by e.s. ito ~ January 21st, 2010
Inilah kisah tentang anak-anak yang bukan untuk dibaca oleh anak-anak. Bayangkan kanak-kanak dengan seragam merah putih di sekolah negeri yang sering tidak terjamah subsidi. Murid-murid belia yang sering melihat kawan mereka bergelimang fasilitas di sekolah swasta. Tetapi mereka tetaplah kanak-kanak, tanpa iri dengki mereka terus belajar tanpa perlu memaki. Selama puluhan tahun di sekolah dasar negeri yang sering tidak tersentuh subsidi itu segala sesuatunya berjalan dengan normal terkendali. Normal artinya, murid ikhlas belajar dengan fasilitas seadanya, tidak terganggu dengan profesi paruh waktu para guru, penuh gembira pada saat upacara bendera dan yang terpenting, mereka sadar diri untuk tidak menggantungkan cita-cita terlalu tinggi. Yang penting mereka tidak buta huruf dan angka, kecuali beberapa terjebak dalam buta warna yang tiada obatnya. Inilah sekolah dasar yang ideal yang kemajuannya tidak perlu menyesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi.
Tetapi semenjak televisi menggantikan alunan ayat suci, pelan-pelan berubah pula peradaban adiluhung anak-anak. Ayat suci menceritakan teladan kebaikan, mereka perlu berpikir untuk membayangkannya. Di televisi, mimpi-mimpi mereka hadir sebagai realita yang langsung ditangkap indera mata. Waktu berganti dengan cepat, pahlawan kartun berganti sinetron, sinetron berganti band-band yang tidak pernah menelurkan album kecuali single yang lebih mirip jingle. Mereka sekarang berbangga hati, dalam usia dini mereka telah mengerti arti partisipasi. Bila kau rajin mengikuti berita televisi nilainya melebihi partisipasi politik pemilihan ketua kelas. Begitulah, pelan tetapi pasti, televisi membimbing mereka untuk menentukan cita-cita, kelak bila mereka besar nanti. Menimbulkan kegaduhan itu pasti, tetapi mereka masih kanak-kanak, harap dimaklumi. Toh, orang dewasa juga terus menerus minta dimaklumi. Continue reading »
Filed under: Kolom Guru Uban
20 Comments »
by e.s. ito ~ December 13th, 2009
Saya membaca Runtuhnya Hindia Belanda-nya Onghokham, lalu tertawa;
Pada saat baru diangkat menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda pada tahun 1931, De Jonge mengatakan, “Belanda akan berada di Hindia Timur selama 300 tahun lagi, kalau perlu dengan menggunakan pedang dan pentungan”. Pernyataan De Jonge yang berasal dari kubu konservatif itu keluar di tengah-tengah gairah nasionalisme Indonesia tengah memuncak. Berbeda dengan gubernur jenderal sebelumnya De Graff yang cenderung liberal dan bersikap agak lunak terhadap pergerakan nasionalisme Indonesia, De Jonge merasa perlu melakukan koreksi terhadap politik kolonial. Polietike Inlichtingen Dienst atau PID, dinas polisi yang melakukan pengawasan terhadap aktifitas politik kaum nasionalis mendapatkan energi baru. PID langsung bertanggung jawab kepada Jaksa Agung yang mana kemudian kajian laporan mereka akan sampai di meja Gubernur Jenderal. Dalam tempo waktu yang tidak lama, De Jonge berhasil menegakkan sebuah rezim polisi di Hindia Belanda. Dimana setiap kata terlarang dicatat oleh dinas mata-mata itu. Setiap langkah orang-orang yang dicurigai diikuti hingga kemudian dipastikan mereka mengancam keberlangsungan kolonialisme. Pada masa De Jonge lah, gairah aktifitas politik nasional Indonesia nyaris padam. Para pemimpin ditangkap, dibui dan dibuang. Soekarno dibuang ke Ende, Flores sedangkan Hatta-Sjahrir dibuang hingga Boven Digoel. De Jonge berhasil menegakkan rust en orde lewat rezim polisi yang memenjarakan bumiputera dalam kerangkeng besar Hindia Belanda. Continue reading »
