan dusta dari kata”, tetapi terkadang kami juga menikmati suguhan dusta yang senantiasa menggoda, meski kami tahu kenyataannya…jadi bisa saja kami menangis membaca tulisan E.S.ITO yang menyentuh luka yang menganga dalam jiwa kami, sembari mendengarkan lagu cinta afgan yang mendayu dan mengharu-biru,toh bagi kami, yang ada hanya bagaimana memenuhi imajinasi yang terus direproduksi semenjak kami tahu tombol2 remote control tanpa kami bisa berkehendak dengan pikiran kami sendiri….
June 30th, 2009 at 1:49 pm
Idealisme seorang tokoh di waktu mudanya, dengan mudahnya, dibelokkan oleh kekuasaan dan uang, apalagi bila kekuasaan dan uang itu dihantarkan ke ranjangnya oleh perempuan-perempuan muda nan cantik-sexy-bohay, plus extra service plus-plus.
Cukuplah kita belajar dari Soekarno dengan perempuan-perempuannya, dan kini Eyang Kakung Goenawan, pun ikut jejaknya, Mo limo membelokkan idealisme dan penjuangan setiap pejuang yang ingin terkenal.
July 1st, 2009 at 1:47 am
I have already seen it somethere…
Joker
July 3rd, 2009 at 4:46 pm
hatta, tan malaka, dan sekarang sutan syahrir.
apakah orang sumatera cakap mengendalikan negara ? seingat saya dulu raja sriwijaya sempat ditawan oleh kerajaan colamandala, di jamannya cola cola II.
July 4th, 2009 at 12:43 pm
Maaf Pak Ito, Siapa tuan goen?
July 7th, 2009 at 11:57 pm
Loh, Sob Herlina selama ini apa yang dibaca?
Serius nih kaga tau siapa Opa Goen???
Coba cari infonya di Tempo
July 10th, 2009 at 2:40 pm
Tuan Ito yang sudah tenggelam dalam dunia meede…
Apakah salah memperjuangkan sebuah keyakinan? Galileo melakukannya, dan lihatlah sekarang.
Apakah kebenaran harus selalu datang dari minoritas? sehingga berdosa menyelam dalam garis besar?
Apakah perjuangan harus berarti makian?
Kebebasan berekspresi dan berpendapat adalah hak setiap individu. hak saya, hak tuan ito dan hak tuan goen juga…
July 15th, 2009 at 7:52 pm
membaca tulisan2 tuan Ito akhir2 ini jadi ingat mula2 tuan Goen menulis catatan pinggir
..
rasanya waktu yang akan menunjukkan apakah tuan Ito akan juga bermetamorfosis menjadi tuan Goen atau tidak..
July 19th, 2009 at 7:34 pm
gue yakin, bo….
ntar juga si bang Ito yang ganti’in kong Goen.
he.. he.. he..
July 24th, 2009 at 12:53 am
Kata-kata tuan Goen yang terhunus boleh jadi sudah tumpul, atau siapa tahu mungkin kita juga sudah terlalu membatu? terlalu sering menonton hal yang sia-sia sampai tak sanggup lagi air menetes membuat lubang dipikiran kita yang seperti karang.
July 24th, 2009 at 10:20 pm
weits… ada yg sedang “berkhotbah” dan menyebut “kami” rupanya di sini? *angkat gelasnya lagi toean ito!!!!*
July 24th, 2009 at 10:33 pm
” Mari ucapkan mantera generasi kita; sudahlah Bro, secara lo udah tuwir gitu loch…”. Siapakah kita di sini, Tuan? Apakah saya termasuk di dalam “kita”? Atau, barangkali–ini salah satu mantera yang kerap dipakai tuan Goen, saya terlahir di jaman yang salah? “Saya ndak mudeng je Mas.
July 26th, 2009 at 1:10 pm
ternyata memang…
reformasi, restorasi, rekonstruksi, rekonsiliasi, regenerasi, dsb
…adalah segalanya, ya bang!
July 27th, 2009 at 12:57 am
Salam, Bung Ito.
Untuk hal ini, kita berbagai kegelisahan yang sama: http://fayyadl.wordpress.com/2009/06/24/surat-politik/
Requiem untuk Tuan Goen…
August 8th, 2009 at 8:00 pm
Kalo ane tau na tjuman film “the young Gun”..
Atau ..
Goen dari dulu pan sudah “beda” semendjak manikebu. Bagaimana pertarungannya dengan Pram.
Coba dibuka album lawas na..
August 17th, 2009 at 4:19 pm
ahhh,, pak goen,,, sebegitukah nafasmu kau gadaikan…
sudah lelahkan veteran perang ini memanggul senjata humanisme untuk melawan tirani??
ahm pak goen,,,
seprti si binatang jalan,,hidup hanya untuk menunda kekalahan..
August 26th, 2009 at 10:41 pm
begitulah bung, pada akhirnya Toean Goen tetap berada di pinggir generasi baru, generasi biru yang kadang tak mau tahu…
September 24th, 2009 at 10:49 pm
Saya tahu tulisan ini ketika disahre Bang Saut SItumorang di facebook. Ada benarnya juga Bung Ito menulis tentang GM, “Lagipula, bukankah tulisanmu lebih banyak kutipan mantra asingnya daripada mantra mu sendiri”. Setidaknya jika saya membaca Caping-nya. Saya tidak merasa naif jika Bung Ito mengatakan “kita” atau “kami”. Mungkin juga saya termasuk dalam “kita” atau “kami” itu jika melihat budayawan terhormat menyusup ke dalam kekuasaan lewat ketiak penguasa. Sekali lagi, angkat gelasnya Bung!
September 25th, 2009 at 12:33 am
kupikir konsep ‘pinggiran’ udah usang hari ini, kawan. nice post
September 25th, 2009 at 7:18 am
sejak gm tanda tangan di manikebu, 1963, gm memilih jadi orang kanan. jadi prosenya udah lama, yg skrg terjadi kerna udah tua tapi masih sok wibawa, padahal aslinya anti rakyat. itulah yg ada, sandiwara humanismenya seorang sastrawan pro neolib ikut pula tanda tangan menyetujui kenaikan harga bbm. apakah masih perlu alasan yg lain shg orang jadi pengkotbah moral budaknya materi?
September 25th, 2009 at 7:27 am
Mohon ijin copy paste untuk kronik buku di indonesia buku
September 25th, 2009 at 7:46 am
[...] Disalin ulang dari http://esito.web.id/2009/06/tuan-goen-yang-tidak-lagi-mencatat-di-pinggiran/ [...]
March 8th, 2010 at 11:45 am
tulisan yg bagus. mantra asingnya lumayan buat referensi. kebebasan memang kadang memenjarakan.