Register

Log in

StatPress

Visits today: 24
Total: 19922 since June 12, 2008
Es Ito's Facebook profile

ES ITO Twitter

Cindua Mato dan Shakespeare-isme Orang Minangkabau

by e.s. ito ~ January 17th, 2009

tepi singkarak

tepi singkarak

Ini bukanlah tulisan serius yang bisa dijadikan acuan karya tulis ilmiah. Jangan pula berharap tulisan ini bisa dijadikan acuan data pemilih oleh lembaga survei politik yang serakah. Ini hanyalah tulisan yang berawal dari kegundahan adik sumando saya Sutan Mangkudun pada saat mempersiapkan nama untuk calon bayi yang masih bersembunyi di kelambu perut ibunya. Seandainya sang bayi lahir dengan belalai kecil di antara dua kaki maka dia tidak akan begitu pusing, sebab dia telah menyiapkan satu nama untuk anak laki-laki (mungkin: Bona, gajah kecil berbelalai panjang). Celakanya Sutan Mangkudun kita yang bersemangat menyongsong anak pertama ini nyaris lupa bahwasanya masih ada kemungkinan yang satu lagi, dia akan mendapat anugerah anak perempuan (kecuali dia mau kasih nama Rongrong, sahabatnya Bona, tentu tidak akan ada masalah lagi).

Rupanya bagi Sutan Mangkudun, masalah nama anak perempuan ini benar-benar membuat dia pusing sehingga perlu kiranya dia menjemput saya, calon mamak dari anaknya itu untuk berembug. Dalam pertemuan penting yang juga dihadiri pejabat dari rektorat UI dan seorang mahasiswa pasca dari NUS Singapura itu saya katakan kepada Sutan Mangkudun untuk “mambangkik batang tarandam” yang maksudnya adalah agar Sutan Mangkudun dan Istrinya kembali menggunakan nama-nama klasik Minangkabau pada masa gunung Marapi masih sebesar telur ayam. Sudah terlalu lama nama-nama klasik itu terbenam oleh nama-nama berbau Arab, Melayu, Jawa, Barat dan Neo-Arab. Lalu nama apa yang mesti diberi, Sutan Mangkudun tentu trauma dengan nama-nama seperti : Tak Udih, Upiak Banun, Upiak Ijok atau mungkin ada juga Upiak Lenyai. Ah, tunggu dulu nama-nama Minang tidak se-lenyai itu.

Setiap kali orang bertanya tentang nama klasik Minangkabau, pikiran saya selalu tertuju pada sebuah buku kumal berwarna kuning yang dulu waktu kecil sering saya baca berulangkali, Cerita Cindua Mato. Di dalam buku yang banyak bercerita tentang kecerdikan Cindua Mato dalam menghadapi Rajo Imbang Jayo yang telah melarikan istri Dang Tuanku, -raja Minangkabau pada saat itu- saya menemukan banyak sekali nama-nama Minang yang enak di dengar dan tentu saja perlu diingat. Saya tidak ingat semua nama-nama itu tetapi kita mulai saja dari nama Cinduo Mato yang memiliki ibu bernama Kambang Bandahari dan bapaknya bernama Salamat Panjang Gombak. Dang Tuanku yang beribukan Bundo Kanduang dan beristrikan Puti Bungsu. Khusus untuk nama Dang Tuanku telah saya sumbangkan kata depannya untuk nama anak kedua Uda IJP. Lalu ada pula nama Puti Ranit Jintan, sayangnya saya lupa, apakah dia adik Puti Bungsu atau adik dari Rajo Imbang Jayo. Di arena adu ayam ada nama jagoan bernama Juaro Medan Labiah. Nah yang tidak kalah menarik adalah nama-nama hewan peliharaan pada masa itu; Dang Tuanku memiliki kuda bernama Gumarang sedangkan Cindua Mato punya kuda bernama Balang Kandi. Satu lagi, saya pernah usulkan pada Sutan Mangkudun untuk memberi anaknya dengan nama Sibinuang. Dia sudah nyaris setuju, tetapi untunglah dia lebih dahulu bertanya, siapakah Sibinuang itu? Dengan sedikit senyum jumawa saya jelaskan; Sibinuang itu kerbau sakti milik Cindua Mato yang di dalam telinganya bersarang lebah ganas. Sutan Mangkudun, dengan melupakan kenyataan saya adalah calon mamak anaknya, memaki saya habis-habisan. Di akhir pertemuan saya punya dua usulan serius untuk calon anak perempuan Sutan Mangkudun; Puti Ranit Jintan atau Kambang Bandahari. Syukur Alhamdulillah, kedua nama itu telah ditolak oleh adik sapasukuan saya, istrinya Sutan Mangkudun.