Filed under: Kolom Guru Uban
11 Comments »
by e.s. ito ~ December 9th, 2009
Di Makassar anak muda tidak pernah menjadi tua. Dengan kesadaran penuh mereka mengerti bahwa orde ketertiban hanyalah kerangkeng kelas yang memenjarakan anak-anak muda. Mereka senantiasa bergemuruh, penuh semangat dan tiada henti memaki kekuasaan. Di Makassar, kampus-kampus masih milik anak muda berlapis kelas, beragam latar belakang dan berjenis-jenis manusianya. Itu sebabnya energi mereka terpelihara dengan baik. Terkadang mereka melakukan latihan layaknya pasukan terlatih, dengan batu dan parang saling baku hantam sesamanya. Tidak usah panik, inilah anak muda. Tanpa kelahi, mana mungkin palu mereka terlatih merobohkan pintu kekuasaan. Dengan kelahi, anak-anak muda itu telah menjadi generasi bunga dengan cara mereka sendiri. Sebab mereka percaya, kesantunan, senyuman, adat istiadat jongkok kemayu adalah feodalisme terselubung ala seberang pulau sana. Di kaki Dewi Celebes sana, mereka menolak untuk tertib. Sebab ketertiban hanyalah senda gurau penguasa mengatasi kepanikan. Continue reading »
Filed under: Uncategorized
29 Comments »
by e.s. ito ~ November 13th, 2009
Beo terbang dari sangkar. Bebas mengangkasa, tanpa takut sebab punya muslihat suara. Bila elang hendak menyambar, tinggal dia tirukan suara bedil hingga elang menjauh terkaing-kaing. Kalau pesawat hendak menabrak, tinggal dia coba suara petugas menara pengawas. Pesawat terpaksa pindah jalur terbang. Di angkasa, si hitam mengkilau dengan paruh kuning benar-benar menikmati kebebasan sementara. Sebelum ia terbang menukik, sempat-sempatnya dia menirukan suara ledakan di angkasa. Beo hinggap di dahan, di bawah sana banyak yang menunggu kesaksian. Seharusnya ini bukanlah tugas yang sulit buat sang beo, sebab sebagaimana titah sang tuan, dia tinggal mengucapkan apa yang biasa ditirukan.
Beo sudah hendak bersuara sebagaimana diajarkan sang tuan. Tidak satu kata pun dia lupa. Persis sebagaimana tiap pagi dibisikkan sebagai menu harian. Tetapi sebelum mulutnya berbunyi, beo menyadari nasib diri. Dia ingat luasnya angkasa yang bisa dijelajahi. Dia mulai merasakan indahnya bercanda dengan menirukan beragam suara. Dia merindukan kebebasan, tetapi dia terpenjara dalam sangkar sang tuan. Apapun yang dia katakan, tidak akan mengubah nasibnya. Dia telah menirukannya berulangkali, setelah itu sebagaimana mestinya dia tetap kembali masuk dalam sangkar. Beo tidak kunjung bersuara, otak kecilnya menginginkan suasana baru. Continue reading »
Filed under: Kolom Guru Uban
6 Comments »
by e.s. ito ~ November 10th, 2009
Semenjak Eyang Harto berhasil menangkap dan memenjarakan Sutan Sjahrir alias Si Kancil yang katanya atas berkat jasaku itu, dengan beban dosa yang begitu besar di dada aku tidak tahu harus kemana. Eh Stop Dulu! Bagi kalian para pembaca sok intelek yang tidak mengerti dengan prolog tulisan ini baiknya kalian baca tulisanku berjudul, Pertemuan (1), (2) dan (3) yang dapat kalian temukan di blog ini. Kalau kalian juga tetap tidak mengerti, sudahlah jadi tukang pijat sama pengedar sabu saja kalian kayak si Ong Juliana Gunawan. Dengan begitu, tanpa perlu mematut diri sebagai intelektual berpikiran maju, kalian bisa berkawan dengan elit-elit keren yang senantiasa butuh “duren”. Tetapi sudahlah, kalian mengerti atau tidak, aku tidak pernah peduli. Lagipula dalam dunia yang semakin aneh ini, terkadang kita bebas menulis tanpa perlu dimengerti. Nah, aku lanjutkan cerita petualanganku di dunia antara ini ya.