Sejauh pengamatan saya yang terbatas ini, dari dulu hingga saya beranjak dewasa, orang Minang tidak pernah menganggap serius arti sebuah nama. Kami adalah jenis masyarakat yang berwaham Shakespeare-isme yang mempertanyakan, “apalah arti sebuah nama?”. Itu sebabnya banyak orang Minang yang tidak bisa menjelaskan arti nama yang diberikan oleh orang tuanya karena sikap Shaesperare-isme nya. Itu sebabnya kadangkala di Minangkabau, tren nama bergantung pada angin politik yang kuat. Pada masa Paderi berhasil menancapkan Islam ala Wahabi maka nama Arab berseliweran hingga masa kelahiran tokoh-tokoh nasional seperti Mohammad Attar (Bung Hatta), Abdul Malik Karim Amarullah (Buya Hamka), Ibrahim (Tan Malaka), Masyudul Haq (Haji Agus Salim) dan Mohammad Natsir. Lantas muncul pula masanya nama-nama aneh berbau Melayu dengan akhiran “zal” untuk laki-laki dan akhiran “niar” dan “diar” untuk perempuan. Nah, pada saat tentara pusat dari Jawa mengganyang PRRI, datang pula angin baru, orang Minang buru-buru membubuhi huruf “o” di belakang nama anaknya biar terdengar seperti nama Jawa. Tren Jawa selesai mulailah tren ala perang dingin, muncullah nama John Kennedy, Jimmy Carter, Eduard (Sevanatse), Yuki Andropof dan nama lainnya mengikuti perdebatan pengamat politik amatir di meja domino lapau. Dan beberapa tahun belakangan ini muncul kembali lah nama-nama Arab dengan pengucapan yang lebih ribet seperti Salsabila, Daffa, Raisya dan masih banyak lagi. Inilah nama-nama neo-Arab.

Pertanyaan yang sering muncul, kenapa masyarakat Minangkabau seolah tidak memiliki identitas kultural di dalam sebuah nama. Menurut saya jawabannya mudah, karena kami, orang Minangkabau tidak pernah menganggap penting arti sebuah nama. Ini tidak lepas dari filosofi kultural yang terwakili dalam sebuah ungkapan, “Ketek banamo, gadang bagala” (kecil bernama, besar bergelar). Nama sebagai pemberian orang tua pada anaknya tidaklah lebih penting daripada gelar sebagai pemberian adat dan kaum yang akan diterima anak laki-laki pada saat dia menikah nanti. Nama bagi anak laki-laki Minangkabau hanyalah sebutan pada masa transisi sebelum ia menikah dan diberi gelar. Jadi seorang yang bernama Eduard Sevanatse begitu kawin diberi gelarSutan Batuah; maka seumur hidup orang akan memanggilnya Sutan Batuah dan hilang tidak berbekas lah nama Mantan Menlu Soviet itu kecuali pada KTP dan surat resmi. Bagaimana dengan kaum perempuan? Sama saja, nama apapun tidak akan begitu penting sebab dalam keseharian bagian nama yang digunakan hanyalah sepenggal satu suku kata di depan nama. Perempuan yang bernama Deswita misalnya, hanya akan dikenal sebagai Si Deh (kalau di kota dia akan sediki beruntung dipanggil Des)

Pemberian nama di Minangkabau pada masa lalu hanyalah demi alasan kepraktisan sebab nama-nama nan rancak tidak akan begitu banyak berguna. Lagipula lidah latah orang Minang sebenarnya selalu kelelahan melafalkan nama-nama yang aneh. Nama-nama Arab membuat lidah kami terkilir menyebutnya, nama Jawa membuat hidung kami tersumbat melafalkannya, nama Barat membuat mulut kami keseleo mengucapkannya. Nah begitu pula dengan nama-nama neo-Arab nan gagah sekarang ini, lidah kami tidak saja terkilir meyebutnya tetapi dahak ikut keluar melafalkananya. Sungguh mulut kami orang Minang susah kompromi dengan keindahan nama. Nah, demi alasan kepraktisan itu pula lah dahulunya, nama-nama yang bagus itu dimodifikasi dalam pemanggilanya sehari-hari misalnya mengganti akhiran “s” dengan “h”, seperti des menjadi Deh, atau Ros menjadi Roh. Atau mengganti akhiran “t” dan “d” menjadi akhiran “k” sehingga makhluk istimewa bernama “Ed” akan dipanggil “To’Ek” . Atau ada pula modifikasi ektrem ala pergaulan kampung, nama bagus seperti John bisa berubah jadi Kojon, Nofri jadi Konok, Hendri jadi Pendi, Irwan jadi Jawan, Desrizal jadi Kuri, Zetri jadi Kojek dan lain sebagainya. Kutukan nama itu hanya bisa diakhiri cowok-cowok Minangkabau dengan cara secepatnya menikah sehingga gelar adat bisa didapatkan. Bagi kami orang Minang, semua masalah bisa diselesaikan secara praktis.