Eyang Harto hendak menjadikanku sebagai juru bicaranya. Tentu saja aku ngeri membayangkannya, juru bicara di alam kubur; bah, mending dia tawarkan saja pada pengamat-pengamat politik yang syahwatnya begitu tinggi untuk jadi jubir presiden. Jadi aku tinggalkan istana Eyang Harto yang penuh dengan perempuan molek, seksi tanpa bekas kudis itu. Tanpa Si Kancil, aku tidak tahu harus kemana. Aku ingin kembali ke atas sana, tetapi tidak tahu cara kembali. Inginku mencari Si Jon kawan seperjalanan, tidak ada jejak yang bisa ditapaki. Mungkinkah Jon masih berkeliaran di alam barzakh ini, tersesat? Atau jangan-jangan dia sudah kembali ke atas sana dan mulai produksi sinetron bersama Tuan Ram? Aku terus berjalan, tanpa tahu kemana arah tujuan. Hingga dalam hari-hari yang tidak mengenal siang dan malam kecuali pekik yang mengingatkan semakin pendeknya umur dunia di atas sana, aku terdampar pada suatu tempat mirip terminal bus kampung rambutan, tentu saja tanpa Metro Mini, PPD, Kopaja, mikrolet dan tukang copet. “Area Penjemputan”, demikianlah terpampang tulisan dalam bahasa Indonesia (tentu tulisan itu paling bawah, jauh di bawah bahasa-bahasa lain). Awalnya aku tidak mengerti, tetapi setelah aku berkeliling dan membaca dokumen dan pengumuman yang ada, otak yang cerdas ini cepat menangkap. Inilah terminal tempat para penghuni Surga menjemput penghuni neraka yang telah membayar semua dosanya di atas dunia dulu kala dan sekarang berhak memanen pahala mereka di surga.
Continue reading »
Filed under: Kolom Guru Uban
20 Comments »
by e.s. ito ~ November 7th, 2009
Rimba raya gaduh, hewan-hewan berteriak. Buaya merasa tersudut, tiada yang membela tapi mereka juga tidak ingin kehilangan muka. Buaya-buaya nakal tidak mungkin bisa dikeluarkan dari koloni, sebab sudah jadi kesepakatan bahwa kehormatan korps jauh lebih penting dibandingkan kepentingan seisi rimba raya. Kehormatan, ucap raja buaya, sesuatu yang telah diwariskan oleh senior kami. Kehormatan korps buaya adalah mandat yang jauh lebih penting dibandingkan konstitusi rimba raya. Ketimbang terus menerus menerima teriakan dari rimba raya, buaya memutuskan pergi ke tepian rimba. Tidak banyak hewan yang berkeliaran disana, untuk sementara tidak akan ada teriakan dan tuntutan. Pada batas ladang dan rimba, mengalir jernih hulu sungai. Kecipak-kecibung bertalu-talu diiringi suara tawa riuh rendah. Pada batu besar di pinggir sungai, tergeletak seragam-seragam mungil. Murid-murid TK sedang mandi di tepian sungai. Perlahan buaya-buaya turun ke tepian, ingin sejak merasakan segarnya air yang menjadi langka dalam riuh rendah rimba raya. Murid-murid TK yang lugu, mungil dan lucu sontak ketakutan dan bergidik ngeri. Buru-buru mereka berlari menuju batu, tidak ingin menjadi makan siang buaya. Tetapi raja buaya, berteriak menyeru mereka,
“Jangan takut, mari berendam bersama. Kami sedang tidak berselera. Kami sedang butuh teman untuk bercerita. Mari…ayo!”, Murid TK ragu-ragu, sebagian tidak percaya dan langsung cepat-cepat mengenakan baju. Sebagian lainnya menatap dari balik batu. Buaya tidak kehilangan akal, “Tidak banggakah kalian berteman dengan buaya? Ayo coba pikirkan, bukankah berteman dengan buaya akan menjadi cerita menarik di sekolah nantinya? Demi Pencipta Rimba Raya, kami tidak akan memakan kalian” Continue reading »
Filed under: Kolom Guru Uban
17 Comments »
by e.s. ito ~ November 3rd, 2009
Ssst…No!
Tanah ini telah dikutuk. Peradabannya berjalan merangkak tiada mampu mengejar keserakahan yang kencang berlari. Di ujung timur sini, pijar matahari baru dirasakan belakangan, kadangkala tidak sama sekali. Harapan-harapan hanya mampu menjadi bayang-bayang dari tragedi. Dan sadarilah, pada saat akal sehat mulai sirna, tarian suka membahana. Bertabuh gendang mereka merayakan kemenangan. Perut-perut buncit bergesekan disiram anggur dan tuak. Sembari itu, orang-orang berseragam membuang sumpahnya ke tong sampah. Sekarang kita baru mengerti, kenapa begitu banyak sumpah, janji dan kode etik mengikat orang-orang berseragam. Sebab, bajingan seperti mereka memang tidak akan pernah bisa dipercaya. Sumpah bagi mereka hanyalah kata-kata gombal untuk mendaki puncak keserakahan. Hari ini, kita menyaksikan dan merasakan, betapa setelah beratus tahun; seragam-seragam senantiasa salah diberikan kepada hewan-hewan yang hanya kenal perut dan kemaluan. Cukup berikan sekerat daging, mereka akan mendengus siap berbuat sebagaimana titah sang Tuan.
Ssst..No!
Trunojoyo meradang, putera Madura yang gagah melawan penjajah itu terjebak dalam sebuah plang. Disakralkan menjadi nama jalan, tetapi mendapatkan kesucian yang ternoda. Sumpah-sumpah terbuang menjadi sampah, berserakan menutupi plang. Seorang laki-laki galak berkata; kami adalah buaya, lebih buas dari Trunojoyo. Kami adalah Durnoboyo. Penuh siasat layaknya Durna, buas tidak kurang dari buaya”. Durnoboyo 1, Durnoboyo 2, Durnoboyo 3, betapa gagahnya mereka itu. Pahlawan-pahlawan yang punya perisai di balik seragam. Tetapi di negeri terkutuk ini, buaya tidak akan pernah beranjak dari pemikiran primitif tentang perut dan kemaluan. Sekerat daging, bawalah kesana, siapapun yang membawanya layak menjadi pawang. Bagi Durnoboyo, sekerat daging jauh lebih berharga dibanding rasa keadilan. Mereka tahu, begitu banyak kesengsaraan karena ketidakeadilan, tetapi mereka juga sadar semakin mereka menegakkannya maka akan lebih banyak lagi makanan terlewatkan. Dasar buaya, apalagi yang bisa mereka lakukan; berjemur dengan mulut menganga menunggu sekerat daging dari sang pawang. Ssst…No! Tidak boleh menyebut nama, cukup ucapkan Durnoboyo, tiga kali banyaknya. Continue reading »
Filed under: Kolom Guru Uban
12 Comments »
by e.s. ito ~ November 1st, 2009
Sepuluh tahun setelah transisi orde yang berjalan dengan cepat, tentara berwajah galak menyerbu kampus. Anak-anak muda dipaksa untuk berhenti berbicara. Mereka diberi kuliah yang besaran kreditnya melebihi mata kuliah apapun, kuliah tentang cara melihat dan menerima begitu saja. Biarkan orang-orang tua yang mengurus negara, mahasiswa cukup menyaksikan tanpa perlu berkomentar. Pers boleh menulis berita, tetapi berita baik senantiasa harus keluar dari mulut penguasa dan yang buruk-buruk tentu kealpaan rakyat yang tidak mengerti apa-apa. Pada tahun 1978, tepat sepuluh tahun setelah orde yang lama benar-benar terhapus, orang-orang mulai takut berbicara, bayonet terhunus di gerbang kampus, sensor dan bredel jadi cap pos media-media dan tentu saja subversif menjadi menu wajib polisi dan tentara.
Siapakah yang membayangkan sepuluh tahun sebelumnya, keadaan akan menjadi seperti ini. Pada tahun 1968, mereka percaya, seorang anak desa sederhana bisa dipermanenkan kedudukannya menggantikan Pemimpin Besar Revolusi yang penuh ambisi. Seorang putera desa berbaju tentara, bayangkanlah, tiada amarah yang dibawanya tidak pula besar ambisi kuasa. Pada masa itu orang-orang demam dengan tentara berwajah kalem (dan diam-diam melakukan pembunuhan) sembari di muka umum tersenyum dan berkata, kita perlu stabilitas untuk pembangunan. Dia melangkah maju. Pada awalnya suara-suara bebas berkelana, kritik belum menjadi suatu hal yang tercela serta orang-orang tua masih didengarkan. Dia paham akan demokrasi, pemilu diselenggarakan dan pada saat pemenang diumumkan, bukan partai tetapi golongan yang memenangkannya. Ah, betapa rakyat jatuh hati padanya, mereka sudah alergi dengan partai-partai yang berkelahi sepanjang masa demokrasi parlementer. Dan sekarang sebuah golongan pekerja yang memenangkannya, alangkah ajaibnya anak desa yang satu ini. Pembangunan mesti DILANJUTKAN, kita tidak boleh membiarkan anak desa ini pergi begitu saja. Dia terpilih kembali, tentu dia tidak ingin jadi presiden seumur hidup (kecuali rakyat menginginkan dengan sedikit atas petunjuk). Continue reading »
Filed under: Kolom Guru Uban
6 Comments »
by e.s. ito ~ October 25th, 2009
Bohong tidak lagi menjadi syakwasangka. Lihatlah, dia telah menjelma menjadi sesuatu yang nyata. Hal-hal benar yang keluar dari mulut, pahit berduri dan tidak mendapat tempat dalam realita. Inilah yang aneh tetapi tidak baru dalam dunia yang semakin sempit. Pada saat kau berbohong, orang-orang menerimanya karena jelas mereka menyukainya. Dan kau terus berbohong, hingga batas dimana orang-orang bosan dan berkata, “enyah sudah, kami tidak lagi bisa tertawa dengan alasan yang sama”. Lalu kebenaran itu datang tanpa diundang, menusuk perih. Membawa kesadaran yang selama ini hilang dibekap angan, kau sebenarnya hidup sendirian. Tidak ada yang membutuhkan, tiada yang menunggu dan tiada pula yang menanti kau di ujung sana. Lihatlah abu yang diterbangkan angin, tiada tempat yang mau menerima kecuali sementara.
Ada perhentian tanpa tempat menunggu. Kau tetap percaya seseorang akan singgah dari jauh sana. Ada keyakinan fiktif yang terus kau pelihara. Dia akan berhenti walaupun sendiri. Kau akan mendengarkan suaranya walaupun satu kata. Dia akan menatapmu sebagaimana kau mengimpikan tentang orang-orang yang membutuhkanmu. Berbatang-batang rokok memenuhi jalanan membentuk bukit kecil kemalangan. Bertumpuk-tumpuk harapan tetapi punah oleh kehampaan. Inilah hal nyata yang selama ini tidak pernah kau perhatikan, pada kenyataannya tidak seorang pun yang pernah berjanji padamu. Tidak satu yang fana pun menitipkan harapan padamu, kecuali kau menciptakannya dalam imajinasi. Janji dan harapan adalah pengikat kehidupan. Masihkah ada artinya kehidupanmu bila tidak seorang pun menitipkan sesuatu padamu. Abu-abu terbang mencari tempat, tanpa ada yang menanti. Continue reading »
Filed under: Kolom Guru Uban
8 Comments »
by e.s. ito ~ October 20th, 2009
Inilah cerita tentang orang-orang yang kesepian. Duduk di ranting paling tinggi, tanpa dahan penyangga dan pohon yang menjadi tiangnya. Dia menatap jauh ke depan, tiada pemandangan tidak pula ada pengharapan. Dia memandang ke bawah tiada dasar tanpa jurang yang menganga. Di atas ranting paling tinggi dia bergelayutan penuh kekhawatiran tetapi tanpa rasa takut. Beginilah bila hidup tanpa ketakutan, yang ada hanya tawa. Sebab sebagaimana ucap Jorge yang buta, “tawa membunuh ketakutan. Tanpa rasa takut tidak akan ada Tuhan”. Dan inilah ucapku, tanpa Tuhan, ranting-ranting akan terus meninggi tanpa dahan penyangga dan pohon yang menjadi tiangnya. Continue reading »
Filed under: Kolom Guru Uban
9 Comments »