Tetapi semua hal di atas tadi tampaknya hanyalah masa lalu. Seiring dengan meredupnya pamor gelar adat nan adiluhung yang ditandai dengan semakin sedikitnya laki-laki Minangkabau memakainya di belakang nama setelah menikah, maka orang-orang Minang mulai serius memberi nama anaknya. Tentu yang sedang ngetren sekarang adalah nama-nama neo-Arab yang bila lidah Minang ini mengucapkannya akan terkilir dan memancing dahak keluar karena begitu tebalnya huruf dan kuatnya tekanan Qalqolah. Dalam rangka persaingan sehat dengan nama-nama Neo-Arab itulah saya sekarang rajin sekali memberikan sumbang saran kepada kawan-kawan saya untuk memberikan nama-nama Minang klasik kepada anaknya. Sebab saya takut, belasan tahun ke depan gelar-gelar nan indah seperti Sutan Majo Indo, Sutan Sati, Sutan Makudun, Katik Batuah, Katik Endah, Marajo Basa, Rangkayo Basa, Sutan Juaro, Malin Sati dan puluhan gelar lainnya akan tenggelam begitu saja.

Aih, saya baru ingat, bukankah kepada Sutan Mangkudun saya masih bisa sumbang saran setelah penolakan usulan dua nama dari istrinya. Saya teringat nama putri Minangkabau yang dipinang Raja Majapahit, Dara Petak dan Dara Jingga. Nah khusus untuk anak Sutan Mangkudun, saya usulkan saja nama Dara(h) Tinggi. Bukankah itu sesuai tabiat bapaknya???

  • Share/Bookmark

7 Responses to Cindua Mato dan Shakespeare-isme Orang Minangkabau

  1. anderson

    Hahah, menarik sekali Bang Ito…
    Ambo urang minang asli…lahia katiko jaman parang dingin. Bacaan yang sadang tren waktu itu HC Andersen. Jadilah namo ambo kini Anderson. Tapi sasudah manikah, gala ambo Sutan Bandaro…hahaha… sasuai jo karajo ambo kini di Bank. Tapi gala tu hanyo dikatahui urang-urang nan datang wakatu baralek ambo. Baa tu??

  2. karmin

    biarkan ku jadi e.s ito untuk sehari aja

  3. aandree

    Hurup O nya itu boleh dilafalkan pake dilafalkan pake O nya wong Jowo gak Bang? biar tealkulturasi gitu.. Bang Ito, ambo bukan urang minang, tapi urang Jawo, dan gara2 ambo membaco Novelnya Bang Ito, ambo langsung menjajah kemerdekaan teman2 untuk berkunjung ke Tanah Minang (yang tiado pernah ambo bayangkan bakal datang kesano) pas liburan tahun baru kemarin. Dengan segala daya upaya agar niat itu terlaksano, teman2 ambo akhirnya manut menurut dan ambo biso berpoto2 si Salido yang menjadi titik perhatian VOC dalam mengusai Hindia Belanda. Tapi sayangnyo, novel Rahasia Meede dan Negara Kelimanyo tidak terbawo pas acaro poto2nyo. Rencananyo sih keduo novel itu dipake eksyen di depan kamera di Depan Kantor Kecamatan Jurai (gak tau itu Salido yang disebutkan di Novel pa bukan , yang penting ada tulisan Salido nya, hehe). Jadi Lumayan nyesek Bang,, hix! Dan singkat kato buat Bang Ito, ijinkan ambo jadi salah satu fans fanatik mu. oke Bang?

  4. Usamah

    Hmmm….ada yang aneh bang. Tidak peduli dengan arti sebuah nama, namun kuatir klo nama-nama yang dianggap indah itu tergantikan oleh nama2 neo-Arab :D

  5. Doni

    Bang, minta ijin utk di share ya..

  6. teddy f

    nahhhh,..iyo pulo tuh sutan,..sabalumnya ambo perkenalkan diri,..ambo teddy,..namo yang aneh,..dek awak lahia di luar tanah minang,..tapi induak apak awak asli minang,..di tanah agam maninjau,..
    awak iko sabananyo,.tapi iyo,..kaba’a pulo,..kiniko,.niniak mamak lah ndak ado yang piduli jo ranah mnang nan ranjak jauah kiniko,..
    koq iyo,..cubolah kumpuakan niniak mamak,..buek rapek gadang samo anak minang maso kini,..apo koq iyolah ilang tradisi minang nan ndak basah jo ayia nan ndak anguih jo api..
    cubolah,..awak sabagai geneRASI mudo,.baru tau pulo,..minang kabau ko sabananyo,urang2 yang dibutuhkan republik iko sajak doeloe,..
    cubo kana,..ba’a pulo sajak ibukota RI pindah ka bukiitinggi baru kasudahan pulo parang revolusi pisik jo balando,..lai takana nda mamak tuh..taragak awak kini ko,sepak terjang urang minang di ranah republik,..kalau nda ado urang minang do,..payah nagari ko,..cubolah kana

  7. Sutan Mangkuto

    Lahir dari orang tua yang asli minang, tapi belum pernah ke padang. Nama lengkap Sutan Hanifan bergelar Sutan Mangkuto :) .

Leave a Reply

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes